Home > Uncategorized > Mudik sebagai sarana komunikasi sosial dan beragama yang khas Nusantara

Mudik sebagai sarana komunikasi sosial dan beragama yang khas Nusantara

Mudik sebagai sarana komunikasi sosial dan beragama yang khas Nusantara

Saat Idul Fitri (Lebaran) adalah momen silaturahim dan ukkuwah. Mungkin momen setahun sekali bagi kerabat untuk dapat bertemu setelah sibuk bekerja yang terkadang berjauhan tempatnya. Hal ini membuat wajar jika sebagian masyarakat kita memaknai Lebaran sebagai saling memaafkan, meski semua tahu maaf-memaafkan dapat dilakukan kapan pun (tidak harus menunggu lebaran) dan lebaran pun bukan hanya berisi maaf-memaafkan. Lebaran adalah sarana instrospeksi diri setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan, yakni apakah kita telah memanfaatkan ibadah puasa dengan baik sehingga kembali ke dalam jati diri yang suci (fitri/fitrah) karena mendapatkan ampunan Allah.

Perkembangan teknologi mendorong orang sering maaf-memaafkan secara virtual lewat handphone atau media sosial, tetapi, bertemu langsung tatap muka lebih mampu menstimuli emosi jiwa untuk saling mengasihi. Istilah mudik dan bermaaf-maafan termasuk halal bihalal memang tidak diatur secara langsung/tersurat dalam Al-Qur’an dan Hadits, tetapi, budaya mudik ini sebenarnya adalah wujud ajaran-ajaran Rasulullah untuk menjalin silaturahim (menyambung sesuatu yang terputus dengan dasar kasih sayang). Mudik dilakukan untuk bersilaturahim dengan orang tua, kerabat dan sobat, untuk saling bermaafan, untuk saling membantu (seperti berbagi rezeki uang dan baju ke sanak keluarga), untuk berbakti kepada orang tua, baik yang masih hidup atau meninggal (ziarah kubur). Saat orang tua meninggal, bakti anak diwujudkan dalam bentuk mendoakan agar arwah orang tua diberi kelapangan oleh Allah. Berdoa bisa di mana saja, tetapi, dengan berziarah kubur, selain menjalankan ajaran Rasulullah, juga menjadi nasehat dan pengingat yang paling berharga bahwa kita juga akan menyusul dipanggil Allah.

Mudik merupakan perwujudan ajaran Islam sesuai budaya masyarakat kita. Budaya ini yang sesuai kearifan kita sebagai masyarakat yang “guyub rukun, rukun agawe sentosa-crah agawe bubrah“. Saya kira, budaya ini membangun Islam yang khas Nusantara, yang mungkin tidak ditemui di negara lain. Bagai alat musik, budaya adalah instrumen yang bisa memadukan harmoni musikal jika selaras dengan instrumen lainnya. Keharmonian ini, saya maksudkan bahwa kita pilih budaya yang harmoni atau yang tidak melanggar syariat.

Yang penting, esensi ajaranNya tetap terjaga, yakni menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan baik, menjalankan ajaran silaturahim, ajaran berbagi dan shodaqoh, ajaran berbakti dan mendoakan orang tua, serta tidak mengisi Lebaran dengan berhura-hura. Allah SWT mengajarkan berbuat baik kepada bapak dan ibu dengan memelihara mereka di usia lanjut, berkata baik, tidak boleh membentak, merendahkan diri kepada mereka dan selalu berdoa “Ya Allah sayangilah bapak-ibu seperti mereka menyanyangiku sewaktu kecil” (QS Al-Isra’, 17:23-24). Mudik juga diniatkan berbagi rezeki kepada kerabat, fakir miskin, dan orang yang dalam perjalanan (QS 17-26).

Mudik dan mohon maaf lahir batin selama lebaran, adalah sarana menjalankan ajaranNya. Jika dakwah diartikan kegiatan mengomunikasikan ajaran Islam, sedangkan “communication is culture, culture is communication” (Edward T Hall), maka wajarlah jika Wali Songo berdakwah dengan pendekatan budaya sehingga membuat Islam lebih dapat diterima (tanpa paksaan) oleh masyarakat kita yang saat itu banyak beragama Hindu-Budha dan animisme-dinamisme. Hal ini juga sesuai dengan QS Ibrahim: 4: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka”. “Berbicaralah kepada manusia sesuai kadar akal mereka” (HR Muslim). Itulah mengapa Wali Songo berhasil menyebarkan Islam dengan mengadopsi budaya yang tetap selaras menjaga esensi ajaranNya.

Indahnya mudik untuk menjalankan ajaranNya akan kita rasakan jika kita niatkan silaturahim kepada bapak dan ibu serta sanak kerabat. Jaganlah kita berniatkan mudik untuk pamer diri dan menghamburkan harta untuk hal-hal yang tidak semestinya. Dilarang menghambur-hamburkan harta secara boros. Orang boros itu saudara setan, dan setan selalu ingkar kepada Tuhannya (QS 17:26-27). Jika selama mudik belum dapat berbagi rezeki untuk membantu sanak saudara maka kita diajarkan memberi ucapan yang lemah lembut kepada mereka (QS 17:28), asal jangan pelit dan jangan terlalu pemurah (QS 17-29).

Categories: Uncategorized Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*