Archive

Author Archive

About Rachmat Kriyantono, Ph.D

Here are my most recent posts

business and government PR in Indonesia

Categories: Uncategorized Tags:

Ikatlah Ilmu dengan Publikasi Internasional

Tulisan saya tentang pentingnya publikasi internasional. silakan baca di link berikut:

http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/index.php/2017/07/21/ikatlah-ilmu-dengan-publikasi-internasional/

Ikatlah Ilmu dengan Publikasi Internasional

Jumat, 21 Juli 2017 | 16:09 WIB


Oleh:

Rachmat Kriyantono, PhD

Ketua Program Studi Magister (S2) Ilmu Komunikasi

Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya

 

Publikasi dan jenjang karir profesi

Mempublikasikan paper secara internasional adalah perlu bagi setiap dosen, yang merupakan pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan iptek melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Setiap dosen ditantang bukan hanya memproduksi karya-karya ilmiah, tetapi juga dituntut mendiseminasikan karya-karya tersebut. Hanya dengan diseminasi karya ilmiah, ilmu pengetahuan dapat berkembang. Hal ini juga tercantum di berbagai regulasi (UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 60; UU No 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 4; Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara no 17/2013 tentang Jabatan Fungsional dan Angka Kredit Dosen pasal 7). Agar dapat memenuhi tujuan pendidikan tinggi (pasal 5 UU No 12/2012), maka dosen diwajibkan menyebarluaskan karya-karya tersebut dalam publikasi ilmiah (pasal 12 UU No 12/2012; dan pasal 49 UU No 5/2014). Jenis publikasi ilmiah ini, menurut pasal 8 Permenpan No 17/2013, dapat berbentuk buku referensi, buku ajar, monograf, artikel di media massa, dan jurnal ilmiah nasional dan internasional.

Kewajiban membuat dan menyebarluaskan karya ilmiah juga menjadi instrumen menentukan jenjang karir dosen (Permenpan No 46/2013 dan Permenpan No 17/2013), seperti kenaikan jabatan akademik dosen menjadi Lektor (senior lecture), Lektor Kepala (associate professor), dan Guru Besar (professor) harus memiliki publikasi jurnal nasional akreditasi dan atau internasional bereputasi. Peluang loncat jabatan pun terbuka dengan syarat wajib mempunyai jurnal internasional bereputasi.

Terbaru, Permenristekdikti no 20/2017 tentang pemberian tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan profesor mengatur bahwa dosen yang Lektor Kepala harus menghasilkan minimal tiga publikasi jurnal nasional terakreditasi atau satu jurnal internasional dalam kurun tiga tahun sebagai syarat turunnya tunjangan. Profesor harus mempunyai publikasi minimal tiga di jurnal internasional atau satu di jurnal internasional bereputasi dalam waktu tiga tahun untuk mendapat tunjangan.

Aturan yang baru ini memunculkan pro dan kontra dari para dosen. Pencabutan tunjangan profesi dinilai sangat memberatkan karena kinerja dosen bukan hanya publikasi, tetapi masih ada tugas-tugas Tri Dharma lainnya. Sanksinya mestinya bukan pencabutan, tetapi hanya pengurangan tunjangan profesi. Aturan publikasi ini dinilai memberatkan dosen karena mahalnya biaya publikasi jurnal internasional dan dapat menutup rezeki bagi dosen. Namun, tidak sedikit dosen yang memandang aturan ini secara positif. Mereka menilai aturan ini dapat menstimuli publikasi para dosen yang memang masih sedikit karena dosen masih terjebak dengan rutinitas di kampus, khususnya mengajar dan terbebani memenuhi standar beban kerja dosen.

Setiap aturan dimungkinkan tetap mengandung kekurangan. Kritik dan keberatan dosen perlu diakomodasi dan diberikan solusi terbaik dari pemerintah. Seiring dengan itu, penulis mengajak sejawat dosen untuk tidak terpaku mempersoalkan kekurangan aturan, yakni dengan melihat aspek positif aturan baru ini. Implikasi kewajiban publikasi karya ilmiah adalah bagian dari tantangan mengasah diri demi kualitas pengembangan ilmu. Publikasi karya ilmiah sebagai syarat kenaikan jabatan akademik dan tunjangan dosen dapat dilihat sebagai reward agar dosen lebih bersemangat menjalankan amanat pokok profesinya, yakni pengembangan ilmu. Melalui karya ilmiah, dosen dapat membangun budaya akademik yang baik, seperti terbiasa melakukan critical thinking, melakukan riset dengan baik, kemampuan analisis dan solusi, kemampuan beragurmen dengan baik serta menguasai teknik menulis ilmiah.

Membangun reputasi, jejaring, dan daya saing bangsa

Publikasi di jurnal internasional merupakan alat membangun reputasi individu dosen dan universitas tempat dosen itu mengabdi. Dengan bantuan internet, artikel yang dimuat dapat dibaca dan diisitasi akademisi di dunia. Artikel yang disitasi diartikan telah mengandung konten yang layak secara ilmiah sebagai sumber kebenaran pengembangan keilmuan. Dosen yang karya ilmiahnya banyak disitasi akan mendapatkan h-index yang tinggi, yang menjadi indikator pengakuan dunia akademik terhadap eksistensi dan kualitasnya.

