Archive

Posts Tagged ‘teori public relations’

History of PR (The growth of PR)

This is my presentation about the growth of PR. PR is not just social activities & practice, it is also scientific study. Please read also my book Teori PR Perspektif Barat dan Lokal: Aplikasi Penelitian dan Praktik, Prenada.

2-The History of Public Relations BARU

BEDAH BUKU TEORI PUBLIC RELATIONS

September 18th, 2014 No comments

Ini adalah kegiatan bedah buku Teori Public Relations. Termasuk materi dari saya dan pembedah buku. Silahkan download di sini:

Kul umum-Buku TEORI PR

Fikri

DSCN0001 DSCN0003

PERLUNYA PERSPEKTIF INDONESIA UNTUK TEORI PUBLIC RELATIONS

DOMINASI PERSPEKTIF BARAT DALAM KAJIAN PUBLIC RELATIONS

Oleh: Rachmat Kriyantono, Ph.D (Jurusan Komunikasi UB Malang)

Saya terbitkan juga di buku ini:    cover Teori PR

(Nantikan tulisan lengkap saya di buku ke 6 saya: “Teori Public Relations Perspektif Barat dan Indonesia: apliasi dalam penelitian dan praktik”, terbit thn 2014, Penerbit Prenada Jakarta. Ini adalah buku pertama yg membahas topik ini dan buku pertama di Indonesia yg membahas “Teori Public Relatios” yg benar2 teori). Melalui buku ini, saya mendorong upaya penggunaan kearifan lokal -bukan hanya perspektif barat- dlm menjelaskan fenomena PR.
Teori-teori public relations yang saya tulis di bab sebelumnya bersumber dari kajian-kajian yang dilakukan ilmuwan Barat, yaitu Amerika dan Eropa Barat. Dengan demikian, perspektif yang muncul dan menjadi landasan filosofis pengembangan teori adalah perspektif Barat. Artinya, fenomena public relations yang merupakan bagian dari fenomena komunikasi dikaji dengan menggunakan kacamata atau ukuran Barat, dan dianggap berlaku universal. Sifat universal ini menganggap bahwa teori-teori yang dihasilkan berlaku dalam berbagai konteks tanpa memandang perbedaan geografis, budaya, ideologi atau landasan filosofis dari berbagai unit sosial yang beragam.
Saya beranggapan bahwa aplikasi teori public relations tidak secara otomatis berlaku universal, dengan alasan: (i) Setiap ilmu, termasuk teori di dalamnya, memiliki objek formal yang merupakan telaah khas dari masing-masing ilmu itu. Selain, membedakan bahasan dengan bidang ilmu lainnya, telaah khas ini bermaknakebenaran telaah tersebut sangat dipengaruhi norma-norma dan ukuran masyarakat itu. Dengan demikian setiap filsafat ilmu akan memperlihatkan filsafat masyarakat tempat ilmu tersebut mengabdi. Teori yang sama akan berbeda aplikasinya dalam sistem masyarakat yang berbeda. Jadi, pemikiran filsafati pada sebuah ilmu dapat berbeda –meskipun ilmunya sama, tergantung filsafat negara tempat ilmu itu berkembang. Contoh: Teori Pers, mengenal pers liberal di negara barat, komunis (Cina), maupun pers bebas bertanggung jawab (Indonesia) (Kriyantono, 2012e).(ii) Teori merupakan representasi fenomena tetapi tidak dapat menjelaskan fenomena secara lengkap. Teori menjelaskan konteks ideologi, budaya atau karakteristik masyarakat tertentu dan mengabaikan yang lainnya(baca lagi bab 1).
Teori-teori yang dijabarkan di buku ini mempertegas hegemoni akademisi barat terhadap timur. Dunia barat pun menjadi pusat episentrum pengembangan kajian public relations yang berdampak pada penggunaan kacamata tunggal dalam memahami fenomena public relations di Indonesia. Dominasi perspektif barat ini disebabkan:
a. Ketertinggalan pendidikan di Indonesia akibat praktik imperialisme. Imperialisme ini memengaruhi pola pikir dan budaya yang tidak kondusif terhadap upaya pengembangan ilmu. Misalnya, kebebasan berpendapat yang sangat penting bagi kajian ilmiah dikekang selama ratusan tahun oleh imperialis;
b. Sistem politik kekuasaan otoriter yang juga membelenggu kebebasan akademik sampai era orde baru. Demi tujuan pelanggengan kekuasaan, penguasa membatasi pemikiran-pemikiran yang dianggap mengganggu stabilitas negara (baca: stabilitas kekuasaan);
c. Budaya akademik yang belum bangkit untuk berkembang, seperti belum banyaknya publikasi ilmiah, baik nasional maupun internasional;
d. Penguasaan teknologi komunikasi dan bahasa Inggris oleh negara barat sebagai alat vital diseminasi kajian keilmuan. Ilmu Komunikasi berkembang di negara barat, kemudian kerena mereka juga menguasai teknologi maka lebih memudahkan penyebarannya ke negara lain;
e. Banyaknya sarjana Indonesia yang melanjutkan studi ke negara barat, seperti Australia, Amerika, Inggris atau Jerman sehingga membuat penggunaan perspektif negara barat makin besar.

Seperti ditulis di bab sebelumnya, teori adalah representasi dari fenomena dan sebuah fenomena dimungkinkan tidak secara tuntas dikaji dalam satu perspektif. Pentingnya perspektif lokal Indonesia untuk kajian komunikasi dikarenakan: (i) Demi pembahasan yang komprehensif dan “insight”/persepsi yang lebih mendalam untuk mengkaji fenomena dengan berbagai perspektif;(ii) Fenomena public relations yang terjadi dalam konteks Indonesia perlu dikaji dalam perspektif lokal yang disesuaikan dengan nilai-nilai budaya sekitar;(iii)fenomena public relations di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari konteks kelokalannya, seperti budaya, sistem sosial, politik, ekonomi, dan falsafah masyarakatnya; (iv) Karakteristik lokal ini bukan hanya menarik perhatian ilmuwan Indonesia, tapi juga ilmuwan barat…………..

PUBLIC RELATIONS: KEARIFAN JAWA UNTUK “MANAGING BY WALKING AROUND”

Komunikasi “Blusukan, Sambung roso, gethok tular” dalam praktik PR

Oleh: Rachmat Kriyantono, Ph.D

 

Ikuti serialnya di buku saya yg terbaru “Teori Public Relations Perspektif Barat dan Timur: Aplikasi dalam penelitian &  praktik”, diterbitkan oleh Prenada Media Jakarta, 2014

cover Teori PR.

Agar bisa melaksanakan fungsinya (menciptakan sistem komunikasi yg baik; melayani kepentingan publik; menjaga moralitas dan perilaku organisasi), maka public relations mesti diberi kesempatan melaksanakan peran manajerial (ikut serta dalam upaya manajemen isu & alternatif solusinya; fasilitator komunikasi antara manajemen & publik dan sebaliknya; fasilitator pemecahan masalah (Lattimore, dkk, 2007, h.53; White & Dozier, 1992, h.104). Salah satu upaya sebagai fasilitator komunikasi adalah mengobrol dan berdiskusi secara langsung dengan karyawan untuk menampung keluh kesah dan opini karyawan. Diharapkan muncul jalinan komunikasi dua arah yang terbuka sehingga bisa melokalisir permasalahan yang ada. Kegiatan mengobrol secara dekat dengan karyawan ini dalam konsep barat dikenal dengan “managing by walking around”. Dalam perspektif lokal, masyarakat Jawa telah mengenalkan konsep komunikasi “blusukan”, yaitu berkomunikasi face to face dengan mendatangi secara langsung publiknya. Ada kedekatan personal –tidak ada jarak fisik- sehingga bisa mendekatkan jarak psikologi, ada komunikasi “sambung roso” (sambung rasa, dari hati ke hati) yang menimbulkan ikatan emosi (empati) yang kuat. Komunikasi “blusukan” ini juga perwujudan adanya prinsip kebersamaan tanpa beda status “manunggaling kawula gusti”, yang dalam perspektif barat disebut “walking in the shoes of the public.” Melalui blusukan, public relations bisa gethok tular (word of mouth communication) secara langsung informasi dari manajemen sehingga meminimalkan salah persepsi. Selain itu, public relations bisa menyetop rumor yang memang tersebar cepat melalui gethok tular dari orang ke orang. Upaya gethok tular ini penting untuk menangakal rumor berdasarkan prinsip “lawanlah informasi dengan informasi”.

Bagi karyawan, komunikasi sambung rasa ini dapat dimaknai bahwa organisasi “nguwongke”, yaitu menempatkan karyawan bukan dalam konteks hubungan kerja rasional yang berdasarkan untung-rugi, tetapi, menempatkan karyawan sebagai mitra yang tidak terpisahkan dalam operasional organisasi. Budaya Jawa mengajarkan curiga manjing warangka, warangka manjing curiga”, pemimpin perlu memahami aspirasi bawahan, mengenal dengan baik kondisi bawahan, dan mau menyantuni mereka dengan baik. Sebagai sebuah “corpus”, organisasi bagaikan sebuah keluarga yang harus saling memperhatikan, mempercayai, mengasihi, dan saling menjaga antaranggotanya (ingat konsep asah, asih, asuh di atas). Setiap anggota organisasi harus saling mengingatkan agar tidak ada yang bertindak salah, sewenang-wenang atau melanggar aturan, yang akhirnya bisa menjatuhkan organisasi keseluruhan. Saling mengingatkan mencakup upaya berbagi dan saling menampung keluh kesah sekaligus berupaya menyelesaikan masalah. Diharapkan, masalah dapat diselesaikan antaranggota dan tidak sampai dilaporkan ke media massa. Sebisa mungkin, anggota organisasi bisa menjaga nama baik anggota lain dan organisasi, seperti konsep Jawa “mikul dhuwur, mendhem jero(menjunjung tinggi kebaikan orang tua dan merahasiakan semua keburukannya; “orang tua” dalam konteks organisasi luas pengertiannya: bisa mencakup pimpinan, karyawan yang lebih tua, dan seluruh anggota organisasi) atau kearifan Madura “ja’ metta’ buri’ etengnga lorong (jangan memperlihatkan pantat di jalan raya; pantat diartikan sebagai rahasia yang harus dijaga).

 

Komunikasi “blusukan” dapat efektif menghasilkan kondisi sambung rasa, maka perlu memperhatikan dengan cermat semua komponen komunikasi.  Bagaimana strateginya? Ikuti serialnya di buku saya yg terbaru “Teori Public Relations Perspektif Barat dan Timur: Aplikasi dalam penelitian & praktik”, insya allah terbit di bulan depan, diterbitkan oleh Prenada Media Jakarta.