Archive

Posts Tagged ‘komunikasi’

MULTIKULTURALISME

MAHASISWA & PERMASALAHAN SAAT SKRIPSI

Berikut tawaran saya terkait permasalahan yg sering terjadi saat mahasiswa skripsi. Tulisan ini juga ada di buku saya “Teknik Praktis Riset Komunikasi, 2014, Prenada Jakarta.

Silahkan baca di sini:

Permasalahan dan Solusi Peminatan Kajian dan Tema Penelitian

TIPS MEMBUAT LATAR BELAKANG MASALAH & CONTOHNYA

Saya sampaikan cara-cara membuat Latar Belakang Masalah (LBM) yang baik sekaligus dengan contohnya. Silahkan download di PDF ini:

1. LBM BAGUS

2. DUA CONTOH LBM

 

TIPS MENULIS BUKU

Ini adalah tulisan saya tentang pengalaman dan tips menulis buku. Semoga bermanfaat. Tulisan ini saya sampaikan di workshop menulis buku di Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya. Silahkan download di PDF ini:

MENULIS BUKU

MERENCANAKAN KAMPANYE PUBLIC RELATIONS

September 10th, 2014 No comments

Saya tulis tips-tips merencanakan kampanye public relations. Kampanye adalah wahana agar organisasi menyebarkan ide atau gagasan kepada khalayak sasaran. Kampanye juga wahana publisitas media yang berguna dalam pembentukan citra positif di mata publik.

Silahkan download di sini:

SEKILAS TENTANG PERENCANAAN KAMPANYE baru

Sinergi Lokal & Barat dalam Teori dan Praktik Komunikasi

Ini adalah paper materi “keynote speaker” di Call  for Paper Conference on Media, Communication, and Sociology (COMICOS) 2014: “Bridging the gap: Sinergi, Koneksi, dan Konvergensi, Univ Atmajaya Yogyakarta, 7 Sep 2014. Membahas perluya sinergi perspektif barat dan lokal dalam komunikasi, baik sebagai kajian maupun dalam praktik.

Silahkan download di PDF berikut:

Sinergi Lokal-Barat dlm kajian dan praktik komunikasi

DUA PERSPEKTIF PENELITIAN MEDIA

PERSPEKTIF RISET MEDIA MASSA

Oleh: Rachmat Kriyantono

Download PDF:

PERSPEKTIF RISET MEDIA MASSA

Studi-studi tentang media bersumber pada dua perspektif yaitu khalayak media itu bersifat aktif dalam menerima pesan media (men-struktur realitas) dan perspektif  yang menganggap khalayak itu ber-sifat pasif dan mudah dipengaruhi secara langsung oleh media. Pers-pektif pertama menganggap media mempunyai pengaruh terbatas (limited effect) sedangkan perspektif kedua menganggap media mem-punyai pengaruh yang besar (powerful effect) serta tak terbatas (un-limited effect) terhadap perilaku khalayak.

 

Khalayak merupakan masyarakat yang menggunakan media massa sebagai sumber pemenuhan kebutuhan bermedianya. Dennis McQuail (2010) memberikan pengertian mengenai khalayak sebagai sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar, pemirsa ber-bagai media atau komponen isinya. Sementara Littlejohn (1996) mengatakan bahwa khalayak merupakan jumlah populasi yang ada karena adanya media.

 

Dari dua literatur di atas, dapat dijelaskan bahwa secara garis besar ada dua tipe khalayak (audience), yaitu general public audience dan specialized audience. General public audience merupakan khalayak yang sangat luas, misalnya penonton televisi.  Sedangkan specialized audience dibentuk dari beberapa macam kepentingan bersama dari anggotanya sehingga homogen. Anggota specialized audience heterogen dalam umur, tingkat pendidikan, income, gaya hidup, dan sebagainya, tetapi mereka homogen dalam ketertarikan terhadap suatu bidang.