Publikasi di jurnal internasional membuka peluang membangun kerjasama dan network dengan ilmuwan lain, dari dalam dan luar negeri. Networking dapat terjadi dengan mengajak ilmuwan lain berkolaborasi menghasilkan karya ilmiah atau ketika ilmuwan lain mem-follow up karya kita melalui kontak email dan menawarkan riset bersama.

Publikasi ilmiah di jurnal internasional juga membuka peluang mendapatkan penghargaan (noble winning), beasiswa, dan funding. Kemristekdikti dan perguruan tinggi memberikan insentif untuk artikel yang terbit di jurnal internasional. Beberapa perguruan tinggi telah mensyaratkan mahasiswa program Magister dan Doktor untuk mempublikasikan risetnya sebagai syarat kelulusan atau ikut ujian tesis/disertasi. Riset tesis atau disertasi yang diolah untuk dimuat di jurnal internasional dianggap telah mengandung konten yang layak secara ilmiah sehingga menjadi peluang dosen untuk menjadi bagian dari publikasi karya ilmiah karena aktif membimbing.

Banyaknya publikasi internasional telah menjadi indikator kemampuan daya saing bangsa di level dunia. Ada relasi antara produktivitas publikasi dengan kondisi ekonomi suatu negara, yakni negara-negara yang ekonominya baik ternyata memiliki jumlah publikasi internasional yang tinggi (Pratomo, 2015), dan produktivitas publikasi menjadi indikator daya saing di bidang riset dan pendidikan (Jayanegara, 2015).

Publikasi internasional membuka peluang para dosen untuk mengembangkan dan menyosialisasikan ilmu pengetahuan berbasis perspektif lokal. Saat ini pengembangan teori masih didominasi oleh ilmuwan Amerika Serikat dan beberapa negara barat di Eropa (Ayish, 2003; Sriramesh & Vercic, 2003). Padahal, Indonesia dan negara-negara Timur (Asia) memiliki karakter sosial budaya yang khas, yang tidak sepenuhnya sama dengan karakter negara-negara Barat (Gunaratne, 2009; Littlejohn & Foss, 2008) yang mempengaruhi pengembangan teori-teori (McQuail, 2000). Kurangnya kajian dalam konteks Indonesia menyulitkan ilmuwan Barat mendapatkan literatur kajian dalam perspektif Indonesia (Hobart, 2006).

Sebagai contoh kajian Ilmu Komunikasi, gagasan tentang studi komunikasi dari perspektif Asia telah meningkat akhir-akhir ini (Dissayanake, 1988; Gunaratne, 2009; Kriyantono, 2014; Littlejohn & Foss, 2008; Raharjo, 2013). Cina, Jepang, India dan Korea Selatan, telah berhasil memunculkan teori komunikasi Cina, Jepang, India dan Korea Selatan dan disebarkan dalam buku dan jurnal internasional (Dissayanake, 1988; Dissayanake, 2004; Gunaratne, 2009). Dari 27 teori public relations, misalnya, tidak ada satu pun teori dalam perspektif Indonesia (Kriyantono, 2014). Yang menarik, keberhasilan memunculkan kajian teoritis dalam perspektif lokal di Cina, Jepang, India dan Korea Selatan berkorelasi dengan banyaknya jumlah publikasi ilmiah, yakni menjadi empat besar negara Asia terbanyak jumlah publikasi jurnal internasional (Pratomo, 2015).

Karya ilmiah berbasis kearifan lokal membuktikan bahwa Asia memiliki potensi daya saing di level dunia. Cina, Jepang dan India juga masuk 10 besar dunia untuk jumlah karya ilmiah yang terbit di jurnal internasional bereputasi (terindeks scopus). Kesepuluh besar ini adalah Amerika Seriikat (537 ribu); Cina (392 ribu); Inggris (152 ribu); Jerman (143 ribu); Jepang (118 ribu); Prancis (102 ribu); India (98 ribu); Italia (85 ribu); Kanada (84 ribu); dan Spanyol (76 ribu).

Potensi perlunya publikasi internasional di atas, belum diikuti jumlah publikasi ilmiah dosen di Indonesia. Pada 2014, Indonesia masih kalah dengan Hongkong, yang hanya sebuah kota di Cina. Di antara negara Asia Tenggara pun, Indonesia masih kalah dengan Malaysia, Singapura dan Thailand. Indonesia mempublikasikan 5.665 artikel, Malaysia 25.883 (400% lebih banyak) (Pratomo, 2015).

Kendala dan Solusi Publikasi Internasional

Bahasa Inggris adalah kendala yang paling banyak dirasakan para dosen. Perlu solusi agar universitas menyediakan departemen khusus yang membantu dosen terkait English Academic Writing, seperti penerjemahan, secara gratis.

