Archive

Posts Tagged ‘filsafat komunikasi’

AGAMA ITU ILMIAH, TAUHID ADALAH GRAND-THEORY ILMU PENGETAHUAN

Agama itu bersifat ilmiah dan karenanya menjadi grand-theory semua ilmu pengetahuan manusia. Dalam Islam, grand-theory ini adalah tauhid. Dalam ilmu komunikasi, misalnya, komunikasi tauhid adalah grand-theory ilmu komunikasi. Disebut ilmiah bermakna bahwa semua kriteria kebenaran ilmu, seperti Teori korespondensi (Bertrand Russell, John Locke, David Hume) dengan konsep empirismenya; Koherensi (Aristoteles, Descartes, Spinoza) dengan konsep rasionalismenya; Metafisik (Guba & Lincoln) & Pragmatisme (Charles Pierce, John Dewey), sdh dikandung Al-Qur’an, bahkan sebelum para pakar itu memahaminya.

Contoh:

Apakah hari Kiamat itu ilmiah? Hari Kiamat adalah ilmiah karena mengandung semua teori kebenaran ilmu tersebut. Fenomena Hari Kiamat bukan hanya kebenaran metafisik, tetapi juga mengandung kebenaran korespondensi, konsistensi, dan pragmatis. Muslim mempercayai dua jenis kiamat, yakni kiamat besar (kubro) dan kiamat kecil (sughro). Kiamat kecil, yakni meninggal dunia (QS Al-Hijr, 15: 5, 99; An-Nahl: 70) atau Tidak ada makhluk yang hidup abadi karena setiap bernyawa akan merasakan mati (QS Al-Anbiya’, 21: 34-35; Al-‘Ankabut, 29:57) dan manusia diciptakan dan dimatikan (QS Al-Hajj, 22: 5-6), bencana alam atau musibah, seperti musnahnya umat-umat terdahulu, yaitu kaum Nuh, ‘Ad, Samud dan lainnya (QS Ibrahim, 14:9; Al-Furqan, 25: 35-40; Asy-Syu’ara’, 10-190) adalah berkorespondensi (bukti nyata) dengan ayat-ayat tentang kiamat dan memiliki konsistensi antar ayat-ayat tentang kebenaran kiamat (antara lain, QS 14:21: manusia dikumpulkan di hadapan Allah di Padang Mahsyar; QS 15: 85: Kiamat pasti datang; QS An-Nahl, 16: 1: ketetapan Allah, yakni tentang Hari Kiamat, pasti datang; QS An-Nahl: 27-34; QS Al-Isra’ 17: 13-15 dan Al-Kahf: 49 tentang dibukanya catatan-catatan perilaku manusia secara terbuka di hari Kiamat untuk dihitung; QS Al-hajj, 22: 1-17: bercerita tentang bukti-bukti kebenaran hari Kiamat; QS Al-Qiyamah, 75: 1-40: bercerita tentang kejadian yang akan dialami manusia di Hari Kiamat; QS Al-Qari’ah, 101: 1-11 tentang proses terjadinya kiamat; QS Al-‘Ankabut, 29:5 tentang kiamat adalah waktu pertemuan dengan Allah dan waktunya pasti datang); Dari bumi Kami ciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu untuk dikuburkan dan darinya Kami akan membangkitkan kamu pada kali yang lain (QS Thaha: 55). Jadi, meskipun kiamat besar belum terjadi, tetapi, kebenaran korespondensi dan konsistensi sudah terbukti. Semuanya juga mengandung kebenaran pragmatis, yakni bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kiamat mengandung manfaat bagi manusia untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan dan selalu beribadah kepadaNya dengan baik untuk mensyukuri anugerahNya (Baca QS Al-Maidah: 48). Berlomba-lomba dalam kebajikan ini juga konsisten dengan isi QS Thaha: 15, yakni Allah merahasiakan hari kiamat yang pasti datang agar manusia dibalas sesuai dengan usaha yang telah dilakukan (berbuat baik atau buruk).

