Archive

Posts Tagged ‘ilmu komunikasi’

TEKNIK REFERENCING APA 6TH EDITION

Silakan aplikasikan teknik pengutipan APA 6th Edition dlm segala karya tulis mhs.

1. SISTEM-PENGUTIPAN-Referencing-APA-edisi-6
2. RACHMAT-APA-Referencing

3. https://www.phdfood2019.it/wp-content/uploads/2019/05/APA_Guide_2017.pdf

ECU Referencing Guide
4. https://cpfs.moodle.com.au/file.php/1/Documents/guides/ECU%20Referencing%20Guide.pdf

APA_Guide_2017

Keempatnya adalah sama APA, bedanya: ada yg disajikan singkat dan ada yg lebih lengkap. Harap dipelajari dan diterapkan.

Terima kasih.

Mudik sebagai sarana komunikasi sosial dan beragama yang khas Nusantara

Mudik sebagai sarana komunikasi sosial dan beragama yang khas Nusantara

Oleh: Rachmat Kriyantono, PhD

Saat Idul Fitri (Lebaran) adalah momen silaturahim dan ukkuwah. Mungkin momen setahun sekali bagi kerabat untuk dapat bertemu setelah sibuk bekerja yang terkadang berjauhan tempatnya. Hal ini membuat wajar jika sebagian masyarakat kita memaknai Lebaran sebagai saling memaafkan, meski semua tahu maaf-memaafkan dapat dilakukan kapan pun (tidak harus menunggu lebaran) dan lebaran pun bukan hanya berisi maaf-memaafkan. Lebaran adalah sarana instrospeksi diri setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan, yakni apakah kita telah memanfaatkan ibadah puasa dengan baik sehingga kembali ke dalam jati diri yang suci (fitri/fitrah) karena mendapatkan ampunan Allah.

Perkembangan teknologi mendorong orang sering maaf-memaafkan secara virtual lewat handphone atau media sosial, tetapi, bertemu langsung tatap muka lebih mampu menstimuli emosi jiwa untuk saling mengasihi. Istilah mudik dan bermaaf-maafan termasuk halal bihalal memang tidak diatur secara langsung/tersurat dalam Al-Qur’an dan Hadits, tetapi, budaya mudik ini sebenarnya adalah wujud ajaran-ajaran Rasulullah untuk menjalin silaturahim (menyambung sesuatu yang terputus dengan dasar kasih sayang). Mudik dilakukan untuk bersilaturahim dengan orang tua, kerabat dan sobat, untuk saling bermaafan, untuk saling membantu (seperti berbagi rezeki uang dan baju ke sanak keluarga), untuk berbakti kepada orang tua, baik yang masih hidup atau meninggal (ziarah kubur). Saat orang tua meninggal, bakti anak diwujudkan dalam bentuk mendoakan agar arwah orang tua diberi kelapangan oleh Allah. Berdoa bisa di mana saja, tetapi, dengan berziarah kubur, selain menjalankan ajaran Rasulullah, juga menjadi nasehat dan pengingat yang paling berharga bahwa kita juga akan menyusul dipanggil Allah.

Mudik merupakan perwujudan ajaran Islam sesuai budaya masyarakat kita. Budaya ini yang sesuai kearifan kita sebagai masyarakat yang “guyub rukun, rukun agawe sentosa-crah agawe bubrah“. Saya kira, budaya ini membangun Islam yang khas Nusantara, yang mungkin tidak ditemui di negara lain. Bagai alat musik, budaya adalah instrumen yang bisa memadukan harmoni musikal jika selaras dengan instrumen lainnya. Keharmonian ini, saya maksudkan bahwa kita pilih budaya yang harmoni atau yang tidak melanggar syariat.

Yang penting, esensi ajaranNya tetap terjaga, yakni menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan baik, menjalankan ajaran silaturahim, ajaran berbagi dan shodaqoh, ajaran berbakti dan mendoakan orang tua, serta tidak mengisi Lebaran dengan berhura-hura. Allah SWT mengajarkan berbuat baik kepada bapak dan ibu dengan memelihara mereka di usia lanjut, berkata baik, tidak boleh membentak, merendahkan diri kepada mereka dan selalu berdoa “Ya Allah sayangilah bapak-ibu seperti mereka menyanyangiku sewaktu kecil” (QS Al-Isra’, 17:23-24). Mudik juga diniatkan berbagi rezeki kepada kerabat, fakir miskin, dan orang yang dalam perjalanan (QS 17-26).

Mudik dan mohon maaf lahir batin selama lebaran, adalah sarana menjalankan ajaranNya. Jika dakwah diartikan kegiatan mengomunikasikan ajaran Islam, sedangkan “communication is culture, culture is communication” (Edward T Hall), maka wajarlah jika Wali Songo berdakwah dengan pendekatan budaya sehingga membuat Islam lebih dapat diterima (tanpa paksaan) oleh masyarakat kita yang saat itu banyak beragama Hindu-Budha dan animisme-dinamisme. Hal ini juga sesuai dengan QS Ibrahim: 4: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka”. “Berbicaralah kepada manusia sesuai kadar akal mereka” (HR Muslim). Itulah mengapa Wali Songo berhasil menyebarkan Islam dengan mengadopsi budaya yang tetap selaras menjaga esensi ajaranNya.