Kendala lain adalah ketersediaan waktu yang sedikit untuk menulis dan melakukan riset karena beban kerja yang tinggi, yakni sangat tersita untuk mengajar dengan jumlah mahasiswa yang banyak, membimbing skripsi, tesis atau disertasi, membimbing magang, melakukan pekerjaan administrasi hingga tugas-tugas struktural. Riset adalah bahan material pokok dari aktivitas menulis publikasi. Tanpa riset, sulit mendapatkan bahan material yang valid dan update (quality of the publication reflects the quality of the research).

Sebagai contoh, Grunig, Grunig & Dozier (2002) membutuhkan waktu 15 tahun dan membutuhkan 327 organisasi sebagai objek di tiga Negara (AS, Inggris, dan Kanada), untuk dapat menghasilkan teori baru public relations (Teori Excellent).

Minimnya dana riset mempengaruhi keluasan riset untuk menghasilkan generalisasi data. Program hibah yang mensyaratkan gelar akademik doktor atau lektor kepala untuk menjadi ketua (penulis pertama), juga turut menjadi kendala. Dalam ilmu sosial, situasi ini makin diperparah oleh faktor eksternal, yaitu sulitnya mencari responden yang bersedia. Meskipun sudah ada UU Keterbukaan Informasi Publik yang mengatur jenis-jenis informasi yang harus dibuka untuk publik dan juga ada aturan etika riset tentang anonimitas responden, banyak lembaga pemerintah dan swasta sulit membuka diri sebagai sumber data.

Terbatasnya waktu, tenaga, dan biaya mengakibatkan tidak sedikit riset lebih berorientasi ‘membuat laporan’ dan ‘tambah modal’ bukan ‘membuat publikasi jurnal internasional’. Perlu kebijakan pemerintah agar lembaga pemerintah dan swasta bersedia mendukung kegiatan riset dari kampus.

Kendala lain adalah teknik penulisan, termasuk logika berpikir dan teknik referencing standar jurnal reputasi. Negara Barat mendominasi penyebarluasan ilmu pengetahuan, yakni penguasaan Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dan teknologi komunikasi untuk diseminasi ilmu dan bisnis pendidikan (melalui scopus atau Thompson).

Biaya juga menjadi kendala publikasi internasional, baik itu untuk proses penerjemahan maupun biaya publikasi. Memang terdapat jurnal terindeks scopus yang gratis (Open Access System), tetapi, persaingannya memang lebih sulit. Karena itu, banyak dosen yang memilih jurnal lain yang terindeks scopus tetapi berbayar.

Kendala lain, yakni kurangnya jurnal yang memiliki reputasi terakreditasi nasional dan internasional. Kenyataan inilah seharusnya mendapat perhatian lebih serius dari Kemenristekdikti, mendorong program studi mengelola dan menerbitkan jurnal bereputasi. Setidaknya baru delapan jurnal Indonesia yang masuk kategori jurnal bereputasi karena telah terindeks Scopus. Kementerian dan perguruan tinggi perlu memberikan ketersediaan fasilitas pendukung mendorong publikasi. Dosen pun perlu meningkatkan motivasi meningkatkan kualitas diri.

Selain kendala-kendala tersebut, ada satu hal yang paling mendasar yang harus kita akui secara terbuka, yaitu, belum kuatnya keinginan kita untuk menggali kajian ilmu berbasis kearifan lokal. Sudah banyak master dan doktor Indonesia lulusan luar negeri, tetapi, masih cenderung mengaji fenomena berdasarkan teori-teori perspektif Barat. Ditambah lagi, tidak sedikit kalangan akademik yang masih mendewa-dewakan literatur Barat dan meremehkan literatur kolega sendiri. Tidak sedikit literatur yang dibuat penulis Indonesia yang sudah dapat dikategorikan baik. Apalagi, sebuah kajian teoritis Barat tidak secara otomatis sesuai sepenuhnya dengan konteks sosial budaya Timur.

Ayo, kita ikat ilmu melalui tulisan ilmiah terpublikasi internasional!

https://prasetya.ub.ac.id/berita/Para-Pakar-Berpendapat-Keharmonisan-Bisa-Tercipta-Lewat-Komunikasi-Multikultural-19762-id.html

Para Pakar Berpendapat Keharmonisan Bisa Tercipta Lewat Komunikasi Multikultural

Dikirim oleh prasetyaFISIP pada 18 Mei 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 194

Workshop Dengan Tema “Multicultural Communication In Workplace”

Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB menggelar workshop dengan tema “Multicultural Communication  in Workplace”  di Auditorium Nuswantara Gedung B FISIP UB. Seminar tersebut sekaligus sebagai tanggapan tentang fenomena komunikasi Masyarakat Indonesia akhir akhir ini.

Acara tersebut menghadirkan dua pembicara yang pertama Dewita Annysa Carson selaku tutor dari Curtin University sekaligus Dosen di South Metropolitan TAFE Perth Western Australia dan kedua yaitu Rachmat Kriyantono selaku Dosen dan Peneliti dari Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya. Dalam kesempatan tersebut, Rachmat menyampaikan bahwa Indonesia terdiri dari masyarakat yang sangat multikulturalis, hal tersebut juga tercermin dari Bhinneka Tunggal Ika sebagai sebagai semboyan negara Indonesia. Saat ini multikultural merupakan fenomena yang paling sering dihadapi oleh masyarakat khususnya dalam dunia kerja. Dalam dunia kerja individu akan berhadapan dengan proses adaptasi dengan rekan kerja, atasan, dan bawahan dari berbagai budaya, ras, suku dan agama.