Agama itu ilmiah….
dan Kitab Suci (Al-Qur’an) itu bukan fiksi

Wallahu ‘a’lam bishowab
Rachmat Kriyantono, PhD

Konsep “Berpikir” dalam perspektif Agama dan Ilmu

Agama telah mengajarkan manusia untuk berpikir, menggunakan akal pikirannya. Islam misalnya, sdh mengajarkan manusia berpikir, bahkan jd ayat pertama, iqra. Beberapa ayat lain pun Allah menyuruh manusia unt memahami, berpikir, menggunakan akalnya, agar bs paham KuasaNya. Contoh: terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (Al-Jasiyah, 45:3-5); Nah batasan berpikir dlm Islam: (1)  cara berpikir at cara iqra’ nya hrs bismirobbikalladzi khalaq, hrs sesuai fitrah Tuhan yg suci. Fitrah Tuhan itu terkandung pd semua ayat Quran, termasuk ayat ttg berpikir itu sendiri. Fitrah Tuhan yg suci ini adalah Haq…bukan fiksi. Manusia sbg makhluk berpikir adalah fitrah Tuhan. Agar fitrah ini berjalan baik mk manusia jg diberi fitrah lain, yakni makhluk beragama (homo religious). Hanya dg inilah maka iqra bismirobbikalladzi khalaq dpt dilakukan….. Jd, yg seharusnya adalah bukan aku berpikir maka aku ada” (kata Rene Descartes), tapi, “aku berpikir yg bismirobbi mk aku ada”…. Bahkan mengacu QS 2:30-34 bs jg “aku ada mk aku berpikir/iqra”, kedua pernyataan dari saya ini berdasar kenyataan bahwa innate idea, yg dibawa-besarkan Descartes, sebenarnya ide2 pemberian Tuhan, bukan tiba2 ada. Tuhan memberi meski hanya sedikit (QS 17), shg rasionalitas manusia tetap hrs di bawah rasionalitas ketuhanan. (2). Manusia hanya bisa berpikir ttg makhluk Allah, tdk bs berpikir ttg dzat Allah ((QS 3:190-191). Allah tidak memerintahkan manusia berpikir tentang dzat dirinya. Hal ini bisa dimaklumi karena (i) Allah adalah sang pencipta segalanya (khaliq), yang berbeda dengan segala sesuatu dan tidak ada yang serupa dengan Dia. Tidak ada satu konsep pun yang bisa digunakan rasio manusia untuk bisa menggambarkan dzat Allah ini. Manusia hanya diberikan penjelasan tentang dzat Allah, antara lain di QS 112:1-4 (Allah itu Esa, tempat meminta, tidak beranak dan diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan Dia); (ii) Sebagai makhluk, manusia tidak akan mampu berpikir tentang sang penciptanya karena jangkauan pikiran manusia terbatas. Segala upaya menggambarkan dzat Allah akan jatuh pada penjelasan spekulatif yang tidak jelas dan bisa menyesatkan. Pemikiran tokoh rasionalisme Spinoza yang meyakini bahwa “God exists only philosophically” (Calhoun, 2002 dikutip di Endraswara, 2012, h.59), yang bermakna hanya akal pikiran kita yang dapat menjangkau keberadaan-Nya, telah menjauhkan diri kita untuk mengamati secara langsung alam semesta sebagai sarana menemukan keagungan-Nya. “Berpikir” juga diajarkan dalam kitab suci yang lain. Al-kitab misalnya, mengajarkan di Lukas 12:54.

Jadi, kitab suci itu riil dan empiris, bukan fiksi atau fiktif. Tetapi, konsep empiris ini berbeda dg empirisme filsafat Barat. Jika cara berpikir versi Islam di atas (no 1 dan 2) ini kita lakukan maka kita semakin dekat kpd Nya. Agama dan ilmu adalah kesatuan, tdk boleh dipisah krn keduanya fitrah manusia. Wallahu a’lam bisshowab. CakRK.

Tunggu terbitnya buku saya Pengantar Lengkap Komunikasi: Filsafat, etika & perspektif Islam.

Ilmuwan Indonesia ilmuwan agamis

Oleh: Rachmat Kriyantono, PhD

Di tulisan ini, saya sampaikan tentang pentingnya pemahaman tentang keterkaitan ilmu dan agama. Hanya saja, saya sampaikan secara khusus dalam perspektif Islam, agama yang saya lebih memahaminya daripada agama yang lain. Bagi yang ingin mengaji dari perspektif agama selain Islam, silakan mempelajarinya sesuai dengan agamanya masing-masing. Tetapi, intinya, saya ingin sampaikan bahwa agama adalah basis teoritis atau grand theory segala ilmu yang dipelajari manusia.

