Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada

http://malang.timesindonesia.co.id/read/18992/2/20170714/090221/abah-anton-dan-branding-religiusitas-dalam-pilkada/

Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada

Home / Opini / Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada
Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada Rachmat Kriyantono, PhD

TIMESINDONESIA, MALANG – Saat berkendaraan di beberapa sudut Kota Malang, pandangan kita dapat menangkap baliho besar berisi foto Walikota Malang, Moch. Anton, dengan kopyah putih, baju muslim warna putih, dan berkalung sarung di pundak, mengajak masyarakat menyukseskan gerakan sholat berjama’ah di awal waktu.

Gerakan ini pun dilegalitaskan melalui surat edaran walikota. Menarik disimak ketika pemasangan baliho gerakan ini dilakukan di saat-saat mendekati pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Malang. Baliho-baliho di sudut kota ini adalah pesan simbolik, dan setiap simbol merepresentasikan makna tertentu dari motif si pembuatnya.

Karenanya, sesuatu yang wajar ketika muncul pertanyaan tentang motif gerakan ini. Tulisan ini berisi pandangan saya bahwa gerakan ini tidak lepas dari strategi komunikasi politik walikota yang biasa dipanggil Abah Anton ini menghadapi pilkada tahun depan.

Tampak bahwa Abah Anton ingin mengajak masyarakat Kota Malang untuk mengadopsi nilai-nilai perilaku bermasyarakat yang terkandung dalam sholat berjamaah. Abah Anton pasti menyadari bahwa mayoritas masyarakat Kota Malang beragama Islam (Muslim).

Data sensus terakhir (2010), penduduk Muslim di Kota Malang berjumlah 729,416 jiwa atau hampir 90% dari total populasi. Agar program pemerintahan dapat efektif meningkatkan kesejahteraan maka pesan-pesan program pembangunan harus diarahkan untuk perubahan perilaku masyarakat menuju kondisi lebih baik.

Sebagai komunikator, Abah Anton berusaha menyesuaikan pesan-pesan programnya sesuai dengan karakteristik target sasarannya yang mayoritas Muslim ini.

Dalam komunikasi politik, pemilihan key-message sangat diperlukan dalam upaya membranding seorang figur komunikator politik. Branding ini diperlukan sebagai positioning atau unique selling point bagi komunikator politik untuk membuat diferensiasi dengan pesaingnya.

Gerakan sholat berjama’ah yang di awal waktu ini tampaknya menjadi key-message bahwa Abah Anton adalah figur pelayan publik yang baik dan figur pencipta harmoni keguyuban dalam masyarakat, seperti yang tercermin dalam kearifan lokal gotong royong.

Melalui kampanye besar-besaran, salah satunya melalui baliho, pesan ini dapat tertancap di benak masyarakat sehingga menjadi merk-nya Abah Anton.

Mengapa sholat berjama’ah, bukan sholat sendirian, yang dipilih? Mengapa harus berjama’ah yang di awal waktu? Pertama, membidik nilai-nilai keagamaan mayoritas masyarakat merupakan prinsip dasar keefektivitasan pesan-pesan komunikasi, yakni homofili.

Prinsip ini berpotensi merangsang interaksi bersama akibat kesamaan identitas dan kepentingan antara komunikator dan masyarakat sehingga muncul ketersambungan hati (sambung rasa) antara Abah Anton dan warga masyarakatnya.

Kedua, ketersambungan kepentingan ini tampak dari kandungan nilai dalam sholat berjama’ah di awal waktu yang dapat menjadi dasar tata kelola pelayanan publik dan harmoni keguyuban berinteraksi warga Kota Malang.

Kandungan nilai sholat berjama’ah di awal waktu ingin dijadikan branding Abah Anton, antara lain membranding dirinya sebagai figur yang berniat baik dalam berdemokrasi dan pelayanan publik.

