Archive

Posts Tagged ‘rachmat kriyantono’

POST-POSITIVISTIK & MIXED METHODS

Materi ttg post-positivistic & Mixed methods

MIXED METHOD RK

ISLAM NUSANTARA: BERAGAMA TANPA KEHILANGAN IDENTITAS BANGSA

ISLAM NUSANTARA: BERAGAMA TANPA KEHILANGAN IDENTITAS BANGSA

Oleh: Rachmat Kriyantono, PhD

Islam itu sdh jadi & sempurna (QS 5:3). Nusantara sdh jadi. Sdh ada sistem pemerintah & sosial yg mapan, jd super power di era itu (mulai Kutai, Sriwijaya, Singosari, hingga Majapahit), Lakum dinukun waliyadin (toleransi beragama) sdh ada, ekonomi, seni budaya sdh mapan… Seperti diceritakan dlm “negara kertagama” dan Sutasoma.

Trus, Islam masuk. Islam bertemu dg Nusantara. “Sdh jadi bertemu sdh jadi”. Jika salah mengoplosnya (meramunya) mk bs ngga berbentuk. Inilah bijaknya wali songo. Mereka para habaib/sayyid yg menyebarkan Islam. Mereka pintar meramu, jgn sampai Islam mengganggu tatanan sosial yg sdh mapan ini. Islam itu rahmatan lil aalamin, bukan merusak tatanan. Jgn sampai pula syariat Islam tdk jalan. Para wali ini pun mengenalkan Islam dg meramu titah Allah bahwa ‘tdk ada paksaan dlm agama’ (QS 2:256), diramu dg perintah ‘tegakkan amar ma’ruf nahi munkar & fastabiqul khairat’ (QS 3:104, 110), diramu dg ‘umat Islam itu ummatan wasathan (QS 2:143, di tengah menjaga keseimbangan)”, diramu dg “perintah lita’aruf dlm perbedaan” (QS 49:13), diramu dg “dlm berdakwah gunakan bahasa kaumnya” (QS 14:4), diramu dg “perintah tegakkan kalimat tauhid” (QS 7:158; QS 41:6), maka hasil ramuan ini menghasilkan akulturasi yg indah, damai & rahmatan lil aalaamin, yakni menjadikan budaya sbg infrastruktur/instrumen menjalankan syariat. Budaya bukan syariat shg dipilih budaya yg tdk bertentangan dg syariat. Budaya adalah produk interaksi masy nusantara yg tertanam jauh sblm Islam dtg. Shg budaya adalah identitas bangsa. Tanpa identitas tiada kebanggaan. Tanpa kebanggaan suatu bangsa mudah goyah… Inilah Islam Nusantara, suatu cara menjalankan syariat dg tanpa kehilangan jati diri/identitas ke-Indonesia-an kita….

“Jadilah org Indonesia yg beragama, bukan umat beragama yg ada di Indonesia”, shg di manapun kita berada, ke- Indonesia-an ini tetap melekat. Ke-Indonesia-an ini yg bs menjadi perekat satu persaudaraan dlm NKRI…

Islam pun mengajarkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah insaniah (persaudaraan sesama manusia sesama ciptaan Tuhan meski berbeda agama, ras, budaya), dan ukhuwah wathoniah (persaudaraan dlm satu tanah air). “Hubbul waton minal iman”, cinta tanah air sebagian iman, kata Hadratussyech KH Hasyim Asyari pd thn 1916….

Krn itu, penting bagi kita unt pahami sejarah. JASMERAH (JAngan Sekali2 MEninggalkan sejaRAH), kata Bung Karno. Jasmerah ttg penyebaran Islam di nusantara. CakRK.

TEKNIK REFERENCING APA 6TH EDITION

Silakan aplikasikan teknik pengutipan APA 6th Edition dlm segala karya tulis mhs.

1. SISTEM-PENGUTIPAN-Referencing-APA-edisi-6
2. RACHMAT-APA-Referencing

3. https://www.phdfood2019.it/wp-content/uploads/2019/05/APA_Guide_2017.pdf

ECU Referencing Guide
4. https://cpfs.moodle.com.au/file.php/1/Documents/guides/ECU%20Referencing%20Guide.pdf

APA_Guide_2017

Keempatnya adalah sama APA, bedanya: ada yg disajikan singkat dan ada yg lebih lengkap. Harap dipelajari dan diterapkan.