Rachmat menuturkan dalam dunia kerja komunikasi multikulturalisme sangat penting untuk diterapkan mengingat organisasi tidak hanya memperkerjakan individu di dalam suku yang sama ataupun agama yang sama, masing–masing dari pekerja akan menghadapi interaksi multikultural sehingga pekerja dituntut memiliki skill komunikasi multikulturalisme.

“Sudah menjadi kewajiban masyarakat Indonesia untuk menghargai masing masing budaya serta kepercayaan masing – masing suku maupun kelompok. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan keharmonisan di masyarakat. Untuk itu masing – masing kelompok atau suku tidak perlu saling memaksakan kehendak sesuai keinginannya, karena terdapat konsep menghargai tadi,” katanya.

Rachmat juga menambahkan tiga kunci untuk berhasil dalam berkomunikasi multikultural yang pertama “no SARA” atau diskriminasi terhadap masing masing suku atau kelompok, kedua menerima dan mengapresiasi keunikan dan perbedaan masing–masing suku atau kelompok, ketiga mengetahui dimensi antar personal masing masing suku atau kelompok.

Dewita selaku pembicara kedua merespons penjelasan Rachmat dengan memberikan tabel perbedaan karakter antara Indonesia dan Australia yang merupakan kampung halamannya. Dewita memberikan contoh seperti bagi orang indonesia “bicara blak – blakan” bukan menjadi kebiasaan, sedangkan untuk Australia, berbicara “blak blakan” yang pada dasarnya sinonimnya adalah bicara jelas dan gamblang merupakan hal yang biasa dan harus mereka lakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman.

“Menurut saya, kita tidak dapat membahagiakan setiap orang, maka dari itu jangan terlalu berharap untuk menyengangkan hati semua orang, adakalanya kita harus memberitahu hal-hal yang menurut kita orang tersebut berhak tahu, siapa tahu jika dengan memberitahu hal hal tersebut, orang dapat berubah menjadi lebih baik?,” kata Dewita.

Selain itu dalam dunia kerja, skill komunikasi multikulturalisme sangat dibutukan, karena skill tersebut akan menghubungkan masing masing dari ide dan energi tiap individu dari kelompok tim tersebut. Kerentanan skill multikulturalisme di dunia kerja dapat menyebabkan konflik komunikasi yang tidak efektif serta kesulitan untuk beradaptasi dalam dunia kerja. Hal–hal negatif tersebut dapat memicu kegagalan dalam tim kerja. (Anata /Humas FISIP/humas UB)

Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada

http://malang.timesindonesia.co.id/read/18992/2/20170714/090221/abah-anton-dan-branding-religiusitas-dalam-pilkada/

Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada

Home / Opini / Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada
Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada Rachmat Kriyantono, PhD

TIMESINDONESIA, MALANG – Saat berkendaraan di beberapa sudut Kota Malang, pandangan kita dapat menangkap baliho besar berisi foto Walikota Malang, Moch. Anton, dengan kopyah putih, baju muslim warna putih, dan berkalung sarung di pundak, mengajak masyarakat menyukseskan gerakan sholat berjama’ah di awal waktu.

Gerakan ini pun dilegalitaskan melalui surat edaran walikota. Menarik disimak ketika pemasangan baliho gerakan ini dilakukan di saat-saat mendekati pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Malang. Baliho-baliho di sudut kota ini adalah pesan simbolik, dan setiap simbol merepresentasikan makna tertentu dari motif si pembuatnya.

Karenanya, sesuatu yang wajar ketika muncul pertanyaan tentang motif gerakan ini. Tulisan ini berisi pandangan saya bahwa gerakan ini tidak lepas dari strategi komunikasi politik walikota yang biasa dipanggil Abah Anton ini menghadapi pilkada tahun depan.

Tampak bahwa Abah Anton ingin mengajak masyarakat Kota Malang untuk mengadopsi nilai-nilai perilaku bermasyarakat yang terkandung dalam sholat berjamaah. Abah Anton pasti menyadari bahwa mayoritas masyarakat Kota Malang beragama Islam (Muslim).

Data sensus terakhir (2010), penduduk Muslim di Kota Malang berjumlah 729,416 jiwa atau hampir 90% dari total populasi. Agar program pemerintahan dapat efektif meningkatkan kesejahteraan maka pesan-pesan program pembangunan harus diarahkan untuk perubahan perilaku masyarakat menuju kondisi lebih baik.

Sebagai komunikator, Abah Anton berusaha menyesuaikan pesan-pesan programnya sesuai dengan karakteristik target sasarannya yang mayoritas Muslim ini.