Hanyalah amalan-amalan tergantung pada niat-niat. Dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan” (HR Bukhari dan Muslim);

Figur yang menjaga interaksi menjalin silaturahim secara langsung dan memberikan pelayanan publik tanpa memandang status sosial dan aliran; Dalam sholat, kaya-miskin, tua-muda, atau orang berbeda suku berbaris rapat, berdempetan dan siapapun dapat berada di barisan depan; Figur yang berdisiplin waktu dalam pelayanan publik. Islam mengajarkan menghargai waktu (QS. Al-Ashr: 1-3). Sholat yang dilakukan tepat waktu lebih diutamakan.

Sesungguhnya sholat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman” (QS. 4: 103);

Figur yang mengajarkan untuk taat dan mendukung seorang pemimpin (imam). Program-program pemimpin dilaksanakan bersama, baik oleh aparat pelayan publik maupun oleh rakyat.

Abah Anton menyimbolkan dirinya sebagai pemimpin yang siap diingatkan jika salah, dengan cara dan kalimat baik-baik seperti yang diajarkan sholat berjama’ah. Tidak perlu teriak-teriak atau dengan paksa mendekati pemimpin untuk menggesernya; Jika pemimpin salah yang bisa membatalkan sholat (baca: membahayakan kepentingan masyarakat), dia akan sukarela mundur tanpa perlu disuruh mundur.

Penggantinya adalah otomatis orang yang paling dekat jaraknya dengan dia, yakni wakil walikota, tanpa perlu rame-rame.

Nilai yang lain, yakni sebagai figur yang mengajarkan memilih pemimpin berdasarkan kemampuannya lebih dulu. Sebagai incumbent, mudah bagi dia untuk mengampanyekan keberhasilan kepemimpinannya.

Jika pemimpin terpilih dalam proses demokrasi, dia mengajak  masyarakat dan pelayan publik (makmun) untuk langsung siap-siap mengikuti kebijakannya.

Tidak ada ada lagi protes-memprotes selama atau sesudah pemilihan; Figur yang menghargai perbedaan pendapat. Dalam sholat, mungkin ada imam yang baca doa qunut, jamaah pun ada yang qunut, tetapi, ada yang tidak baca.

Ada imam yang tidak baca qunut, tapi dengan memberi kesempatan jamaah yang ingin baca qunut. Cara takbir pun bermacam-macam. Berbeda dengan satu tujuan yakni membangun ibadah (kota) yang barokah. Namun tetap terdapat aturan-aturan (rukun sholat) yang harus sama dan tidak boleh dilanggar, di tengah perbedaan itu; Berdemokrasi dengan tetap memberi salam, yakni berdoa dan memberikan kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan antar-umat.

Strategi yang dilakukan Abah Anton ini memiliki peluang yang terbuka untuk mendapat respon positif masyarakat. Setidaknya, Abah Anton sebagai brand akan lebih tertancap dalam benak masyarakat jauh sebelum pesaing-pesaingnya muncul dalam kontestasi pilkada 2018.

Strategi ini saya sebut sebagai “branding religiousitas”, yakni menggunakan nilai-nilai, pernik-pernik atau atribut-atribut agama sebagai key-message pembrandingan.

Manusia, menurut Amstrong (2003) adalah “spiritual animals…homo sapiens is also homo religious.” Agama seringkali menjadi “alat mujarab” menggerakkan perilaku orang karena manusia adalah human religious sehingga agama adalah kebutuhan jiwa dalam bentuk kepercayaan terkait hubungan diri dengan sang pencipta.

Saat ini terjadi perang informasi bertubi-tubi dan tanpa batas melalui teknologi internet sehingga membuat overloaded-rationality sehingga memunculkan kebosanan rasionalitas. Dalam konteks inilah, Abah Anton mencoba menggali peluang dengan menggunakan agama dan kepercayaan sebagai key-message brandingnya.

Strategi ini makin meneguhkan branding Abah Anom selama ini melalui program-program religinya kepada masyarakat, seperti program wisata religi. Kita tunggu hasilnya di pilkada Kota Malang 2018.