Terima kasih.

Mengenal Riset Komunikasi

Berikut materi tentang mengenal riset komunikasi…..

Sumber:
Rachmat Kriyantono. (2014). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh-Contoh Riset Komunikasi massa, organisasi, public relations, komunikasi pemasaran. Jakarta: Prenada.

MPK-Mengenal Riset Komunikasi

Mudik sebagai sarana komunikasi sosial dan beragama yang khas Nusantara

Mudik sebagai sarana komunikasi sosial dan beragama yang khas Nusantara

Oleh: Rachmat Kriyantono, PhD

Saat Idul Fitri (Lebaran) adalah momen silaturahim dan ukkuwah. Mungkin momen setahun sekali bagi kerabat untuk dapat bertemu setelah sibuk bekerja yang terkadang berjauhan tempatnya. Hal ini membuat wajar jika sebagian masyarakat kita memaknai Lebaran sebagai saling memaafkan, meski semua tahu maaf-memaafkan dapat dilakukan kapan pun (tidak harus menunggu lebaran) dan lebaran pun bukan hanya berisi maaf-memaafkan. Lebaran adalah sarana instrospeksi diri setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan, yakni apakah kita telah memanfaatkan ibadah puasa dengan baik sehingga kembali ke dalam jati diri yang suci (fitri/fitrah) karena mendapatkan ampunan Allah.

Perkembangan teknologi mendorong orang sering maaf-memaafkan secara virtual lewat handphone atau media sosial, tetapi, bertemu langsung tatap muka lebih mampu menstimuli emosi jiwa untuk saling mengasihi. Istilah mudik dan bermaaf-maafan termasuk halal bihalal memang tidak diatur secara langsung/tersurat dalam Al-Qur’an dan Hadits, tetapi, budaya mudik ini sebenarnya adalah wujud ajaran-ajaran Rasulullah untuk menjalin silaturahim (menyambung sesuatu yang terputus dengan dasar kasih sayang). Mudik dilakukan untuk bersilaturahim dengan orang tua, kerabat dan sobat, untuk saling bermaafan, untuk saling membantu (seperti berbagi rezeki uang dan baju ke sanak keluarga), untuk berbakti kepada orang tua, baik yang masih hidup atau meninggal (ziarah kubur). Saat orang tua meninggal, bakti anak diwujudkan dalam bentuk mendoakan agar arwah orang tua diberi kelapangan oleh Allah. Berdoa bisa di mana saja, tetapi, dengan berziarah kubur, selain menjalankan ajaran Rasulullah, juga menjadi nasehat dan pengingat yang paling berharga bahwa kita juga akan menyusul dipanggil Allah.

Mudik merupakan perwujudan ajaran Islam sesuai budaya masyarakat kita. Budaya ini yang sesuai kearifan kita sebagai masyarakat yang “guyub rukun, rukun agawe sentosa-crah agawe bubrah“. Saya kira, budaya ini membangun Islam yang khas Nusantara, yang mungkin tidak ditemui di negara lain. Bagai alat musik, budaya adalah instrumen yang bisa memadukan harmoni musikal jika selaras dengan instrumen lainnya. Keharmonian ini, saya maksudkan bahwa kita pilih budaya yang harmoni atau yang tidak melanggar syariat.

Yang penting, esensi ajaranNya tetap terjaga, yakni menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan baik, menjalankan ajaran silaturahim, ajaran berbagi dan shodaqoh, ajaran berbakti dan mendoakan orang tua, serta tidak mengisi Lebaran dengan berhura-hura. Allah SWT mengajarkan berbuat baik kepada bapak dan ibu dengan memelihara mereka di usia lanjut, berkata baik, tidak boleh membentak, merendahkan diri kepada mereka dan selalu berdoa “Ya Allah sayangilah bapak-ibu seperti mereka menyanyangiku sewaktu kecil” (QS Al-Isra’, 17:23-24). Mudik juga diniatkan berbagi rezeki kepada kerabat, fakir miskin, dan orang yang dalam perjalanan (QS 17-26).