 

Teori-teori yang menganut perspektif khalayak aktif menganggap khalayak sebagai “a differentiated set of small groups or communities”. Teori-teori tersebut antara lain uses & gratification, dependency, two-step flow, kategori dan penggolongan sosialnya DeFleur dan diffusi-inovasi. Khalayak dipandang sebagai anggota-anggota kelompok yang berbeda karakteristiknya serta dimungkinkan dipengaruhi oleh rekan- rekannya.  Bahwa  dalam  menerima  terpaan  pesan,  khalayak tidak-lah berdiri sendiri. Ada  faktor-faktor lain  di luar dirinya (misalnya reference group) yang sangat menentukan bagaimana dirinya meng-interpretasi dan mengelola terpaan pesan tersebut. Khalayak pada dasarnya memiliki tingkat selektivitas yang tinggi. Mereka bisa meng-ganti saluran yang sesuai dengan keinginannya setiap saat. Mereka bisa membaca atau tidak membaca suatu berita di koran. Khalayak bukanlah penerima yang pasif. Mereka terdiri dari individu-individu yang menuntut sesuatu dari komunikator dan menyeleksi pesan-pesan yang disukai dan berguna baginya. Sifat khalayak adalah heterogen, beraneka dalam berbagai hal, meliputi tempat tinggal, usia, jenis kelamin, ekonomi, dan sebagainya; pribadi, sesuatu pesan dapat diterima kalau sifatnya pribadi atau personal sesuai dengan situasi dimana audience itu berada; aktif, aktif ikut serta dalam kegiatan komunikasi. Misalnya dengan bertanya tentang kebenaran informasi penyiar radio; selektif, dapat memilih program media sesukanya. Jika suatu pesan diyakini sesuai dengan yang diinginkan, maka perilaku individu dalam mengonsumsi media dapat menimbulkan peng-ulangan. Teori Behaviorisme “Law of Effect”. menyebutkan bahwa perilaku yang tidak mendatangkan kesenangan tidak akan diulang.

 

Perspektif khalayak pasif berangkat dari pandangan bahwa khalayak sebagai “undifferentiated mass” yang bersifat homogen. Dengan kata lain bahwa khalayak dipandang sebagai sebuah populasi yang luas atau besar yang dibentuk oleh media. Media memiliki kekuatan luar biasa dalam mengendalikan khalayak (konsep powerfull effect of media). Pesan media yang sama diasumsikan akan menim-bulkan efek yang sama bagi khalayak. Teori-teori yang masuk dalam perspektif ini bisa disebutkan antara lain Bullet Theory, Agenda Setting, Spiral of Silence, Cultivation Theory, dan Functional Theory.

 

Tentang cara/teknik melakukan penelitian, baca buku saya: Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai contoh riset public relations, media & komunikasi pemasaran, 2012, cet 6, Prenada Jakarta 

KOMUNIKASI:PONDASI KEHIDUPAN & POSISI PUBLIC RELATIONS

KOMUNIKASI: PONDASI KEHIDUPAN & POSISI PR                              

oleh: Rachmat Kriyantono

Download PDF: KOMUNIKASI & POSISI PR-Rachmat              

Tidak diragukan lagi bahwa komunikasi adalah pondasi utama kehidupan manusia. Melalui kegiatan berkomunikasi, individu-individu saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara universal, manusia di seluruh dunia mempunyai beberapa kebutuhan pokok yang sama[1]. Kebutuhan itu muncul selama manusia itu hidup dan jika kebutuhan tersebut terpenuhi, maka kehidupan manusia menjadi semakin baik. Pertama, kebutuhan fisiologis, seperti makanan, minuman, seksualitas, berkeluarga, buang air besar, bernafas, pakaian, perumahan. Kedua,  kebutuhan akan rasa aman dan nyaman dalam menjalani hidup. Wujud dari kebutuhan ini antara lain perlindungan dari gangguan keamanan, pekerjaan tetap, adanya tunjangan pensiun, asuransi (asuransi jiwa, kecelakaan, kesehatan, harta benda) dan  kondisi pekerjaan yang nyaman[2]. Ketiga, kebutuhan akan penghargaan diri (self-esteem). Setiap individu menginginkan penghargaan dari orang lain atas eksistensi dirinya. Yang termasuk di sini antara lain status, pangkat, gelar, promosi, konsep diri yang positif, hadiah, perasaan dihargai, dan sebagainya. Keempat, kebutuhan aktualisasi dan ekspresi diri, seperti kesempatan melaksanakan pekerjaan kreatif, berkesenian, dan mengaktualisasikan kemampuan di masyarakat. Kelima, kebutuhan sosial. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan untuk bergaul dan beraktivitas dengan kelompok sosial, berteman, dicintai sehingga peran sosial seseorang bisa terbentuk dan dihargai.   

Untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut, manusia mesti berinteraksi dengan sesamanya. Muncullah konsep interaksi sosial, yaitu hubungan timbal balik antarindividu yang saling memengaruhi. Setiap interaksi mengandung dua elemen, yaitu adanya kontak dan komunikasi. Komunikasi di sini bisa diartikan sebagai proses di mana terjadi aksi dan reaksi antarindividu (bisa perorangan atau kelompok) yang bertemu.[3]

Melalui komunikasi, manusia bukan hanya dapat menyampaikan gagasan dan pikirannya, memeroleh, mengolah, dan saling bertukar informasi tetapi juga dapat melakukan proses pengambilan keputusan dengan baik. Contoh, mungkin Anda membutuhkan mobil baru. Melalui tindakan komunikasi, seperti membaca iklan mobil di surat kabar, bertanya kepada teman atau sales mobil, Anda akan mendapat informasi tentang harga, kelebihan dan kekurangan mobil yang ingin Anda beli. Di rumah, Anda berdiskusi dengan keluarga dan tetangga tentang informasi tersebut. Kemudian Anda mengolahnya dan memutuskan mobil apa yang hendak Anda beli.

Komunikasi pula yang dapat membangun kerja sama dan relasi sosial antarmanusia sehingga memudahkan upaya pemenuhan kebutuhan hidup.  Perhatikan contoh berikut. Produk mobil memerlukan proses yang panjang untuk sampai ke tangan konsumen. Proses yang dilalui antara lain pembelian bahan mentah, proses perakitan di pabrik, pemasaran, penjualan, distribusi hingga transaksi dengan konsumen. Proses tersebut memerlukan peran dan kerja sama beberapa pihak, antara lain pengusaha, karyawan, petani karet (untuk membuat ban), produsen cat, kaca, pembuat jok mobil, agen, konsumen, biro iklan dan media (untuk promosi) hingga polisi untuk pengurusan surat-surat mobil. Begitulah, masih banyak lagi contoh peran komunikasi dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia. [4]

Dari uraian di atas, ada dua alasan mengapa komunikasi disebut sebagai pondasi kehidupan. Pertama, tindakan komunikasi selalu hadir dalam kehidupan kita. Kita tidak bisa tidak berkomunikasi (we can’t not communicate). Mulai bangun tidur hingga tidur lagi, sejak lahir kita selalu berkomunikasi. Kita berkomunikasi karena kita adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesama manusia.[5] Dengan berkomunikasi, kita belajar tentang diri dan lingkungan, kita memersuasi orang lain, menghibur diri, dan sebagainya. Bahkan kita juga bisa belajar tentang bagaimana berkomunikasi dengan orang lain[6]. Komunikasi menjadi dasar interaksi sosial dan komunikasi juga dibangun dari interaksi sosial, sehingga komunikasi bagaikan darah dalam kehidupan (blood of life). Coba Anda bayangkan, bagaimana hidup ini tanpa adanya tindakan komunikasi.

Kedua, komunikasi adalah alat membangun kerja sama dan relasi sosial sebagai kunci pokok upaya pemenuhan kebutuhan manusia. Kerja sama dan relasi sosial lahir melalui tindakan komunikasi yang mengarah pada terciptanya saling kesepahaman (mutual understanding), saling berbagi, saling menghargai, dan saling menguntungkan pihak-pihak yang berkomunikasi. Komunikasi adalah perekat hubungan (the glue of society).  Komunikasi jangan dipakai sebagai alat menyampaikan informasi yang tidak benar, alat persuasif yang hanya menguntungkan satu pihak atau alat manipulasi demi tercapainya keuntungan sebesar-besarnya meski merugikan orang lain[7]. Dalam konteks ini, posisi Public relations sangatlah penting. Public relations bertugas mengelola sistem komunikasi (communication re-engineering) agar terjalin kerja sama dan relasi yang harmonis dengan publiknya, sehingga citra perusahaan dapat terjaga di mata publiknya. Karenanya, aktivitas Public relations adalah aktivitas komunikasi[8].


[1] Abraham Maslow menelurkan konsep yang sangat terkenal di antara ilmuwan sosial, yaitu Hirarki kebutuhan (Hierarchy of needs).

