Home > Uncategorized > BERSALAMAN SBG KOMUNIKASI FACE TO FACE PENYEIMBANG KOMUNIKASI VIRTUAL

BERSALAMAN SBG KOMUNIKASI FACE TO FACE PENYEIMBANG KOMUNIKASI VIRTUAL

Saat ini bisa dikatakan sbg bencana komunikasi, yakni proses komunikasi banyak menimbulkan dampak negatif. Informasi sebagai pesan yang dibawa komunikasi mengandung hal negatif seperti fitnah, prasangka, menghina, olok-mengolok, adu domba, membully, kata-kata kasar dan kotor, dan lainnya. Hal ini terjadi terutama di media sosial yang bersifat virtual, yakni peserta komunikasi tidak bertemu langsung secara fisik. Akibatnya, kehilangan bahasa-bahasa nonverbal, ewuh pakewuh, dan kebersamaan, yang membuat orang begitu mudah menyampaikan pesan-pesan negatif tersebut. Komunikasi face to face bisa memunculkan kontaks fisik yang adem ayem, salah satunya bersalaman. Bersalaman ini, sebelum munculnya medsos, merupakan tradisi bangsa ini, termasuk saat fenomena halal bihalal yg masih terjaga…..

Bersalaman. Islam mengajarkan bahwa sesama mukmin adalah bersaudara karena itu harus saling bersilaturahim menjalin keakraban. Terkait dengan hal ini, Allah SWT berfirman bahwa orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata (QS Al-Ahzab, 33: 58). “Tidaklah dua orang muslim yang berjumpa dan keduanya bersalaman, Allah mengampuni dosa-dosa keduanya” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi). Dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “diantara kesempurnaan penghormatan adalah engkau bersalaman dengan saudaramu”. Disebutkan Imam al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad. Dinyatakan Syekh al-Albani sebagai hadit shahih dalam Shahih Adab al-Mufrad. Dari Qatadah, ia berkata, “Saya bertanya kepada Anas bin Malik, “Apakah para shahabat nabi Muhammad SAW bersalaman?”. Anas bin Malik menjawab, “Ya”. (HR. al-Bukhari). Kata Ustadz Abdul Somad dalam Buku 37 Masalah Populer, bersalaman adalah baik dan dianjurkan Rasulullah SAW dan hadits di atas bersifat umum, yakni tidak menyebutkan kapan dan di mana bersalaman itu dilakukan. Imam Nawawi menyebut bersalaman itu Sunnah. Bahwa ada orang bersalaman pada saat-saat tertentu (misal setelah sholat) maka itu tidak mengeluarkannya dari asal Sunnah. Imam ath-Tahawi berkata, bersalaman itu sunnah dilakukan setelah selesai semua shalat dan di setiap pertemuan. Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda, “tidaklah dua orang hamba yang saling mencintai di jalan Allah saling berhadapan lalu berjabatan tangan dan bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, kecuali pasti mereka tidak berpisah sebelum diampuni dosanya baik yang terdahulu maupun yang kemudian” (HR Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Al Imam al-Uqaili menyebut hadits ini lemah di kitab Adh Dhu’afaa al Kabir li Uqaili. Namun beberapa ulama, termasuk Syaikh Al-Albani dalam kitab Ahaadits adha’ifah wal maudu’ah, menyebut hadits ini bisa diterapkan (boleh bersalaman sambil sholawat) karena masuk kedalam permasalahan fadhilah amal dan tercakup oleh disyariatkannya amalan membaca shalawat kepada Nabi).

Baca juga di buku saya: Pengantar lengkap Ilmu Komunikasi: Filsafat dan Etika Ilmunya serta Perspektif Islam, Prenada Jakarta, 2019

Categories: Uncategorized Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*