Archive

Posts Tagged ‘HIV-AIDS’

Model for Capacity Building in Behavior Change Communication (BCC) Program for HIV-AIDS Prevention in Malang, East Java

Ini hasil riset saya yg sudah dipublikasikan di Journal of Social Science Research. Kunjungi juga di: http://cirworld.com/journals/index.php/jssr/article/view/3207/pdf_73

PDF: 3207-5827-1-PB

Model for Capacity Building in Behavior Change Communication (BCC) Program for  HIV-AIDS Prevention in Malang, East Java

 

By

Rachmat Kriyantono, Ph.D; Siti Kholifah, Ph.D; Yuyun Agus Riani, S.Pd., M.Sc

 

University of Brawijaya

Malang-Indonesia

 

 

Abstract

The increasing number of HIV-AIDS cases in 2013 has concerned local government, NGOs and people in Malang. Volunteers are the backbone of the process of preventing the spread of HIV-AIDS. The method they use is Behavior Change Communication (BCC) Program, a strategy for convincing people living with HIV-AIDS (PLHIV) and most-at-risk populations (MARP) into engaging in safe-sex practices. The purpose of BCC is to decrease and prevent HIV-AIDS incidence in Malang.

As actors in BCC Program, volunteers need skills to persuade people living with HIV-AIDS (PLHIV) and most-at-risk populations (MARP) to have safe-sex. Hence, the objective of this research is to identify and evaluate capacity building strategies for volunteers and institutions through workhops, periodic meetings, mass media campaings and implementation of BBC Program. Both quantitative and qualitative methods were employed.

This research shows that capacity building for volunteers is carried out during recruitment and throughout the Program. Capacity building is conducted by many institutions: NGOs, foundations and government. Besides, BCC has proven to be effective in preventing HIV-AIDS among target groups.

 

Keywords: Capacity Building, BCC,model, HIV-AIDS

 

 

HIV-AIDS & STRATEGI KOMUNIKASI PENCEGAHANNYA

HIV-AIDS: Perkembangannya di Malang, Pencegahannya dan Penerapan BCC Tools

Oleh: Rachmat Kriyantono, Ph.D; Siti Cholifah, Ph.D; Yuyun A. Riani, S.Pd., M.Sc

 

 

Masalah HIV-AIDS sudah menjadi masalah dunia.Di Indonesia, kasus pertama HIV-AIDS terjadi pada tahun 1987 dan terhitung sebanyak 23.632 kasus hingga Maret 2009 (Tangkas, 2009). Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, pada 2012 ditemukan kasus HIV sebanyak 21.511 orang dan AIDS sebanyak 5.686 orang (Detik.com, 2013). Di tahun 2013 ini, mengalami kenaikan sebesar 25% (Merdeka.com, 5 Februari 2013).

Menko Kesra Agung Laksono[1] selaku ketua Komisi Penganggulangan AIDS (KPA) Nasional mengatakan bahwa hampir seluruh provinsi di Indonesia terdapat penderita HIV-AIDS. Papua tidak lagi menjadi provinsi yang memiliki jumlah kasus HIV/AIDS paling banyak, meski untuk prevalansi per penduduk masih yang tertinggi. Jabar menduduki rangking 1 dengan mencapai 3.213 kasus, DKI Jakarta 2.810 kasus, Jawa Timur 2.753 kasus, Papua dengan 2.605 kasus.[2] Di Jawa Timur menurut Dinas Kesehatan 2008 lalu tercatat 1.587[3], pada 2009 meningkat sebanyak 2.652 kasus tercatat di Ditjen Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan Depkes. Di Kota Malang, tahun 2009 terdapat 1.035. Laki-laki lebih banyak terkena virus mematikan ini (74,5%), perempuan hanya 25 %.[4]

Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia ini menular dengan beberapa cara, diantaranya hubungan seks (homoseksual dan hiteroseksual)[5],  ASI, dan penggunaan jarum suntik bekas. Tidak selalu kelompok yang tertular adalah kelompok orang beresiko tinggi (Resti) tertular HIV-AIDS. Siapapun berpotensi tertular virus ini.