*Penulis adalah Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi FISIP-Universitas Brawijaya

Gadget dan Masyarakat Informasi: Gadget jadi alat bukan Memperalat

Ini artikel saya ttg gadget dan dampaknya di masyarakat. Apa benar kita sekarang ini disebut masyarakat informasi?

http://m.timesindonesia.co.id/read/152096/20170717/073456/gadget-jadi-alat-bukan-memperalat/#!

Gadget dan Informasi

Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat

Home / Opini / Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat
Dibaca: 14.92k Kali
Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat Rachmat Kriyantono, PhD

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beberapa media, termasuk TIMES Indonesia, memberitakan pemblokiran yang dilakukan Kemenkominfo terhadap telegram serta wacana kemungkinan pemblokiran media sosial. Beberapa negara, di luar Indonesia, telah melarang warganya mengakses facebook dan lain-lain media sosial.

Hal ini mendorong kembali munculnya pertanyaan tentang penggunaan gadget (handphone, smartphone atau tablet) di tengah-tengah masyarakat sebagai sarana akses internet.

Survei terbaru Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) menemukan bahwa 132 juta dari 256 juta orang Indonesia sudah ber-internet ria. Jumlahnya mengalami kenaikan 51.8 persen dibanding survei tahun 2014.

Ditemukan juga bahwa 67.2 juta orang mengakses melalui gadget dan komputer, 63.1 juta orang mengakses dari gadget, dan 2.2 juta orang mengakses hanya dari komputer.

Meski penetrasi internet ini mayoritas masih berada di Pulau Jawa, yakni sekitar 86,3 juta orang (65 persen), tetapi, sudah cukup menunjukkan dampak dari booming gadget di Indonesia karena mayoritas penduduk berada di Pulau Jawa.

Sebagian dari kita menyebut masyarakat Indonesia telah masuk era masyarakat informasi, seperti yang ditulis Johan Naisbitt di buku Megatrends, yaitu produksi merupakan hasil interaksi antarmanusia akibat perkembangan inovasi teknologi komunikasi. Hal ini merupakan perkembangan dari era masyarakat industri, yakni produksi dihasilkan oleh interaksi antara manusia dengan alam yang terolah.

Tetapi, saya menganggap perkembangan teknologi komunikasi yang canggih dan masyarakat melek teknologi saja bukan jaminan bahwa masyarakat itu disebut masyarakat informasi.

Saya berpendapat bahwa suatu masyarakat baru dapat disebut masyarakat informasi bila ditandai oleh kebudayaan informasi, yaitu masyarakat “memiliki kesadaran informasi yang tinggi, mengandalkan informasi dalam segala bidang kehidupan sehingga mampu mengolah dan memanfaatkan informasi secara efektif dan efisien serta meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja.”

Di sinilah terjadi paradoks masyarakat informasi. Di satu sisi, booming-nya gadget dan akses internet, menunjukkan penetrasi teknologi komunikasi yang semakin canggih dan membantu segala aspek kehidupan.

Pergerakan manusia semakin cepat dan meluas karena gadget memudahkan kita berkomunikasi dengan kolega yang berjauhan tempat tinggalnya, memudahkan dalam mencari informasi, bertransaksi online, dan meningkatkan sendi perekonomian.

Handphone dan aneka gadget telah mendarah daging dan menjadi teman yang kita sapa saat bangun tidur serta teman terakhir saat menjelang tidur lagi.

Di sisi lain, alih-alih membawa masyarakat kita menuju masyarakat berkualitas, teknologi canggih ini cenderung mereduksi kualitas masyarakat, akibat kurang bijak dalam penggunaannya.

Jika kita tidak dapat mengelola penggunaan gadget, membuat kita kecanduan dan berdampak negatif. Sifat kecanduan ini tampak dari data bahwa orang Indonesia rata-rata mengecek ponselnya lebih dari 80 kali setiap hari.