Mudik dan mohon maaf lahir batin selama lebaran, adalah sarana menjalankan ajaranNya. Jika dakwah diartikan kegiatan mengomunikasikan ajaran Islam, sedangkan “communication is culture, culture is communication” (Edward T Hall), maka wajarlah jika Wali Songo berdakwah dengan pendekatan budaya sehingga membuat Islam lebih dapat diterima (tanpa paksaan) oleh masyarakat kita yang saat itu banyak beragama Hindu-Budha dan animisme-dinamisme. Hal ini juga sesuai dengan QS Ibrahim: 4: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka”. “Berbicaralah kepada manusia sesuai kadar akal mereka” (HR Muslim). Itulah mengapa Wali Songo berhasil menyebarkan Islam dengan mengadopsi budaya yang tetap selaras menjaga esensi ajaranNya.

Indahnya mudik untuk menjalankan ajaranNya akan kita rasakan jika kita niatkan silaturahim kepada bapak dan ibu serta sanak kerabat. Jaganlah kita berniatkan mudik untuk pamer diri dan menghamburkan harta untuk hal-hal yang tidak semestinya. Dilarang menghambur-hamburkan harta secara boros. Orang boros itu saudara setan, dan setan selalu ingkar kepada Tuhannya (QS 17:26-27). Jika selama mudik belum dapat berbagi rezeki untuk membantu sanak saudara maka kita diajarkan memberi ucapan yang lemah lembut kepada mereka (QS 17:28), asal jangan pelit dan jangan terlalu pemurah (QS 17-29).

baca juga di Buku saya: Rachmat Kriyantono. (2019). Pengantar lengkap Ilmu Komunikasi: Filsafat dan Etika ilmunya serta perspektif Islam. Prenada Jakarta

Budaya membantu mengasah kehumanisan kita

Pilpres ingin damai? Pilpres terancam kedamaiannya krn banyaknya hoaks, fitnah, caci maki, menghina dan adu domba. Perilaku itu makin meningkat karena perantara medsos. Kok bisa? Hal ini terjadi krn karakteristik medsos yg virtual. Budaya ewuh pakewuh hilang, terjadi jarak sosial dan isolasi sosial krn interaksi dibatasi Handphone. Media internet cenderung mempertajam aspek rasionalitas kita dan mereduksi emosional kemanusiaan kita, yg berpotensi mendorong ego, shg muncul budaya individualistis.. Solusinya adalah kita kembali & jaga budaya interaksi langsung yg guyub, saling sapa, semangat kebersamaan yg tercermin dlm prinsip gotong royong dan ‘mangan gak mangan sing penting ngumpul’. Itulah, para mbah-mbah kita, guru2 kita, kyai-kyai kita mengajarkan budaya ini dlm beragama. Knp dg beragama? Krn sering kali agama menjadi faktor krusial dlm politik kita. Bnyk amalan muamalah yg bersifat menajamkan rasa kebersamaan diajarkan leluhur kita, bahkan diajarkan sejak saat Islam pertama kali masuk di Nusantara, seperti tahlilan, yasinan, sholawatan, tiba’an, istighotsah, megengan, mudik lebaran, salaman setelah sholat jamaah, dzikir bersama, ziarah kubur, maulidan, dll. Bahkan, di sisi lain, amalan-amalan itulah yg membuat Islam diterima di Nusantara dg damai, yg saat itu sdh menjadi negara multi-culture (Candi, tarian, wayang dll), superpower (Majapahit) & multi-religion (Hindu, Budha, Sunda wiwitan dll). Artinya, hanya dg mengadopsi kearifan lokal bangsa kita, ajaran Islam bisa diterima dg damai dan hanya dlm 50 thn bisa tersebar di seluruh Jawa. Para ulama, Habib & Kyai saat itu, tampaknya memegang formula berdakwah Nabi SAW, yakni “Tdk Frontal”, yakni dg menyesuaikan perlahan-lahan budaya setempat. Budaya yg tdk sesuai syariat dihapus dg tdk frontal, bahkan, diadopsi dg penyesuaian syariat. Seperti teori, para ulama, Habib & Kyai menerapkan “komunikasi efektif jika sesuai dg frame of reference & Field of Experiences masyarakat Jawa..Amalan-amalan yg scr syariat jg ada dalilnya. Kebiasaan yg turun-temurun ini mengajarkan rasa kebersamaan, saling menerima, menghormati, ngumpul bareng, senyum, sapa, guyonan, guyub, serta saling memberi… Budaya bersifat humanis, agama bersifat humanis. Perpaduan keduanya membuat jiwa humanis makin terasah dlm diri kita. Budaya adalah pewarna komunikasi agar indah & humanis, komunikasi bikin budaya hidup berkembang, dan komunikasi adalah lem perekat interaksi. “Waddin al-muamalah”, kata Nabi SAW, “agama adalah interaksi”…………