[2] Tidaklah heran jika masyarakat masih berebut untuk diterima sebagai Pegawai Negeri. Di sana ada jaminan hidup yang pasti, seperti uang pensiunan dan status sosial yang tinggi. Bahkan sekolah-sekolah kedinasan ramai peminat karena ada kepastian pekerjaan. Masyarakat tampaknya tidak terpengaruh kasus-kasus kekerasan yang terjadi di beberapa sekolah kedinasan, seperti Institut Pemerintahan Dalam Negeri (Depdagri) maupun Sekolah Tinggi Pelayaran (Dep. Perhubungan)

[3] Seiring perkembangan teknologi, “bertemu” ini tidak harus diartikan bertemu langsung secara fisik. Bisa saja kita chatting, mendengarkan radio, nonton TV, baca Koran atau teleconference. Dalam Ilmu Komunikasi, aktivitas aksi-reaksi ini bisa disebut sebagai tindakan komunikasi atau kegiatan komunikasi.

[4] Kegiatan komunikasi ini mencakup fungsi-fungsi memberikan informasi, memengaruhi orang lain (persuasif), hiburan, atau pun kontrol sosial. Bahkan fungsi yang paling sederhana terjadi pada komunikasi patik (phatic communication), yaitu tindakan komunikasi yang tidak mempunyai tujuan khusus. Misalnya, ketika ada siswi berseragam SMA lewat di jalan, lalu disapa oleh seorang jejaka: “Sekolah Mbak?” (sudah tahu berseragam SMA kok masih ditanya). Komunikasi digunakan sebagai sarana radar sosial dan sarana eksistensi diri. Meski, reaksi si cewek tampak kesal, tapi bisa saja di dalam hatinya merasa senang karena ada yang menyapa.

[5] Tidak ada satu individu pun yang merupakan sebuah pulau yang serba berkecukupan. Setiap pulau adalah kepingan dari benua dan merupakan bagian dari keseluruhan. Demikianlah individu itu.

 [6][6] Sewaktu akan berangkat S3 di Australia, saya dan beberapa teman diundang untuk mengikuti pembekalan. Kami diceramahi tentang budaya dan cara hidup orang Australia termasuk bagaimana mereka berkomunikasi. Kegiatan pembekalan tersebut adalah kegiatan komunikasi.

[7] Contoh-contohnya sering terjadi dalam kehidupan kita, seperti iklan-iklan bohong dan menyesatkan, buku-buku sejarah yang dibelokkan atau berita-berita surat kabar yang tidak berdasarkan fakta tetapi berdasarkan opini wartawan, dan sebagainya.

[8] Frank Jefkins, seorang pakar PR, pernah mengatakan bahwa “PR is a system of communication to create goodwill”. Karena itu, sejarah lahirnya Public relations adalah seiring dengan sejarah komunikasi manusia. Sama dengan komunikasi, PR berkembang karena manusia berupaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Upaya pemenuhan kebutuhan itu, membuat manusia berinteraksi dengan sesamanya, sehingga diperlukan kerja sama dan relasi social yang harmonis. Inilah prinsip dasar Public relations, yaitu upaya komunikasi menjalin hubungan harmonis yang saling menguntungkan antara perusahaan dan publiknya.

ETIKA PERS: KEBEBASAN & KEBABLASAN

Kebebasan & Kebablasan Pers

Rachmat Kriyantono, Ph.D

Dosen Ilmu Komunikasi Univ Brawijaya Malang

 

Masalah utama komunikasi media massa adalah bagaimana mengatasi persoalan yang muncul berkaitan dengan tarik menarik antara kebebasan dan etik. Sering kita jumpai, seseorang menuntut pemberitaan pers karena dianggap melanggar privasinya. Namun pers berkilah bahwa ini merupakan kebebasan pers dalam menyampaikan informasi untuk memenuhi fungsi: “public right to know”.

         Dulu saat rezim Orde Baru (1967-1998), kehidupan pers dikekang, pers harus tunduk pada sistem politik dengan sangat ketat. Bila tidak maka Surat Ijin Penerbitan Pers (SIUPP) dicabut/dibreidel. Kondisi ini berubah sejak zaman reformasi (1998), dan puncaknya dengan diciptakan lagi UU No 40/1999 tentang pers, yang telah menjamin kemerdekaan pers. Salah satu aturan dalam UU ini adalah pers bebas dari pembreidelan dan  jaminan bahwa kemerdekaan pers sebagai hak asasi warga Negara.

          Namun ada hal yang perlu saya sampaikan di sini berkaitan dengan kebebasan atau kemerdekaan pers itu. Pertama, apakah pers kita benar-benar bebas atau merdeka? Kedua, sampai sejauh mana kebebasan atau kemerdekaan pers itu dilaksanakan oleh pers, ini berkaitan dengan cara pers mengartikan kebebasan.