Karenanya, saya menyebut masyarakat kita hanya dalam taraf sudah masuk era masyarakat teknologi, yakni masyarakat pengguna (user atau konsumen) teknologi, tetapi, belum dapat disebut masyarakat informasi.

Penggunaan gadget yang menjamur ini belum dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat agar berdaya saing dengan bangsa lain. Teknologi belum digunakan optimal untuk birokrasi, seperti pengurusan surat-menyurat, kearsipan atau pelayanan publik lainnya.

Budaya langsung bertemu masih mewarnai birokrasi pelayanan publik, yaitu masyarakat masih harus datang langsung ke kantor pelayanan publik meski sekadar menyerahkan foto kopi akta lahir (yang sebetulnya dapat discan dan diemail).

Mahasiswa banyak yang berinternet, tetapi, lebih banyak untuk main game atau hiburan lainnya, seperti facebook, Whatsapp, atau instagram. Hal ini diperkuat data bahwa pengguna facebook sangat besar, yakni 88 juta orang dan 94% di antaranya mengakses facebook dari gadget mobile.

Belum banyak mahasiswa yang menggunakan internet untuk eksplorasi jurnal-jurnal ilmiah untuk memperkaya pengetahuannya atau untuk referensi membuat skripsi, tesis atau disertasi.

Internet mendorong peningkatan budaya copy-paste untuk tugas-tugas pelajar, mulai dari siswa SD hingga mahasiswa.

Dari observasi di kelas selama saya mengajar, saya menemukan perubahan perilaku mahasiswa. Sebelum handphone banyak beredar (sekitar 1990-an), mahasiswa biasanya membaca, mengobrol, coret-menyoret di kertas atau termenung sendiri saat menunggu dosen datang di kelas.

Saat handphone menjamur (akhir 1999an-sekarang), mahasiswa menggunakan handphone (sms, telepon, game atau internet), mengobrol atau termenung saat menunggu dosen datang di kelas. Jadi, kebiasaan membaca digeser oleh penggunaan handphone.

Gadget membuat penurunan kualitas interaksi tatap muka langsung, masyarakat menjadi antisosial (isolasi diri) karena asyik bermain gadget, dan kohesi sosial pun berubah menjadi kohesi di dunia maya. Misalnya, sekelompok orang setuju membuat acara kemah bersama. Setelah tenda didirikan, semua orang masuk, dan tidak berapa lama, masing-masing sibuk dan terbuai bermain gadget.

Budaya cangkruk dan arisan berubah menjadi main gadget rame-rame atau diganti cangkruk virtual dan arisan virtual. Budaya senyum, sapa, salam pun menurun. Pelajar memilih berasyik ria pencet tombol dan geser layar sehingga melupakan guru dan dosen yang lewat di depannya.

Gadget membuat kita banyak melakukan tindakan komunikasi, tetapi, tindakan komunikasi tersebut belum tentu bermanfaat. Internet yang makin mudah diakses lewat gadget berpotensi mengancam nilai-nilai kebajikan agama.

Tidak sedikit interaksi melalui media sosial berisi hujatan, caci maki, fitnah, adu domba, menghina, dan olok-mengolok sesama, yang semuanya dilarang agama. Bahkan melalui gadget, orang lebih mudah mengakses kampanye kekerasan, pembullyan, persekusi, dan terorisme. Sifat persaudaraan anak bangsa pun tereduksi dan perbedaan serta permusuhan berpotensi melebar bagaikan jurang yang menganga.

Gadget juga membuat munculnya deteritorialisasi budaya menuju keseragaman budaya, yaitu budaya sudah tidak mungkin lagi dilokalisasi berdasarkan wilayah tertentu. Budaya Amerika tidak hanya terjadi di Amerika Serikat tapi juga diadopsi oleh masyarakat kita, seperti cara berpakaian (rok mini, banyak gadis yang bercelana pendek keluar rumah), cara berperilaku (seperti seks bebas) atau cara bermusik (musik rock, jazz, reggae, rapp, conutry).

