Archive

Posts Tagged ‘sambung roso’

PUBLIC RELATIONS: KEARIFAN JAWA UNTUK “MANAGING BY WALKING AROUND”

Komunikasi “Blusukan, Sambung roso, gethok tular” dalam praktik PR

Oleh: Rachmat Kriyantono, Ph.D

 

Ikuti serialnya di buku saya yg terbaru “Teori Public Relations Perspektif Barat dan Timur: Aplikasi dalam penelitian &  praktik”, diterbitkan oleh Prenada Media Jakarta, 2014

cover Teori PR.

Agar bisa melaksanakan fungsinya (menciptakan sistem komunikasi yg baik; melayani kepentingan publik; menjaga moralitas dan perilaku organisasi), maka public relations mesti diberi kesempatan melaksanakan peran manajerial (ikut serta dalam upaya manajemen isu & alternatif solusinya; fasilitator komunikasi antara manajemen & publik dan sebaliknya; fasilitator pemecahan masalah (Lattimore, dkk, 2007, h.53; White & Dozier, 1992, h.104). Salah satu upaya sebagai fasilitator komunikasi adalah mengobrol dan berdiskusi secara langsung dengan karyawan untuk menampung keluh kesah dan opini karyawan. Diharapkan muncul jalinan komunikasi dua arah yang terbuka sehingga bisa melokalisir permasalahan yang ada. Kegiatan mengobrol secara dekat dengan karyawan ini dalam konsep barat dikenal dengan “managing by walking around”. Dalam perspektif lokal, masyarakat Jawa telah mengenalkan konsep komunikasi “blusukan”, yaitu berkomunikasi face to face dengan mendatangi secara langsung publiknya. Ada kedekatan personal –tidak ada jarak fisik- sehingga bisa mendekatkan jarak psikologi, ada komunikasi “sambung roso” (sambung rasa, dari hati ke hati) yang menimbulkan ikatan emosi (empati) yang kuat. Komunikasi “blusukan” ini juga perwujudan adanya prinsip kebersamaan tanpa beda status “manunggaling kawula gusti”, yang dalam perspektif barat disebut “walking in the shoes of the public.” Melalui blusukan, public relations bisa gethok tular (word of mouth communication) secara langsung informasi dari manajemen sehingga meminimalkan salah persepsi. Selain itu, public relations bisa menyetop rumor yang memang tersebar cepat melalui gethok tular dari orang ke orang. Upaya gethok tular ini penting untuk menangakal rumor berdasarkan prinsip “lawanlah informasi dengan informasi”.

Bagi karyawan, komunikasi sambung rasa ini dapat dimaknai bahwa organisasi “nguwongke”, yaitu menempatkan karyawan bukan dalam konteks hubungan kerja rasional yang berdasarkan untung-rugi, tetapi, menempatkan karyawan sebagai mitra yang tidak terpisahkan dalam operasional organisasi. Budaya Jawa mengajarkan curiga manjing warangka, warangka manjing curiga”, pemimpin perlu memahami aspirasi bawahan, mengenal dengan baik kondisi bawahan, dan mau menyantuni mereka dengan baik. Sebagai sebuah “corpus”, organisasi bagaikan sebuah keluarga yang harus saling memperhatikan, mempercayai, mengasihi, dan saling menjaga antaranggotanya (ingat konsep asah, asih, asuh di atas). Setiap anggota organisasi harus saling mengingatkan agar tidak ada yang bertindak salah, sewenang-wenang atau melanggar aturan, yang akhirnya bisa menjatuhkan organisasi keseluruhan. Saling mengingatkan mencakup upaya berbagi dan saling menampung keluh kesah sekaligus berupaya menyelesaikan masalah. Diharapkan, masalah dapat diselesaikan antaranggota dan tidak sampai dilaporkan ke media massa. Sebisa mungkin, anggota organisasi bisa menjaga nama baik anggota lain dan organisasi, seperti konsep Jawa “mikul dhuwur, mendhem jero(menjunjung tinggi kebaikan orang tua dan merahasiakan semua keburukannya; “orang tua” dalam konteks organisasi luas pengertiannya: bisa mencakup pimpinan, karyawan yang lebih tua, dan seluruh anggota organisasi) atau kearifan Madura “ja’ metta’ buri’ etengnga lorong (jangan memperlihatkan pantat di jalan raya; pantat diartikan sebagai rahasia yang harus dijaga).

 

Komunikasi “blusukan” dapat efektif menghasilkan kondisi sambung rasa, maka perlu memperhatikan dengan cermat semua komponen komunikasi.  Bagaimana strateginya? Ikuti serialnya di buku saya yg terbaru “Teori Public Relations Perspektif Barat dan Timur: Aplikasi dalam penelitian & praktik”, insya allah terbit di bulan depan, diterbitkan oleh Prenada Media Jakarta.