Dalam komunikasi politik, pemilihan key-message sangat diperlukan dalam upaya membranding seorang figur komunikator politik. Branding ini diperlukan sebagai positioning atau unique selling point bagi komunikator politik untuk membuat diferensiasi dengan pesaingnya.

Gerakan sholat berjama’ah yang di awal waktu ini tampaknya menjadi key-message bahwa Abah Anton adalah figur pelayan publik yang baik dan figur pencipta harmoni keguyuban dalam masyarakat, seperti yang tercermin dalam kearifan lokal gotong royong.

Melalui kampanye besar-besaran, salah satunya melalui baliho, pesan ini dapat tertancap di benak masyarakat sehingga menjadi merk-nya Abah Anton.

Mengapa sholat berjama’ah, bukan sholat sendirian, yang dipilih? Mengapa harus berjama’ah yang di awal waktu? Pertama, membidik nilai-nilai keagamaan mayoritas masyarakat merupakan prinsip dasar keefektivitasan pesan-pesan komunikasi, yakni homofili.

Prinsip ini berpotensi merangsang interaksi bersama akibat kesamaan identitas dan kepentingan antara komunikator dan masyarakat sehingga muncul ketersambungan hati (sambung rasa) antara Abah Anton dan warga masyarakatnya.

Kedua, ketersambungan kepentingan ini tampak dari kandungan nilai dalam sholat berjama’ah di awal waktu yang dapat menjadi dasar tata kelola pelayanan publik dan harmoni keguyuban berinteraksi warga Kota Malang.

Kandungan nilai sholat berjama’ah di awal waktu ingin dijadikan branding Abah Anton, antara lain membranding dirinya sebagai figur yang berniat baik dalam berdemokrasi dan pelayanan publik.

Hanyalah amalan-amalan tergantung pada niat-niat. Dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan” (HR Bukhari dan Muslim);

Figur yang menjaga interaksi menjalin silaturahim secara langsung dan memberikan pelayanan publik tanpa memandang status sosial dan aliran; Dalam sholat, kaya-miskin, tua-muda, atau orang berbeda suku berbaris rapat, berdempetan dan siapapun dapat berada di barisan depan; Figur yang berdisiplin waktu dalam pelayanan publik. Islam mengajarkan menghargai waktu (QS. Al-Ashr: 1-3). Sholat yang dilakukan tepat waktu lebih diutamakan.

Sesungguhnya sholat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman” (QS. 4: 103);

Figur yang mengajarkan untuk taat dan mendukung seorang pemimpin (imam). Program-program pemimpin dilaksanakan bersama, baik oleh aparat pelayan publik maupun oleh rakyat.

Abah Anton menyimbolkan dirinya sebagai pemimpin yang siap diingatkan jika salah, dengan cara dan kalimat baik-baik seperti yang diajarkan sholat berjama’ah. Tidak perlu teriak-teriak atau dengan paksa mendekati pemimpin untuk menggesernya; Jika pemimpin salah yang bisa membatalkan sholat (baca: membahayakan kepentingan masyarakat), dia akan sukarela mundur tanpa perlu disuruh mundur.

Penggantinya adalah otomatis orang yang paling dekat jaraknya dengan dia, yakni wakil walikota, tanpa perlu rame-rame.

Nilai yang lain, yakni sebagai figur yang mengajarkan memilih pemimpin berdasarkan kemampuannya lebih dulu. Sebagai incumbent, mudah bagi dia untuk mengampanyekan keberhasilan kepemimpinannya.

Jika pemimpin terpilih dalam proses demokrasi, dia mengajak  masyarakat dan pelayan publik (makmun) untuk langsung siap-siap mengikuti kebijakannya.

Tidak ada ada lagi protes-memprotes selama atau sesudah pemilihan; Figur yang menghargai perbedaan pendapat. Dalam sholat, mungkin ada imam yang baca doa qunut, jamaah pun ada yang qunut, tetapi, ada yang tidak baca.

Ada imam yang tidak baca qunut, tapi dengan memberi kesempatan jamaah yang ingin baca qunut. Cara takbir pun bermacam-macam. Berbeda dengan satu tujuan yakni membangun ibadah (kota) yang barokah. Namun tetap terdapat aturan-aturan (rukun sholat) yang harus sama dan tidak boleh dilanggar, di tengah perbedaan itu; Berdemokrasi dengan tetap memberi salam, yakni berdoa dan memberikan kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan antar-umat.

Strategi yang dilakukan Abah Anton ini memiliki peluang yang terbuka untuk mendapat respon positif masyarakat. Setidaknya, Abah Anton sebagai brand akan lebih tertancap dalam benak masyarakat jauh sebelum pesaing-pesaingnya muncul dalam kontestasi pilkada 2018.

Strategi ini saya sebut sebagai “branding religiousitas”, yakni menggunakan nilai-nilai, pernik-pernik atau atribut-atribut agama sebagai key-message pembrandingan.

Manusia, menurut Amstrong (2003) adalah “spiritual animals…homo sapiens is also homo religious.” Agama seringkali menjadi “alat mujarab” menggerakkan perilaku orang karena manusia adalah human religious sehingga agama adalah kebutuhan jiwa dalam bentuk kepercayaan terkait hubungan diri dengan sang pencipta.