Adler & Rodman (2006) mengatakan: “More communication is not always better… One key to successful communication, then, is to share an adequate amount of information in a skillful manner.” Menggunakan teknologi komunikasi dengan bijak dan untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing kita merupakan wujud dari ‘skillful manner’ tersebut.

Situasi ini mestinya membuat kita berpikir tentang dampak negatif gadget, selain kita akui dampak positifnya. Gadget hanyalah alat, bukan kita yang diperalat olehnya.(*)

* Penulis adalah Rachmat Kriyantono, PhD,  Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi
FISIP Universitas Brawijaya

TOLERANSI GAYA HIDUP MUSLIM

http://m.timesindonesia.co.id/read/151018/20170628/120343/toleransi-sebagai-gaya-hidup-muslim/

Categories: Uncategorized Tags:

Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Efektivitas Komunikasi Interpersonal Dan Kepuasan Kerja (Studi Eksplanatif di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah)

Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Efektivitas Komunikasi Interpersonal Dan Kepuasan Kerja (Studi Eksplanatif di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah)

Sri Wahyunie, Sanggar Kanto, Rachmat Kriyantono

 

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh iklim komunikasi organisasi terhadap efektivitas komunikasi interpersonal dan kepuasan kerja di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah. Penelitian dilakukan di kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah pada bulan September 2014 untuk pengambilan data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan melibatkan 33 responden yang dipilih sesuai populasi yang ada. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji analisis jalur (Path Analysis),dimana analisis jalur ini menguji apakah terdapat pengaruh langsung atau tidak langsung iklim komunikasi organisasi terhadap kepuasan kerja.

Hasil penelitian menunjukkan nilai iklim komunikasi organisasi memperoleh nilai gabungan 3,53. Nilai efektivitas komunikasi interpersonal memperoleh nilai gabungan 3,87. Nilai kepuasan kerja memperoleh nilai gabungan 3,96. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepuasan kerja pegawai di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga berada pada tingkat cukup baik. Iklim komunikasi secara langsung memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap efektivitas komunikasi interpersonal dengan taraf signifikansi sebesar 0,026. Iklim komunikasi secara langsung memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja dengan taraf signifikansi sebesar 0,036. Efektivitas komunikasi interpersonal secara langsung memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja dengan taraf signifikansi sebesar 0,001. Iklim komunikasi organisasi juga secara tidak langsung memiliki pengaruh terhadap kepuasan kerja dengan melalui efektivitas komunikasi interpersonal sebagai mediasinya dengan taraf signifikansi sebesar 0,171 atau 17,1%. Secara simultan terdapat Pengaruh iklim komunikasi organisasi dan efektivitas komunikasi interpersonal terhadap kepuasan kerja secara gabungan adalah 37,6% sedangkan 62,4% dipengaruhi oleh faktor lain.

 

Kata Kunci: iklim komunikasi organisasi, efektivitas komunikasi interpersonal, kepuasan kerja

Keywords

klim komunikasi organisasi, efektivitas komunikasi interpersonal, kepuasan kerja
Full Text:

Pengaruh Self Esteem, Self Efficacy, dan Locus of Control Terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja Public Relations (Studi Eksplanatif Pada Public Relations Santika Indonesia Hotel and Resort)

Silakan buka link ini: http://wacana.ub.ac.id/index.php/wacana/article/view/466

Pengaruh Self Esteem, Self Efficacy, dan Locus of Control Terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja Public Relations (Studi Eksplanatif Pada Public Relations Santika Indonesia Hotel and Resort)

Nisrin Husna, Sanggar Kanto, Rachmat Kriyantono

 

Abstract

 