Indahnya mudik untuk menjalankan ajaranNya akan kita rasakan jika kita niatkan silaturahim kepada bapak dan ibu serta sanak kerabat. Jaganlah kita berniatkan mudik untuk pamer diri dan menghamburkan harta untuk hal-hal yang tidak semestinya. Dilarang menghambur-hamburkan harta secara boros. Orang boros itu saudara setan, dan setan selalu ingkar kepada Tuhannya (QS 17:26-27). Jika selama mudik belum dapat berbagi rezeki untuk membantu sanak saudara maka kita diajarkan memberi ucapan yang lemah lembut kepada mereka (QS 17:28), asal jangan pelit dan jangan terlalu pemurah (QS 17-29).

baca juga di Buku saya: Rachmat Kriyantono. (2019). Pengantar lengkap Ilmu Komunikasi: Filsafat dan Etika ilmunya serta perspektif Islam. Prenada Jakarta

DOMINASI BARAT DALAM KAJIAN ILMU KOMUNIKASI (SALAH KITA?)

Dunia barat saat ini menjadi pusat episentrum kajian komunikasi yang berdampak pada penggunaan kacamata tunggal dalam memahami fenomena komunikasi di Indonesia, bahkan juga negara-negara di Asia lainnya. Teori-teori Barat sebenarnya belum tentu dapat sesuai dengan kondisi empiris masyarakat Indonesia atau Asia. “There was a tendency to extrapolate theoretically from such relatively unrepresentative nations as Britain and the United States.” (Wang, 2011, h.1). Saat ini, masih menurut Wang (2011), masih banyak akademisi menggunakan pendekatan universalist, yakni menganggap pandangan-pandangan Amerika dan Eropa masih diterima secara taken for granted.

Dominasi perspektif barat ini disebabkan:

  1. Ketertinggalan pendidikan di Indonesia akibat praktik imperialisme. Imperialisme ini memengaruhi pola pikir dan budaya yang tidak kondusif terhadap upaya pengembangan ilmu. Misalnya, kebebasan berpendapat yang sangat penting bagi kajian ilmiah dikekang selama ratusan tahun oleh imperialis;
  2.  Sistem politik kekuasaan otoriter yang juga membelenggu kebebasan akademik sampai era orde baru. Demi tujuan pelanggengan kekuasaan, penguasa membatasi pemikiran-pemikiran yang dianggap mengganggu stabilitas negara (baca: stabilitas kekuasaan). “stabilitas negara” bisa hanya sebatas jargon menutupi motif pelanggengan kekuasaan;
  3.  Penguasaan teknologi komunikasi dan bahasa Inggris oleh negara barat sebagai alat vital diseminasi kajian keilmuan. Ilmu komunikasi berkembang di negara barat, kemudian kerena mereka juga menguasai teknologi maka lebih memudahkan penyebaran ilmu ini ke negara lain. Negara barat lebih mudah menanamkan ideologi mereka melalui teknologi komunikasi yang mereka kuasai;
  4. Banyaknya sarjana Indonesia yang melanjutkan studi ke negara barat, seperti Australia, Amerika, Inggris atau Jerman sehingga membuat penggunaan perspektif negara barat makin besar. Hal ini, mengadopsi pernyataan Alwi Dahlan, membuat kita beranggapan bahwa ilmu komunikasi itu dilahirkan oleh pakar dari ilmuwan Barat.
  5. Kondisi yang disebut pada poin d di atas diperkuat dengan budaya akademik yang belum bangkit untuk berkembang, seperti belum banyaknya publikasi ilmiah, baik nasional maupun internasional sehingga sulitnya ditemukan referensi khas Indonesia. Termasuk belum tingginya rasa bangga terhadap karya anak bangsa di antara ilmuwan sendiri.
  6. Orientasi pasar lebih perspektif barat dan kurangnya kreativitas mengelola pesan yang berbasis kearifan lokal terkait budaya populer. Misalnya, produk budaya populer di televisi kita.
  7. Sistem birokrasi yang tidak berpihak, khususnya penyediaan infrastruktur sistem. Misalnya, lebih mudah dan murah mengedit atau mendubbing iklan visual dari luar negeri daripada memproduksi di dalam negeri.
  8. Ada upaya Barat untuk mengerdilkan kemampuan pemikiran Asia, termasuk Indonesia. Pemikiran filsafat, seperti Serat Jaka Lodang dan Serat Kalatida karya Ronggowarsito, Serat Joyoboyo, pemikiran Soekarno hingga karya arsitektur candi Borobudur, tidak dianggap karya pemikiran besar bangsa Indonesia, melainkan dianggap mitos, ramalan, klenik, dan hanya karya puisi atau langgam.
  9. Pingin baca lengkap? Tunggu penerbitan Buku saya: “Pengantar Lengkap Komunikasi: Filsafat, Etika & Perspektif Islam”, InsyaaAllah terbit Agustus 2018.

Komunikasi Antarpribadi Efektif

September 11th, 2015 No comments

Ini video materi KAP Efektif. Semoga bisa bermanfaat. Silahkan download di

https://www.youtube.com/edit?o=U&video_id=v-Nbx1zd4pk