AGAMA ITU ILMIAH, TAUHID ADALAH GRAND-THEORY ILMU PENGETAHUAN

Agama itu bersifat ilmiah dan karenanya menjadi grand-theory semua ilmu pengetahuan manusia. Dalam Islam, grand-theory ini adalah tauhid. Dalam ilmu komunikasi, misalnya, komunikasi tauhid adalah grand-theory ilmu komunikasi. Disebut ilmiah bermakna bahwa semua kriteria kebenaran ilmu, seperti Teori korespondensi (Bertrand Russell, John Locke, David Hume) dengan konsep empirismenya; Koherensi (Aristoteles, Descartes, Spinoza) dengan konsep rasionalismenya; Metafisik (Guba & Lincoln) & Pragmatisme (Charles Pierce, John Dewey), sdh dikandung Al-Qur’an, bahkan sebelum para pakar itu memahaminya.

Contoh:

Apakah hari Kiamat itu ilmiah? Hari Kiamat adalah ilmiah karena mengandung semua teori kebenaran ilmu tersebut. Fenomena Hari Kiamat bukan hanya kebenaran metafisik, tetapi juga mengandung kebenaran korespondensi, konsistensi, dan pragmatis. Muslim mempercayai dua jenis kiamat, yakni kiamat besar (kubro) dan kiamat kecil (sughro). Kiamat kecil, yakni meninggal dunia (QS Al-Hijr, 15: 5, 99; An-Nahl: 70) atau Tidak ada makhluk yang hidup abadi karena setiap bernyawa akan merasakan mati (QS Al-Anbiya’, 21: 34-35; Al-‘Ankabut, 29:57) dan manusia diciptakan dan dimatikan (QS Al-Hajj, 22: 5-6), bencana alam atau musibah, seperti musnahnya umat-umat terdahulu, yaitu kaum Nuh, ‘Ad, Samud dan lainnya (QS Ibrahim, 14:9; Al-Furqan, 25: 35-40; Asy-Syu’ara’, 10-190) adalah berkorespondensi (bukti nyata) dengan ayat-ayat tentang kiamat dan memiliki konsistensi antar ayat-ayat tentang kebenaran kiamat (antara lain, QS 14:21: manusia dikumpulkan di hadapan Allah di Padang Mahsyar; QS 15: 85: Kiamat pasti datang; QS An-Nahl, 16: 1: ketetapan Allah, yakni tentang Hari Kiamat, pasti datang; QS An-Nahl: 27-34; QS Al-Isra’ 17: 13-15 dan Al-Kahf: 49 tentang dibukanya catatan-catatan perilaku manusia secara terbuka di hari Kiamat untuk dihitung; QS Al-hajj, 22: 1-17: bercerita tentang bukti-bukti kebenaran hari Kiamat; QS Al-Qiyamah, 75: 1-40: bercerita tentang kejadian yang akan dialami manusia di Hari Kiamat; QS Al-Qari’ah, 101: 1-11 tentang proses terjadinya kiamat; QS Al-‘Ankabut, 29:5 tentang kiamat adalah waktu pertemuan dengan Allah dan waktunya pasti datang); Dari bumi Kami ciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu untuk dikuburkan dan darinya Kami akan membangkitkan kamu pada kali yang lain (QS Thaha: 55). Jadi, meskipun kiamat besar belum terjadi, tetapi, kebenaran korespondensi dan konsistensi sudah terbukti. Semuanya juga mengandung kebenaran pragmatis, yakni bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kiamat mengandung manfaat bagi manusia untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan dan selalu beribadah kepadaNya dengan baik untuk mensyukuri anugerahNya (Baca QS Al-Maidah: 48). Berlomba-lomba dalam kebajikan ini juga konsisten dengan isi QS Thaha: 15, yakni Allah merahasiakan hari kiamat yang pasti datang agar manusia dibalas sesuai dengan usaha yang telah dilakukan (berbuat baik atau buruk).

Agama itu ilmiah….
dan Kitab Suci (Al-Qur’an) itu bukan fiksi

Wallahu ‘a’lam bishowab
Rachmat Kriyantono, PhD

Konsep “Berpikir” dalam perspektif Agama dan Ilmu

Agama telah mengajarkan manusia untuk berpikir, menggunakan akal pikirannya. Islam misalnya, sdh mengajarkan manusia berpikir, bahkan jd ayat pertama, iqra. Beberapa ayat lain pun Allah menyuruh manusia unt memahami, berpikir, menggunakan akalnya, agar bs paham KuasaNya. Contoh: terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (Al-Jasiyah, 45:3-5); Nah batasan berpikir dlm Islam: (1)  cara berpikir at cara iqra’ nya hrs bismirobbikalladzi khalaq, hrs sesuai fitrah Tuhan yg suci. Fitrah Tuhan itu terkandung pd semua ayat Quran, termasuk ayat ttg berpikir itu sendiri. Fitrah Tuhan yg suci ini adalah Haq…bukan fiksi. Manusia sbg makhluk berpikir adalah fitrah Tuhan. Agar fitrah ini berjalan baik mk manusia jg diberi fitrah lain, yakni makhluk beragama (homo religious). Hanya dg inilah maka iqra bismirobbikalladzi khalaq dpt dilakukan….. Jd, yg seharusnya adalah bukan aku berpikir maka aku ada” (kata Rene Descartes), tapi, “aku berpikir yg bismirobbi mk aku ada”…. Bahkan mengacu QS 2:30-34 bs jg “aku ada mk aku berpikir/iqra”, kedua pernyataan dari saya ini berdasar kenyataan bahwa innate idea, yg dibawa-besarkan Descartes, sebenarnya ide2 pemberian Tuhan, bukan tiba2 ada. Tuhan memberi meski hanya sedikit (QS 17), shg rasionalitas manusia tetap hrs di bawah rasionalitas ketuhanan. (2). Manusia hanya bisa berpikir ttg makhluk Allah, tdk bs berpikir ttg dzat Allah ((QS 3:190-191). Allah tidak memerintahkan manusia berpikir tentang dzat dirinya. Hal ini bisa dimaklumi karena (i) Allah adalah sang pencipta segalanya (khaliq), yang berbeda dengan segala sesuatu dan tidak ada yang serupa dengan Dia. Tidak ada satu konsep pun yang bisa digunakan rasio manusia untuk bisa menggambarkan dzat Allah ini. Manusia hanya diberikan penjelasan tentang dzat Allah, antara lain di QS 112:1-4 (Allah itu Esa, tempat meminta, tidak beranak dan diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan Dia); (ii) Sebagai makhluk, manusia tidak akan mampu berpikir tentang sang penciptanya karena jangkauan pikiran manusia terbatas. Segala upaya menggambarkan dzat Allah akan jatuh pada penjelasan spekulatif yang tidak jelas dan bisa menyesatkan. Pemikiran tokoh rasionalisme Spinoza yang meyakini bahwa “God exists only philosophically” (Calhoun, 2002 dikutip di Endraswara, 2012, h.59), yang bermakna hanya akal pikiran kita yang dapat menjangkau keberadaan-Nya, telah menjauhkan diri kita untuk mengamati secara langsung alam semesta sebagai sarana menemukan keagungan-Nya. “Berpikir” juga diajarkan dalam kitab suci yang lain. Al-kitab misalnya, mengajarkan di Lukas 12:54.

Jadi, kitab suci itu riil dan empiris, bukan fiksi atau fiktif. Tetapi, konsep empiris ini berbeda dg empirisme filsafat Barat. Jika cara berpikir versi Islam di atas (no 1 dan 2) ini kita lakukan maka kita semakin dekat kpd Nya. Agama dan ilmu adalah kesatuan, tdk boleh dipisah krn keduanya fitrah manusia. Wallahu a’lam bisshowab. CakRK.

Tunggu terbitnya buku saya Pengantar Lengkap Komunikasi: Filsafat, etika & perspektif Islam.

Ilmuwan Indonesia ilmuwan agamis

Oleh: Rachmat Kriyantono, PhD

Di tulisan ini, saya sampaikan tentang pentingnya pemahaman tentang keterkaitan ilmu dan agama. Hanya saja, saya sampaikan secara khusus dalam perspektif Islam, agama yang saya lebih memahaminya daripada agama yang lain. Bagi yang ingin mengaji dari perspektif agama selain Islam, silakan mempelajarinya sesuai dengan agamanya masing-masing. Tetapi, intinya, saya ingin sampaikan bahwa agama adalah basis teoritis atau grand theory segala ilmu yang dipelajari manusia.

Islam memiliki bnyk filsuf/ilmuwan yg memadukan akal, tasawuf dan nilai2 agama, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, ar-Razi, al-Kindi, ibnu Rusyd, al-Gozali, dll. Tdk sedikit yg dijadikan panutan bangsa Eropa. Bahkan, pemikiran ibnu Sina dan ibnu Rusyd, menurut Amstrong (2006), telah mendorong munculnya Renaissance di Eropa. Ibnu Sina pun dsb Avecena dan ibnu Rusyd dsb Averose. Ibnu Sina adalah penemu sistem peredaran darah sebelum dunia meng-klaim sbg temuan William Harvey (as-Sirjani, 2011). Sebelum Durkheim menemukan social cohessive, ibnu Khaldun menemukan Assabieh. Konsep assabieh ini yg sesuai ajaran Nabi SAW bahwa adin al mu’malah, agama adalah interaksi. Mestinya Khaldun dsb bpk sosiologi, bukan Durkheim (Ritzer & Godman, 2009). Semua Pemikir Islam tsb telah aplikasikan perintah Qur’an: “iqra bismirobbikalladzi khalaq” (bacalah/pelajarilah dg tetap atas nama Tuhanmu).
Pemikir muslim tsb yg mesti dijunjung dan dijadikan panutan muslim. Bukan menjunjung org yg memisahkan rasionalitasnya dg radionalitas Tuhan. Ilmu adalah agamis dan agama adalah ilmiah. Yg terjadi malah membela mati-matian filsuf yg pemikirannya acap kali menjauh dari prinsip ketuhanan, sekuler, yg bahkan berucap kitab suci adalah fiksi, serta sering bersikap solipsistik (kecongkaan intelektual, menganggap lbh pintar dr yg lain). Tdk sedikit yg memperlakukannya bagai ulama agama yg ucapannya diamini dg takbir. Apakah hanya krn ucapannya mendukung kepentingan politikmu?

Benar kata ibnu Rusyd: “agama bs membuat kejelekan menjadi “kebaikan”. Itu hanya terjadi, jika agama yg suci dijadikan pembungkus kepentingan duniawi. Mari, kita panuti ilmuwan yg “bismirobbikalladzi khalaq” dlm ber-“iqra” menghasilkan ilmu. Krn kata Nabi SAW: “tiada berilmu org yg tdk bermoral/ber-adab”, dan dasar segala moral adalah moral ketuhanan. “Ilmu berawal dari adab yg membawa pd amal” (Kamaludin, 2015). CakRK.

Baca jg di buku saya: Pengantar Lengkap Komunikasi: Filsafat dan Etika ilmu serta Perspektif Islam.

CONTOH LATAR BELAKANG MASALAH