Investasi bidang perhotelan memiliki peluang untuk tumbuh pesat di masa depan, namun juga sekaligus sarat akan persaingan. Peluang dan ancaman ini tentunya harus dapat ditangkap para pelaku usaha di industri perhotelan. Salah satu strategi penting dalam menghadapi persaingan adalah meyakinkan konsumen bahwa perusahaannya memiliki keunggulan lebih dibandingkan dengan perusahaan lain. Meyakinkan konsumen berarti berhubungan dengan meraih persepsi positif atau citra positif di mata publik. Disinilah kemudian peran Public relations dengan motivasi kerja tinggi dan kinerja tinggi sangat dibutuhkan sebagai garda terdepan perusahaan. Judge ,Erez & Bono (1998) mengemukakan bahwa self esteem, self efficacy dan locus of control merupakan ketiga core-self evaluations yang merupakan dasar  pembentukan motivasi individu dalam bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengui pengaruh self esteem,self efficacy, dan locus of control terhadap motivasi kerja dan kinerja Public Relations. Dalam menganalisis pengaruh ketiga variabel tersebut terhadap motivasi kerja dan kinerja Public Relations, peneliti menggunakan pendekatan tradisi sibernetik. Melalui pendekatan tradisi sibernetik, peneliti kemudian menggunakan Expectancy value theory dalam menganalisis pengaruh variabel self esteem, self efficacy dan locus of control terhadap motivasi kerja dan kinerja. Sample penelitian ini adalah praktisi Public Relations Santika Indonesia Hotel and Resort. Penelitian ini menggunakan teknik analisis jalur (path analisys). Dari hasil perhitungan SPSS adalah bahwa variabel self esteem, self efficacy dan locus of control berpengaruh positif terhadap motivasi kerja dan kinerja dengan nilai koefisien jalur self esteem sebesar 0,322, self efficacy 0,340, locus of control 0,346, dan motivasi kerja 0,636. Hasil tersebut berarti  semakin positif self esteem, self efficacy dan locus of control Public Relations maka semakin tinggi motivasi kerja dan kinerja Public Relations Santika Indonesia hotel and resort.

 

HUMAS PEMERINTAH DI ERA DIGITAL

Saya memberikan materi tentang humas pemerintah di era digital, bersama Menteri Kominfo RI dan Juru Bicara Presiden pada 24 Mei 2017. Silakan baca di laman ini:

https://prasetya.ub.ac.id/berita/Dosen-UB-Menkominfo-dan-Jubir-Kepresidenan-Bahas-Humas-Digital-19844-id.html

atau:

Dosen-UB-Menkominfo-dan-Jubir-Kepresidenen-Bahas-Humas-Digital-19844-id

 

PUBLIC’S ATTRIBUTION VS PUNITIVE BEHAVIOR IN INDONESIA PUBLIC RELATIONS PRACTICE

This is my paper, published in Jurnal Ilmu Komunikasi Univ Atmajaya Yogyakarta. Silakan download PDF nya:

Public’s Attribution vs Punitive behavior-Rachmat-JIK Atmajaya

atau kunjungi linknya:

https://ojs.uajy.ac.id/index.php/jik

OSGOOD’S THEORY SEMANTIC DIFFERENTIAL IN CO BRANDING PRODUCT

9. JMMR-Rachmat-CIMSSR-00281

Berikut riset saya yg publish di JMMR. Silakan donwload di PDF di atas

 

Do the Different Terms A ffect the Roles? A Measu rement of Excellent and Managerial Role of Business and Governme nt Public Relations Practices in Indonesia

This is my research publication in IJABER (Scopus indexed). Describing the differences between public relations and Humas in conducting their roles. Please find the article in the link below:

http://www.serialsjournals.com/serialjournalmanager/pdf/1494930411.pdf

or this PDF: RACHMAT JURNAL IJABER-SCOPUS

 

 

Teknik mengutip/Referencing

Berikut teknik referencing APA edisi 6, dipakai oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya.

SISTEM PENGUTIPAN Referencing APA edisi 6

RACHMAT-APA Referencing

Categories: Uncategorized Tags: