Archive

Posts Tagged ‘public relations writing’

teknik menulis untuk jurnal internasional (Writing technique for international journal)

workshop penulisan jurnal -FISIP 2016

This is my paper presented at “workshop wrting for international journal”, held by FISIP Universitas Brawijaya, 29 August 2016. Please find the paper. The paper also suitable for students who want to write scientific work such as skripsi, thesis or dissertasion.

 

 

MERENCANAKAN KAMPANYE PUBLIC RELATIONS

September 10th, 2014 No comments

Saya tulis tips-tips merencanakan kampanye public relations. Kampanye adalah wahana agar organisasi menyebarkan ide atau gagasan kepada khalayak sasaran. Kampanye juga wahana publisitas media yang berguna dalam pembentukan citra positif di mata publik.

Silahkan download di sini:

SEKILAS TENTANG PERENCANAAN KAMPANYE baru

PUBLIC RELATIONS: INFORMASI LAWAN DENGAN INFORMASI

Informasi dilawan dengan informasi

Oleh: Rachmat Kriyantono, Ph.D

 Download PDF: Informasi dilawan dengan informasi

            Beberapa kali penulis jumpai kasus sengketa antara Humas dengan media, berkaitan dengan pemberitaan media. Kasus yang menyangkut isi pemberitaan media biasa disebut delik pers. Dalam beberapa kasus, seringkali pihak Humas lembaga publik memilih untuk menempuh jalur hukum (mensomasi) dengan tuntutan atas pencemaran nama baik. Selain kasus Prita, ada contoh menarik yang terjadi beberapa tahun lalu, yaitu kasus meninggalnya siswa STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri).

            Kasus ini bermula saat stasiun televisi SCTV memberitakan peristiwa terbunuhnya seorang siswa (praja) Sekolah Tinggi  Pemerintahan Dalam  Negeri (STPDN). Peristiwa ini bermula dari acara orientasi siswa baru yang biasa dilakukan senior kepada juniornya. Namun dinilai kebablasan sehingga membuat si junior meninggal dunia (dipukuli, dikeroyok). Atas ditayangkannya peristiwa itu, Humas STPDN keberatan dan melayangkan somasi kepada SCTV.

   Ini adalah contoh manajemen krisis yang tidak tepat. Menurut penulis langkah mensomasi media tersebut tidak tepat. Hal ini akan memperburuk persoalan, apalagi berita tersebut dilengkapi tayangan audio-visual sehingga jelas faktanya. Efek tayangan itu adalah opini publik sudah terbentuk. Dengan mengajukan somasi berarti Humas dapat dianggap: a) Berkelit, tidak jujur dan tidak terbuka mengakui fakta sebenarnya. Ini bisa dikarenakan Humas lebih berdiri di pihak pimpinan lembaga; b) Berkonfrontasi langsung vis a vis dengan media. Ini fatal, karena SCTV tentu tidak sendirian. Ia akan didukung oleh jurnalis lainnya. Humas dianggap tidak menghormati tugas profesi jurnalis dan melanggar kebebasan pers; c) Mengalihkan persoalan. Seharusnya Humas menyelesaikan persoalan pokok yaitu adanya siswa yang terbunuh. Konfrontasi dengan media berarti mencari masalah baru.

            Seharusnya yang dilakukan Humas adalah mengakui bahwa ada siswa yang meninggal dunia, meski mengenai penyebabnya Humas dapat mengatakan “belum dapat menyampaikan sekarang karena masih dalam penyelidikan lebih lanjut, nanti anda pasti memperoleh informasi detailnya”. Jika tayangan berita SCTV itu tidak benar, maka Humas dapat mengklarifikasinya. Caranya, dengan menggelar konperensi pers atau membuat letters of denial (surat klarifikasi) kepada media, Humas dapat menggunakan hak jawab di media atau jika tidak puas bisa mengadukan kepada Dewan Pers.

            Langkah-langkah di atassudah diatur secara detail dalam UU no 40/1999 tentang Pers pasal 5 dan 15. Pasal 5 mengatur bahwa media wajib memberikan hak jawab dan hak koreksi kepada pihak-pihak yg tidak puas atas pemberitaan. Hak jawab adalah hak untuk memberikan informasi untuk menjelaskan atau menyanggah berita yang dianggap tidak benar yang dimuat media. Pasal 15 mengatur tentang penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus pemberitaan yang dimediasi oleh Dewan Pers. Prinsipnya, “lawanlah informasi dengan informasi pula.” Tentu, pihak media pun mesti juga legawa jika memang bersalah. Media mesti memberikan porsi yang cukup saat memuat hak jawab/hak koreksi, yaitu di kolom atau halaman yang sama saat memuat pemberitaan yang dianggap tidak benar. Bila perlu, media dengan jantan menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan yang telah dilakukannya. Diharapkan akan muncul win win solution di antara kedua pihak..