Perhatian terhadap penanggulan HIV-AIDS bukan hanya datang dari pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) di tanah air tetapi juga dari lembaga-lembaga luar negeri, seperti Global Fund, Partnership Fund, USAID, AUSAID, dan PBB.Namun makin banyaknya pengidap HIV/AIDS, kegiatan-kegiatan mereka belum menampakan hasil yang signifikan. Hal ini karena HIV-AIDS sangat terkait dengan pola perilaku perorangan.Secara personal kerentanan tertular virus ini harus dihindari dengan  perilaku aman.

       Di Malang, program penanganan HIV-AIDS ini dirintis sejak 2009, terdapat 900 kasus HIV-AIDS yang terdeteksi di Malang[6]. Lembaga international di atas bersinergi dengan pemerintah dan LSM lokal untuk melakukan upaya prevalensi dan penurunan angka HIV-AIDS. Mainul Sofyan[7], konsultan CBO lembaga RTI-USAID menyampaikan bahwa program HIV-AIDS diadakan sejak 2003, dengan nama program Action Stop AIDS (ASA), didanai USAID (2003-2006). Beberapa program lainnya: (i) Pada 2006-2010, terdapat program pencegahan HIV AIDS secara berkelanjutan didanai USAID dengan lembaga nasional Family Health Indonesia (FHI). Lembaga lokal di Malang sebagai pelaksana adalah  Igama, Sadar hati, Wamarapa, dan Yayasan Paramitra Jatim; (ii) Pada 2009-2014 terdapat program pencegahan HIV AIDS yang didanai Global Fund dan lembaga pelaksana lokal adalah Igama, Sadar hati, Wamarapa, dan Yayasan Paramitra Jatim. Program ini berkonsentrasi pada kelompok sasaran pengguna jarum suntik dan pengguna narkoba. Dengan jenis kegiatan pembagian jarum suktik pada pengguna narkoba suntik agar mereka tidak berbagi, dan mengurangi adiksi dengan penyediaan panti rehabilitasi dan terapi substitusi; (iii) Pada 2011-2015 Program Scalling Up for Most at Risk Population (SUM) didanai oleh USAID, sebagai pelaksana lokal adalah Igama, Sadar hati, Wamarapa, dan Yayasan Paramitra Jatim.       

       Dalam program kegiatan tersebut yang paling dekat berhubungan dengan kelompok sasaran seperti WPS, waria, gay, dan Penasun adalah petugas lapang. Tugas mereka adalah melakukan kampanye terhadap perubahan sikap dan perilaku aman yang bertujuan untuk mencegah dan menurunkan angka penularan dan kasus HIV-AIDS. Strategi komunikasi diperlukan dalam upaya membentuk sikap dan perilaku aman kelompok sasaran pencegahan HIV-AIDS.Karakter, situasi dan kondisi kelompok sasaran menjadi perhatian dan pertimbangan penting petugas lapang untuk efektifitas  kegiatan. Kegiatan dilakukan dengan memberikan pemahaman pada masyarakat terutama kelompok masyarakat beresiko tinggi. Kemampuan petugas lapang menjadi faktor penting efektitas proses kampanye sosial ini. Lembaga pelaksana lokal, nasional dan internasional perlu memberikan pelatihan, konsultansi dan pengembangan pengetahuan dan ketrampilan komunikasi ini. Salah satu keterampilan dan pengetahuan yang dilatihkan adalah Tool BCC, sebagai tool utama dalam program ini.

          Penanggulangan HIV-AIDS oleh Yayasan Paramitra Jatim, Wamarapa,  Igama, dan Sadar hati menggunakan Tool  Behaviour Change Communication (BCC) yang diintervensikan untuk mempengaruhi kelompok resiko tinggi tertular HIV-AIDS. BCC adalah alat komunikasi dengan beberapa strategi dalam upaya mempersuasi kelompok sasaran. Alasan digunakannya BCC sebagai sebuah alat komunikasi:  BCC adalah proses mentransfer dan menerima informasi; BCC adalah sebuah proses bukan produk; BCC tidak hanya memproduksi brosur, poster, drama, tapi lebih pada proses berkomunikasi antar pribadi; BCC memerankan Peer educator alam proses perubahan perilaku. BCC adalah Formula komunikasi dalam perubahan perilaku yang dikembangkan pada proyek AIDS Control and Prevention (AIDSCAP) oleh FHI. Project ini diintervensikan dengan tujuan untuk melakukan perubahan perilaku seks target audience dengan memerankan beberapa pihak seperti community leaders, media officers, educators, parents, dan pihak terkait lainnya

 



1   [1]  Poskota, 4 Desember 2009, Seminar HIV-AIDS di Jakarta, alamat web: http://www.poskota.co.id/headline/2009/12/04/hiv-aids-sudah-masuk-ke-separuh-kabupaten-se-indonesia, diakses tgl.15 Maret 2009.

[2]  Ibid

[3]  Dalam Voice Of Human Right (VHR)

[4]   Dinkes Kota Malang, 2009

[5]   PSK, Pelanggan PSK, Waria, dan Gay

[6]Lembaga Paramitra Jatim, 2009

[7]Wawancara tgl.6 Juni 2013.

PDF bisa didownload di sini: HIV-AIDS & KOMUNIKASI

PENELITIAN BCC TOOLS

 

ABSTRAK

RancanganModel Strategi Capacity Building Petugas Lapang dalam Pengaplikasian Tool Behavior Change Communication (BCC) Program Pencegahan HIV-AIDS di Malang Raya

Peneliti: Rachmat Kriyantono, Ph.D; Siti Cholifah, Ph.D; Yuyun A. Riani, S.Pd., M.Sc

Program Hibah penelitian desentralisasi Univ Brawijaya, 2013

 

       Angka asumsi kenaikan penularan HIV-AIDS dan kecenderungan kasusnya pada tahun 2015 mulai mengkhwatirkan banyak pihak baik itu masyarakat, pemerintah daerah dan NGO-NGO lokal di Malang Raya yang memiliki perhatian terhadap isu ini. HIV-AIDS seharusnya menjadi persoalan sosial yang setara dengan kasus-kasus sosial lainnya, seperti kemiskinan dan pengangguran. Petugas lapang adalah ujung tombak dalam proses pencegahan meluasnya penularan HIV-AIDS. Metode yang digunakan oleh petugas  lapang adalah Behavior Change Communication(BCC), yaitu metode untuk memersuasi orang dengan HIV-AIDS (ODHA) dan orang dengan risiko tinggi terkena penularan HIV-AIDS (RESTI) dalam mengubah perilaku seks beresiko tertular HIV-AIDS menjadi perilaku seks yang aman. Tujuannyauntuk menekan dan mencegah peningakatan penularan HIV-AIDS di Malang Raya.

     Petugas lapang sebagai pelaksana dan pengaplikasi tool BCC membutuhkan keterampilan dan penguasaan untuk mampu secara maksimal menggunakan BCC sebagai alat persuasi sikap dan pengetahuan ODHA dan RESTI terhadap seks aman. untuk itu penelitian ini merencanakan untuk mengidentifikasi serta mereview bagaimana strategi petugas lapang dan lembaga pelaksana program dalam meningkatkan kapasitas pendamping baik itu melalui pelatihan, workhop, pertemuan berkala (periodictly meeting), diseminasi, pengembangan media (printed, on printed, dan local media)  dan  untuk mengaplikasikan dan menerapkan BCC sesuai dengan situasi, kondisi dan karakter ODHA dan RESTI sebagai kelompok sasarannya.

      Penelitan ini menggunakan mixed method, yaitu menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Tujuannya agar memperoleh data yang mendalam sehingga dapat menjawab permasalahan penelitian. Metode pengumpulan data kualitatif berupa wawancara mendalam (depth interview), FGD, dan observasi. Sementara untuk data kuantitatif, metode pengumpulan datanya adalah penyebaran kuesioner. Penelitian ini akan berlangsung dua tahun. Pada tahun pertama, penelitian ini akan fokus pada identifikasi strategi capacity building petugas lapang dalam aplikasi tool BCC, termasuk mengukur keefektifannya dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS. Pada tahun kedua, penelitian ini berupaya merancang model capacity building petugas lapang dalam menerapkan BCC agar dapat lebih berhasil guna. Lokasi penelitian di Malang Raya sesuai dengan lokasi sasaran program prevalensi dan penurunan angka HIV-AIDS.

 

Keywords: Capacity Building, BCC,model, HIV-AIDS

PDF bisa didowload di sini ABSTRAK BCC Tools