Saat ini terjadi perang informasi bertubi-tubi dan tanpa batas melalui teknologi internet sehingga membuat overloaded-rationality sehingga memunculkan kebosanan rasionalitas. Dalam konteks inilah, Abah Anton mencoba menggali peluang dengan menggunakan agama dan kepercayaan sebagai key-message brandingnya.

Strategi ini makin meneguhkan branding Abah Anom selama ini melalui program-program religinya kepada masyarakat, seperti program wisata religi. Kita tunggu hasilnya di pilkada Kota Malang 2018.

*Penulis adalah Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi FISIP-Universitas Brawijaya

Gadget dan Masyarakat Informasi: Gadget jadi alat bukan Memperalat

Ini artikel saya ttg gadget dan dampaknya di masyarakat. Apa benar kita sekarang ini disebut masyarakat informasi?

http://m.timesindonesia.co.id/read/152096/20170717/073456/gadget-jadi-alat-bukan-memperalat/#!

Gadget dan Informasi

Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat

Home / Opini / Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat
Dibaca: 14.92k Kali
Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat Rachmat Kriyantono, PhD

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beberapa media, termasuk TIMES Indonesia, memberitakan pemblokiran yang dilakukan Kemenkominfo terhadap telegram serta wacana kemungkinan pemblokiran media sosial. Beberapa negara, di luar Indonesia, telah melarang warganya mengakses facebook dan lain-lain media sosial.

Hal ini mendorong kembali munculnya pertanyaan tentang penggunaan gadget (handphone, smartphone atau tablet) di tengah-tengah masyarakat sebagai sarana akses internet.

Survei terbaru Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) menemukan bahwa 132 juta dari 256 juta orang Indonesia sudah ber-internet ria. Jumlahnya mengalami kenaikan 51.8 persen dibanding survei tahun 2014.

Ditemukan juga bahwa 67.2 juta orang mengakses melalui gadget dan komputer, 63.1 juta orang mengakses dari gadget, dan 2.2 juta orang mengakses hanya dari komputer.

Meski penetrasi internet ini mayoritas masih berada di Pulau Jawa, yakni sekitar 86,3 juta orang (65 persen), tetapi, sudah cukup menunjukkan dampak dari booming gadget di Indonesia karena mayoritas penduduk berada di Pulau Jawa.

Sebagian dari kita menyebut masyarakat Indonesia telah masuk era masyarakat informasi, seperti yang ditulis Johan Naisbitt di buku Megatrends, yaitu produksi merupakan hasil interaksi antarmanusia akibat perkembangan inovasi teknologi komunikasi. Hal ini merupakan perkembangan dari era masyarakat industri, yakni produksi dihasilkan oleh interaksi antara manusia dengan alam yang terolah.

Tetapi, saya menganggap perkembangan teknologi komunikasi yang canggih dan masyarakat melek teknologi saja bukan jaminan bahwa masyarakat itu disebut masyarakat informasi.

Saya berpendapat bahwa suatu masyarakat baru dapat disebut masyarakat informasi bila ditandai oleh kebudayaan informasi, yaitu masyarakat “memiliki kesadaran informasi yang tinggi, mengandalkan informasi dalam segala bidang kehidupan sehingga mampu mengolah dan memanfaatkan informasi secara efektif dan efisien serta meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja.”

Di sinilah terjadi paradoks masyarakat informasi. Di satu sisi, booming-nya gadget dan akses internet, menunjukkan penetrasi teknologi komunikasi yang semakin canggih dan membantu segala aspek kehidupan.

Pergerakan manusia semakin cepat dan meluas karena gadget memudahkan kita berkomunikasi dengan kolega yang berjauhan tempat tinggalnya, memudahkan dalam mencari informasi, bertransaksi online, dan meningkatkan sendi perekonomian.

Handphone dan aneka gadget telah mendarah daging dan menjadi teman yang kita sapa saat bangun tidur serta teman terakhir saat menjelang tidur lagi.

Di sisi lain, alih-alih membawa masyarakat kita menuju masyarakat berkualitas, teknologi canggih ini cenderung mereduksi kualitas masyarakat, akibat kurang bijak dalam penggunaannya.

Jika kita tidak dapat mengelola penggunaan gadget, membuat kita kecanduan dan berdampak negatif. Sifat kecanduan ini tampak dari data bahwa orang Indonesia rata-rata mengecek ponselnya lebih dari 80 kali setiap hari.

Karenanya, saya menyebut masyarakat kita hanya dalam taraf sudah masuk era masyarakat teknologi, yakni masyarakat pengguna (user atau konsumen) teknologi, tetapi, belum dapat disebut masyarakat informasi.

Penggunaan gadget yang menjamur ini belum dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat agar berdaya saing dengan bangsa lain. Teknologi belum digunakan optimal untuk birokrasi, seperti pengurusan surat-menyurat, kearsipan atau pelayanan publik lainnya.