Islam memiliki bnyk filsuf/ilmuwan yg memadukan akal, tasawuf dan nilai2 agama, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, ar-Razi, al-Kindi, ibnu Rusyd, al-Gozali, dll. Tdk sedikit yg dijadikan panutan bangsa Eropa. Bahkan, pemikiran ibnu Sina dan ibnu Rusyd, menurut Amstrong (2006), telah mendorong munculnya Renaissance di Eropa. Ibnu Sina pun dsb Avecena dan ibnu Rusyd dsb Averose. Ibnu Sina adalah penemu sistem peredaran darah sebelum dunia meng-klaim sbg temuan William Harvey (as-Sirjani, 2011). Sebelum Durkheim menemukan social cohessive, ibnu Khaldun menemukan Assabieh. Konsep assabieh ini yg sesuai ajaran Nabi SAW bahwa adin al mu’malah, agama adalah interaksi. Mestinya Khaldun dsb bpk sosiologi, bukan Durkheim (Ritzer & Godman, 2009). Semua Pemikir Islam tsb telah aplikasikan perintah Qur’an: “iqra bismirobbikalladzi khalaq” (bacalah/pelajarilah dg tetap atas nama Tuhanmu).
Pemikir muslim tsb yg mesti dijunjung dan dijadikan panutan muslim. Bukan menjunjung org yg memisahkan rasionalitasnya dg radionalitas Tuhan. Ilmu adalah agamis dan agama adalah ilmiah. Yg terjadi malah membela mati-matian filsuf yg pemikirannya acap kali menjauh dari prinsip ketuhanan, sekuler, yg bahkan berucap kitab suci adalah fiksi, serta sering bersikap solipsistik (kecongkaan intelektual, menganggap lbh pintar dr yg lain). Tdk sedikit yg memperlakukannya bagai ulama agama yg ucapannya diamini dg takbir. Apakah hanya krn ucapannya mendukung kepentingan politikmu?

Benar kata ibnu Rusyd: “agama bs membuat kejelekan menjadi “kebaikan”. Itu hanya terjadi, jika agama yg suci dijadikan pembungkus kepentingan duniawi. Mari, kita panuti ilmuwan yg “bismirobbikalladzi khalaq” dlm ber-“iqra” menghasilkan ilmu. Krn kata Nabi SAW: “tiada berilmu org yg tdk bermoral/ber-adab”, dan dasar segala moral adalah moral ketuhanan. “Ilmu berawal dari adab yg membawa pd amal” (Kamaludin, 2015). CakRK.

Baca jg di buku saya: Pengantar Lengkap Komunikasi: Filsafat dan Etika ilmu serta Perspektif Islam.

PENGANTAR FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI

September 17th, 2014 No comments

Berikut materi saya tentang pengantar filsafat ilmu komunikasi. Isinya membahas definisi filsafat, alasan perlunya berfilsafat, cara-cara dan gaya berfilsafat, dan posisi filsafat terhadap ilmu. Silahkan download di:

FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI unt mhs

Five Books of Mine

IMG_8118

Critical Public Relations adalah perspektif baru yang belum banyak berkembang di Indonesia. Buku ini hadir sebagai referensi baru kajian pendekatan kritis pada Public Relations dan Manajemen Krisis, seperti:

  1. Isu & Crisis Management: Teori dan Praktik
  2. Public Relations Kritis (Critical Public Relations)
  3. Riset Public Relations & Crisis Management
  4. Metode Riset Kualitatif, Etnografi Konvensional & Etnografi Kritis disertai contoh
  5. Sosialisasi Teori: Situational Theory of the Public & Situational Crisis Communication Theory
  6. Studi Kasus Etnografi Kritis & dilengkapi riset-riset dari berbagai jurnal internasional

Komentar beberapa pakar ttg buku ini:

“Dr. Rachmat’s works at the current edge of public relations work and its application in what is arguably one of the first insights into the dynamics of public relations & crisis management in Indonesia. Using his own fieldwork studies, the author provides a rich account of the dynamics of a major and still unresolved crisis in Indonesia, in an era where information. He provides a compelling picture of the complexities, tensions and trade-offs involved between the powerful and the powerless and the role, ethical and otherwise, that public relations plays in this heart-breaking real-life examples.”

Prof. Mark Balnaves (Professor & Senior Research Fellow of New Media Curtin University, Australia)
===============================

“Dr Kriyantono’s work is a major contribution to the study of Public Relations. In particular it offers, for students and practitioners alike, for example, an insight into an understanding of the important issue of crisis management within this field of Public Relations.”

Dr. Dennis Wood (Course Coordinator – Communications Foundation Year Edith Cowan University, Australia)

                                                 ================================

“Rachmat has completed a detailed examination of a complex natural disaster. He examines how theories of public relations issues and crisis management, corporate social responsibility and risk management collide with community expectations and cultural social realities. The author raises questions of the influence of power and he discusses how perceptions and the seeming realities can change as different disciplines are brought to bear on the same evidence and as social attitudes and cultural understandings are put under extreme pressure. This book is important in its study of the impact of resource development and subsequent disaster in a closely settled region where traditional values are paramount”

Associate Professor Kevin Smith (Lecturer of Public Relations, School of Communication, ECU, Australia)

“Critical ethnography is not often used in public relations scholarship so this approach is a welcome addition to the field.The approaches and methods used in this study are appropriate for responding to the research question and offer fresh perspectives in understanding the processes and challenges of crisis communication in international, specifically Asian, contexts.