            Kasus di atas sering terjadi dalam konteks hubungan Humasdan media. Kasus tersebut bisa berdampak buruk terhadap kualitas hubungan. Seperti disampaikan terdahulu, meski saling membutuhkan namun tetap ada perbedaan kepentingan antara humas dan media yang membuat terkadang bermusuhan. Media terkadang tidak percaya dan merasa ditipu oleh Humas atau terkadang Humas jengkel dengan cara media mencari dan menulis berita.

            Namun apa pun alasannya, Humas tetap dituntut membangun relasi kondusif dengan media demi citra perusahaan. Meski dalam realitasnya –seperti kasus STPDN di atas- pimpinan dan manajemen dan bahkan jurnalis tidak memahami peran Humas sebagai penghubung dalam membangun dan menjaga hubungan media. Bagi perusahaan, hubungan media haruslah dipandang sebagai investasi jangka panjang. Perusahaan yang mengerti profesi wartawan (memudahkan dan melayani pekerjaan wartawan), akan memetik manfaatnya bukan hanya sekarang tapi juga dalam jangka panjang.

 

(Anda juga bisa membaca deskripsi detail tentang media relations di buku saya: Public Relations Writing: Teknik Produksi Media PR dan Publisitas Korporat, Edisi 2 cet 3, Prenada Media Jakarta, 2012)

Five Books of Mine

IMG_8118

Critical Public Relations adalah perspektif baru yang belum banyak berkembang di Indonesia. Buku ini hadir sebagai referensi baru kajian pendekatan kritis pada Public Relations dan Manajemen Krisis, seperti:

  1. Isu & Crisis Management: Teori dan Praktik
  2. Public Relations Kritis (Critical Public Relations)
  3. Riset Public Relations & Crisis Management
  4. Metode Riset Kualitatif, Etnografi Konvensional & Etnografi Kritis disertai contoh
  5. Sosialisasi Teori: Situational Theory of the Public & Situational Crisis Communication Theory
  6. Studi Kasus Etnografi Kritis & dilengkapi riset-riset dari berbagai jurnal internasional

Komentar beberapa pakar ttg buku ini:

“Dr. Rachmat’s works at the current edge of public relations work and its application in what is arguably one of the first insights into the dynamics of public relations & crisis management in Indonesia. Using his own fieldwork studies, the author provides a rich account of the dynamics of a major and still unresolved crisis in Indonesia, in an era where information. He provides a compelling picture of the complexities, tensions and trade-offs involved between the powerful and the powerless and the role, ethical and otherwise, that public relations plays in this heart-breaking real-life examples.”

Prof. Mark Balnaves (Professor & Senior Research Fellow of New Media Curtin University, Australia)
===============================

“Dr Kriyantono’s work is a major contribution to the study of Public Relations. In particular it offers, for students and practitioners alike, for example, an insight into an understanding of the important issue of crisis management within this field of Public Relations.”

Dr. Dennis Wood (Course Coordinator – Communications Foundation Year Edith Cowan University, Australia)

                                                 ================================

“Rachmat has completed a detailed examination of a complex natural disaster. He examines how theories of public relations issues and crisis management, corporate social responsibility and risk management collide with community expectations and cultural social realities. The author raises questions of the influence of power and he discusses how perceptions and the seeming realities can change as different disciplines are brought to bear on the same evidence and as social attitudes and cultural understandings are put under extreme pressure. This book is important in its study of the impact of resource development and subsequent disaster in a closely settled region where traditional values are paramount”

Associate Professor Kevin Smith (Lecturer of Public Relations, School of Communication, ECU, Australia)

“Critical ethnography is not often used in public relations scholarship so this approach is a welcome addition to the field.The approaches and methods used in this study are appropriate for responding to the research question and offer fresh perspectives in understanding the processes and challenges of crisis communication in international, specifically Asian, contexts.

Marianne D. Sison, Ph.D, FPRIA

(Deputy Dean, International School of Media and Communication, RMIT Merlbourne-Australia)

   In summary, this book significantly adds of the discipline of Communication, particularly the application of critical ethnography in the field area of Public relations and crisis management. The research in this book will also become a potential example for research in the field area studied, since I acknowledge that this methodological approach is rarely attempted by the Communication scholars and researchers in Indonesia.

 

Rachma Ida, M.Comms, Ph.D

Head of Communication Postgraduate Program, Airlangga University

Master of Communications Edith Cowan University Western Australia

Doctor of Philosophy in Communication Curtin University Western Australia

================================================================================================

Cover Baru

Buku Metodologi Penelitian Komunikasi yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono ini bukanlah sebuah karya yang terlepas begitu saja dari sekian banyak literatur metodologi penelitian sosial atau metodologi penelitian komunikasi yang ada di masyarakat. Lebih spesifik lagi, karya ini mencoba mengkategorisasi jenis paradigma dan jenis metode yang mengikutinya dalam dua paradigma dominan, yaitu paradigma penelitian kuantitatif positivistik dan paradigma kualitatif fenomenologi. Walaupun pada paradigma kuantitatif, karya ini terpaku pada cara-cara statistik ortodok membedah data dengan pisau statistika, akan tetapi pada paradigma kualitatif, keberanian penulis mengemukakan metode-metode analisis isi, analisis domain dan teknik komparatif konstan. Sesuatu yang paling baru juga adalah keberanian penulis mengemukakan beberapa alternatif metode penelitian dan analisis komunikasi seperti antara lain, analisis Teori Niche, observasi partisipasi media, riset public relation kontemporer seperti framming analysis, analisis wacana, semiotika dan sebagainya yang menurut kebiasaan hal ini adalah sesuatu yang baru dan perlu dibaca, hal mana yang mendorong saya merasa perlu memberi pengan-tar pada tulisan ini. (Prof.Dr. Burhan Bungin, M.Si)

================================================================================================

IMG_8110

Buku ini hadir seperti menjawab pertanyaan para praktisi PR. Yakni apa yang harus dilakukan di era internet, termasuk menyesuaikan produk-produk komunikasinya. Karena terjadi perubahan mainstream di media. PR tak hanya sekedar memadamkan ‘kebakaran’, tapi sekarang juga harus mencari apinya. Ditulis dengan gaya yang lugas, mudah namun padat. Dilengkapi dengan contoh dan studi kasus, buku ini memang pantas jadi refensi para praktisi PR.

-Mochamad Yusuf, pembicara publik, host radio, pengajar, praktisi PR & penulis buku-

Buku ini disusun untuk mengisi kelangkaan buku tentang Public Relations Writing, yaitu yang secara khusus memfokuskan bahasan pada penulisan produk-produk tulisan public relations sebagai media publisitas korporat. Disuguhkan secara sistematis dan mendalam tentang konsep-konsep penting aktivitas public relations, interaksi public relations dengan bauran pemasaran lainnya, seperti publisitas dan periklanan serta teknik praktis penulisan media Public Relations. Disertai contoh-contoh nyata membangun image akibat publisitas media, tips-tips penulisan, serta alternatif media online bagi aktivitas public relations. Diperkaya ulasan kritis dunia praktis, seperti fenomena hidden advertising. Pembaca akan lebih mengenal secara nyata bagaimana aplikasi public relations writing, seperti strategi press relations, newsletter, company profile, news-journalistic, dan lain sebagainya.

Buku ini perlu dibaca oleh mahasiswa dan pemerhati mata kuliah:

  • Dasar-Dasar Public Relations
  • Penulisan Public Relations
  • Teknik Produksi Media dan Program Public Relations
  • Teknik Publisitas
  • Dasar-Dasar Jurnalistik
  • Komunikasi Bisnis

==================================================================================================

cover manajemen periklanan

Menarik untuk disampaikan bahwa iklan pada dasarnya mengusung dua kepentingan besar. Pertama, sebagai sebuah karya kreatif yang dengan kreativitas yang diusungnya dapat merepresentasikan kepribadian, positioning, dan diferensiasi produk. Di sisi lain, kedua, iklan tentu saja sebagai salah satu promotion tools untuk dapat merangsang adanya pembelian produk. Untuk menjawab dua hal inilaih, kehadiran buku ini saya pikir dapat menjadi salah satu alternatif wacana. Setelah membaca buku ini, saya memandang bahwa kajian-kajian periklanan telah secara jernih dan jelas dibahas dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mahasiswa. Sebagai buku ajar, saya optimis, buku ini dapat memudahkan proses transfer informasi tentang seluk-beluk dunia periklanan. Dilengkapi pula dengan contoh-contoh yang memudahkan penjelasannya.” (Dr. Bambang D.P, S.Sos, M.Si –Ketua Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi UB Malang- dalam Kata Pengantar di buku ini)

===================================================================================================