Budaya langsung bertemu masih mewarnai birokrasi pelayanan publik, yaitu masyarakat masih harus datang langsung ke kantor pelayanan publik meski sekadar menyerahkan foto kopi akta lahir (yang sebetulnya dapat discan dan diemail).

Mahasiswa banyak yang berinternet, tetapi, lebih banyak untuk main game atau hiburan lainnya, seperti facebook, Whatsapp, atau instagram. Hal ini diperkuat data bahwa pengguna facebook sangat besar, yakni 88 juta orang dan 94% di antaranya mengakses facebook dari gadget mobile.

Belum banyak mahasiswa yang menggunakan internet untuk eksplorasi jurnal-jurnal ilmiah untuk memperkaya pengetahuannya atau untuk referensi membuat skripsi, tesis atau disertasi.

Internet mendorong peningkatan budaya copy-paste untuk tugas-tugas pelajar, mulai dari siswa SD hingga mahasiswa.

Dari observasi di kelas selama saya mengajar, saya menemukan perubahan perilaku mahasiswa. Sebelum handphone banyak beredar (sekitar 1990-an), mahasiswa biasanya membaca, mengobrol, coret-menyoret di kertas atau termenung sendiri saat menunggu dosen datang di kelas.

Saat handphone menjamur (akhir 1999an-sekarang), mahasiswa menggunakan handphone (sms, telepon, game atau internet), mengobrol atau termenung saat menunggu dosen datang di kelas. Jadi, kebiasaan membaca digeser oleh penggunaan handphone.

Gadget membuat penurunan kualitas interaksi tatap muka langsung, masyarakat menjadi antisosial (isolasi diri) karena asyik bermain gadget, dan kohesi sosial pun berubah menjadi kohesi di dunia maya. Misalnya, sekelompok orang setuju membuat acara kemah bersama. Setelah tenda didirikan, semua orang masuk, dan tidak berapa lama, masing-masing sibuk dan terbuai bermain gadget.

Budaya cangkruk dan arisan berubah menjadi main gadget rame-rame atau diganti cangkruk virtual dan arisan virtual. Budaya senyum, sapa, salam pun menurun. Pelajar memilih berasyik ria pencet tombol dan geser layar sehingga melupakan guru dan dosen yang lewat di depannya.

Gadget membuat kita banyak melakukan tindakan komunikasi, tetapi, tindakan komunikasi tersebut belum tentu bermanfaat. Internet yang makin mudah diakses lewat gadget berpotensi mengancam nilai-nilai kebajikan agama.

Tidak sedikit interaksi melalui media sosial berisi hujatan, caci maki, fitnah, adu domba, menghina, dan olok-mengolok sesama, yang semuanya dilarang agama. Bahkan melalui gadget, orang lebih mudah mengakses kampanye kekerasan, pembullyan, persekusi, dan terorisme. Sifat persaudaraan anak bangsa pun tereduksi dan perbedaan serta permusuhan berpotensi melebar bagaikan jurang yang menganga.

Gadget juga membuat munculnya deteritorialisasi budaya menuju keseragaman budaya, yaitu budaya sudah tidak mungkin lagi dilokalisasi berdasarkan wilayah tertentu. Budaya Amerika tidak hanya terjadi di Amerika Serikat tapi juga diadopsi oleh masyarakat kita, seperti cara berpakaian (rok mini, banyak gadis yang bercelana pendek keluar rumah), cara berperilaku (seperti seks bebas) atau cara bermusik (musik rock, jazz, reggae, rapp, conutry).

Adler & Rodman (2006) mengatakan: “More communication is not always better… One key to successful communication, then, is to share an adequate amount of information in a skillful manner.” Menggunakan teknologi komunikasi dengan bijak dan untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing kita merupakan wujud dari ‘skillful manner’ tersebut.

Situasi ini mestinya membuat kita berpikir tentang dampak negatif gadget, selain kita akui dampak positifnya. Gadget hanyalah alat, bukan kita yang diperalat olehnya.(*)

* Penulis adalah Rachmat Kriyantono, PhD,  Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi
FISIP Universitas Brawijaya

TOLERANSI GAYA HIDUP MUSLIM

http://m.timesindonesia.co.id/read/151018/20170628/120343/toleransi-sebagai-gaya-hidup-muslim/

Categories: Uncategorized Tags:

Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Efektivitas Komunikasi Interpersonal Dan Kepuasan Kerja (Studi Eksplanatif di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah)

Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Efektivitas Komunikasi Interpersonal Dan Kepuasan Kerja (Studi Eksplanatif di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah)

Sri Wahyunie, Sanggar Kanto, Rachmat Kriyantono

 

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh iklim komunikasi organisasi terhadap efektivitas komunikasi interpersonal dan kepuasan kerja di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah. Penelitian dilakukan di kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah pada bulan September 2014 untuk pengambilan data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan melibatkan 33 responden yang dipilih sesuai populasi yang ada. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji analisis jalur (Path Analysis),dimana analisis jalur ini menguji apakah terdapat pengaruh langsung atau tidak langsung iklim komunikasi organisasi terhadap kepuasan kerja.