Marianne D. Sison, Ph.D, FPRIA

(Deputy Dean, International School of Media and Communication, RMIT Merlbourne-Australia)

   In summary, this book significantly adds of the discipline of Communication, particularly the application of critical ethnography in the field area of Public relations and crisis management. The research in this book will also become a potential example for research in the field area studied, since I acknowledge that this methodological approach is rarely attempted by the Communication scholars and researchers in Indonesia.

 

Rachma Ida, M.Comms, Ph.D

Head of Communication Postgraduate Program, Airlangga University

Master of Communications Edith Cowan University Western Australia

Doctor of Philosophy in Communication Curtin University Western Australia

================================================================================================

Cover Baru

Buku Metodologi Penelitian Komunikasi yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono ini bukanlah sebuah karya yang terlepas begitu saja dari sekian banyak literatur metodologi penelitian sosial atau metodologi penelitian komunikasi yang ada di masyarakat. Lebih spesifik lagi, karya ini mencoba mengkategorisasi jenis paradigma dan jenis metode yang mengikutinya dalam dua paradigma dominan, yaitu paradigma penelitian kuantitatif positivistik dan paradigma kualitatif fenomenologi. Walaupun pada paradigma kuantitatif, karya ini terpaku pada cara-cara statistik ortodok membedah data dengan pisau statistika, akan tetapi pada paradigma kualitatif, keberanian penulis mengemukakan metode-metode analisis isi, analisis domain dan teknik komparatif konstan. Sesuatu yang paling baru juga adalah keberanian penulis mengemukakan beberapa alternatif metode penelitian dan analisis komunikasi seperti antara lain, analisis Teori Niche, observasi partisipasi media, riset public relation kontemporer seperti framming analysis, analisis wacana, semiotika dan sebagainya yang menurut kebiasaan hal ini adalah sesuatu yang baru dan perlu dibaca, hal mana yang mendorong saya merasa perlu memberi pengan-tar pada tulisan ini. (Prof.Dr. Burhan Bungin, M.Si)

================================================================================================

IMG_8110

Buku ini hadir seperti menjawab pertanyaan para praktisi PR. Yakni apa yang harus dilakukan di era internet, termasuk menyesuaikan produk-produk komunikasinya. Karena terjadi perubahan mainstream di media. PR tak hanya sekedar memadamkan ‘kebakaran’, tapi sekarang juga harus mencari apinya. Ditulis dengan gaya yang lugas, mudah namun padat. Dilengkapi dengan contoh dan studi kasus, buku ini memang pantas jadi refensi para praktisi PR.

Mochamad Yusuf, pembicara publik, host radio, pengajar, praktisi PR & penulis buku-

Buku ini disusun untuk mengisi kelangkaan buku tentang Public Relations Writing, yaitu yang secara khusus memfokuskan bahasan pada penulisan produk-produk tulisan public relations sebagai media publisitas korporat. Disuguhkan secara sistematis dan mendalam tentang konsep-konsep penting aktivitas public relations, interaksi public relations dengan bauran pemasaran lainnya, seperti publisitas dan periklanan serta teknik praktis penulisan media Public Relations. Disertai contoh-contoh nyata membangun image akibat publisitas media, tips-tips penulisan, serta alternatif media online bagi aktivitas public relations. Diperkaya ulasan kritis dunia praktis, seperti fenomena hidden advertising. Pembaca akan lebih mengenal secara nyata bagaimana aplikasi public relations writing, seperti strategi press relations, newsletter, company profile, news-journalistic, dan lain sebagainya.

Buku ini perlu dibaca oleh mahasiswa dan pemerhati mata kuliah:

  • Dasar-Dasar Public Relations
  • Penulisan Public Relations
  • Teknik Produksi Media dan Program Public Relations
  • Teknik Publisitas
  • Dasar-Dasar Jurnalistik
  • Komunikasi Bisnis

==================================================================================================

cover manajemen periklanan

Menarik untuk disampaikan bahwa iklan pada dasarnya mengusung dua kepentingan besar. Pertama, sebagai sebuah karya kreatif yang dengan kreativitas yang diusungnya dapat merepresentasikan kepribadian, positioning, dan diferensiasi produk. Di sisi lain, kedua, iklan tentu saja sebagai salah satu promotion tools untuk dapat merangsang adanya pembelian produk. Untuk menjawab dua hal inilaih, kehadiran buku ini saya pikir dapat menjadi salah satu alternatif wacana. Setelah membaca buku ini, saya memandang bahwa kajian-kajian periklanan telah secara jernih dan jelas dibahas dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mahasiswa. Sebagai buku ajar, saya optimis, buku ini dapat memudahkan proses transfer informasi tentang seluk-beluk dunia periklanan. Dilengkapi pula dengan contoh-contoh yang memudahkan penjelasannya.” (Dr. Bambang D.P, S.Sos, M.Si –Ketua Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi UB Malang- dalam Kata Pengantar di buku ini)

===================================================================================================