            Yang pertama. Sekalipun konstitusi telah menjamin kemerdekaan pers, ternyata tidak dengan sendirinya kebebasan atau kemerdekaan pers itu bebas dari distorsi. Ada beberapa distorsi yang bisa datang dari berbagai pihak :

·           Distorsi berupa peraturan perundang-undangan. Terbukti selama Orde Baru pers tidak bisa berkutik dari sikap represif penguasa melalui Permenpen 01/1984 yang berisi pembreidelan.

·           Distorsi dari birokrasi melalui campur tangan terhadap policy pemberitaan. Misalnya “Budaya Telpon”: meminta kepada redaktur untuk tidak memberikan sesuatu.

·           Distorsi berupa pemaksaan kehendak secara fisik, main hakim sendiri, perusakan dan teror, pengusiran dan perampasan kamera bahkan pembunuhan terhadap wartawan.

·           Distorsi dari perusahaan pers (institusi bisnis). Contoh : beberapa tahun yang lalu terjadi peristiwa keracunan mie-instant yang menghebohkan masyarakat, tapi pemilik media meminta redaksi untuk tidak menyiarkannya karena yang terkontaminasi adalah produk pabrik miliknya.

·           Distorsi dari perilaku pers atau wartawan sendiri. Distorsi ini terjadi karena wartawan tidak menaati kode etik jurnalistik.

Dengan demikian beberapa distorsi di atas selain menyebabkan pengekangan terhadap pers juga bisa menyebabkan pers hidup tanpa aturan main (kebablasan). Jadi, kemerdekaan atau kebebasan pers memerlukan tiga alat utama yaitu kode etik, hukum, dan profesionalisme insan pers. Ketiganya inilah yang akan membuat pers berjalan sesuai hakikat kebebasan yang dimilikinya. Perlu diingat bahwa kebebesan atau kemerdekaan yang dimiliki oleh pers pada hakikatnya merupakan milik masyarakat yang direpresentasikan kepada pers sehingga pemanfaatannya dikembalikan untuk kemaslahatan masyarakat. Kemerdakaan pers berasal dari kedaulatan rakyat. Sebagai pemegang kedaulatan, dengan sendirinya rakyat memiliki hak-hak publik, salah satunya mendapat informasi yang benar dan berkomunikasi. Masyarakat lalu memberikan amanat kepada pers. Untuk melaksanakan hak publik itu dengan baik, mutlak diperlukan pers yang merdeka.

     Kedua, sejauh mana kebebasan pers itu dilaksanakan oleh pers? Ketika awal-awal berlakunya kebebasan pers, yang terjadi adalah munculnya “euphoria kebebasan”, yaitu kegembiraan yang berlebihan dari kalangan pers sehingga tidak sedikit yang kebablasan. Pers menjadi kekuatan super di masyarakat, apapun peristiwa yang terjadi bebas diberitakan, tanpa ada ketakutan dibreidel. Di sana-sini muncul fenomena “jurnalisme anarki”, “jurnalisme pelintir”, “jurnalisme preman”, “jurnalisme penghujatan”, “jurnalisme porno”, dan lainnya. Jelas hal ini tidak boleh diteruskan berkepanjangan. Jangan sampai kemerdekaan atau kebebasan pers itu menyebabkan berkurangnya kemerdekaan atau kebebasan pihak lain. Misalnya, pers juga harus memperhatikan privasi seseorang.

     Di sinilah pentingnya keberadaan kode etik jurnalistik, yang merupakan sehimpunan suruhan dan larangan yang mengatur bagaimana wartawan Indonesia harus berperilaku, selama ia ingin tetap dianggap sesama wartawan Indonesia sebagai wartawan yang baik. Saat ini banyak bermuculan kode etik yang dibuat oleh beberapa organisasi kewartawanan.

 

SERIAL CRISIS MANAGEMENT: ISU

Tulisan ini adalah materi perkuliahan mata kuliah Management Isu di Jurusan Komunikasi Univ Brawijaya. Berisi bahasan tentang isu: definisinya, jenisnya, tahapannya, dan mengapa terjadi. Termasuk bagaimana posisi public relations terkait isu. Happy Studying.

PDF bisa didownload di file ini: MATERI 1 – ISSUE

Penjelasan lain tentang isu dan keterkaitannya dengan fungsi public relations (humas) dapat dibaca di buku saya “Public Relations & Crisis Management: Pendekatan Critical PR, Etnografi Kritis & Kualitatif, 2012, Prenada Media Jakarta