Hasil penelitian menunjukkan nilai iklim komunikasi organisasi memperoleh nilai gabungan 3,53. Nilai efektivitas komunikasi interpersonal memperoleh nilai gabungan 3,87. Nilai kepuasan kerja memperoleh nilai gabungan 3,96. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepuasan kerja pegawai di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga berada pada tingkat cukup baik. Iklim komunikasi secara langsung memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap efektivitas komunikasi interpersonal dengan taraf signifikansi sebesar 0,026. Iklim komunikasi secara langsung memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja dengan taraf signifikansi sebesar 0,036. Efektivitas komunikasi interpersonal secara langsung memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja dengan taraf signifikansi sebesar 0,001. Iklim komunikasi organisasi juga secara tidak langsung memiliki pengaruh terhadap kepuasan kerja dengan melalui efektivitas komunikasi interpersonal sebagai mediasinya dengan taraf signifikansi sebesar 0,171 atau 17,1%. Secara simultan terdapat Pengaruh iklim komunikasi organisasi dan efektivitas komunikasi interpersonal terhadap kepuasan kerja secara gabungan adalah 37,6% sedangkan 62,4% dipengaruhi oleh faktor lain.

 

Kata Kunci: iklim komunikasi organisasi, efektivitas komunikasi interpersonal, kepuasan kerja

Keywords

klim komunikasi organisasi, efektivitas komunikasi interpersonal, kepuasan kerja
Full Text:

Pengaruh Self Esteem, Self Efficacy, dan Locus of Control Terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja Public Relations (Studi Eksplanatif Pada Public Relations Santika Indonesia Hotel and Resort)

Silakan buka link ini: http://wacana.ub.ac.id/index.php/wacana/article/view/466

Pengaruh Self Esteem, Self Efficacy, dan Locus of Control Terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja Public Relations (Studi Eksplanatif Pada Public Relations Santika Indonesia Hotel and Resort)

Nisrin Husna, Sanggar Kanto, Rachmat Kriyantono

 

Abstract

 

Investasi bidang perhotelan memiliki peluang untuk tumbuh pesat di masa depan, namun juga sekaligus sarat akan persaingan. Peluang dan ancaman ini tentunya harus dapat ditangkap para pelaku usaha di industri perhotelan. Salah satu strategi penting dalam menghadapi persaingan adalah meyakinkan konsumen bahwa perusahaannya memiliki keunggulan lebih dibandingkan dengan perusahaan lain. Meyakinkan konsumen berarti berhubungan dengan meraih persepsi positif atau citra positif di mata publik. Disinilah kemudian peran Public relations dengan motivasi kerja tinggi dan kinerja tinggi sangat dibutuhkan sebagai garda terdepan perusahaan. Judge ,Erez & Bono (1998) mengemukakan bahwa self esteem, self efficacy dan locus of control merupakan ketiga core-self evaluations yang merupakan dasar  pembentukan motivasi individu dalam bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengui pengaruh self esteem,self efficacy, dan locus of control terhadap motivasi kerja dan kinerja Public Relations. Dalam menganalisis pengaruh ketiga variabel tersebut terhadap motivasi kerja dan kinerja Public Relations, peneliti menggunakan pendekatan tradisi sibernetik. Melalui pendekatan tradisi sibernetik, peneliti kemudian menggunakan Expectancy value theory dalam menganalisis pengaruh variabel self esteem, self efficacy dan locus of control terhadap motivasi kerja dan kinerja. Sample penelitian ini adalah praktisi Public Relations Santika Indonesia Hotel and Resort. Penelitian ini menggunakan teknik analisis jalur (path analisys). Dari hasil perhitungan SPSS adalah bahwa variabel self esteem, self efficacy dan locus of control berpengaruh positif terhadap motivasi kerja dan kinerja dengan nilai koefisien jalur self esteem sebesar 0,322, self efficacy 0,340, locus of control 0,346, dan motivasi kerja 0,636. Hasil tersebut berarti  semakin positif self esteem, self efficacy dan locus of control Public Relations maka semakin tinggi motivasi kerja dan kinerja Public Relations Santika Indonesia hotel and resort.

 

HUMAS PEMERINTAH DI ERA DIGITAL

Saya memberikan materi tentang humas pemerintah di era digital, bersama Menteri Kominfo RI dan Juru Bicara Presiden pada 24 Mei 2017. Silakan baca di laman ini:

https://prasetya.ub.ac.id/berita/Dosen-UB-Menkominfo-dan-Jubir-Kepresidenan-Bahas-Humas-Digital-19844-id.html

atau:

Dosen-UB-Menkominfo-dan-Jubir-Kepresidenen-Bahas-Humas-Digital-19844-id

 

PUBLIC’S ATTRIBUTION VS PUNITIVE BEHAVIOR IN INDONESIA PUBLIC RELATIONS PRACTICE

This is my paper, published in Jurnal Ilmu Komunikasi Univ Atmajaya Yogyakarta. Silakan download PDF nya:

Public’s Attribution vs Punitive behavior-Rachmat-JIK Atmajaya

atau kunjungi linknya:

https://ojs.uajy.ac.id/index.php/jik