Home > Uncategorized > Budaya membantu mengasah kehumanisan kita

Budaya membantu mengasah kehumanisan kita

Pilpres ingin damai? Pilpres terancam kedamaiannya krn banyaknya hoaks, fitnah, caci maki, menghina dan adu domba. Perilaku itu makin meningkat karena perantara medsos. Kok bisa? Hal ini terjadi krn karakteristik medsos yg virtual. Budaya ewuh pakewuh hilang, terjadi jarak sosial dan isolasi sosial krn interaksi dibatasi Handphone. Media internet cenderung mempertajam aspek rasionalitas kita dan mereduksi emosional kemanusiaan kita, yg berpotensi mendorong ego, shg muncul budaya individualistis.. Solusinya adalah kita kembali & jaga budaya interaksi langsung yg guyub, saling sapa, semangat kebersamaan yg tercermin dlm prinsip gotong royong dan ‘mangan gak mangan sing penting ngumpul’. Itulah, para mbah-mbah kita, guru2 kita, kyai-kyai kita mengajarkan budaya ini dlm beragama. Knp dg beragama? Krn sering kali agama menjadi faktor krusial dlm politik kita. Bnyk amalan muamalah yg bersifat menajamkan rasa kebersamaan diajarkan leluhur kita, bahkan diajarkan sejak saat Islam pertama kali masuk di Nusantara, seperti tahlilan, yasinan, sholawatan, tiba’an, istighotsah, megengan, mudik lebaran, salaman setelah sholat jamaah, dzikir bersama, ziarah kubur, maulidan, dll. Bahkan, di sisi lain, amalan-amalan itulah yg membuat Islam diterima di Nusantara dg damai, yg saat itu sdh menjadi negara multi-culture (Candi, tarian, wayang dll), superpower (Majapahit) & multi-religion (Hindu, Budha, Sunda wiwitan dll). Artinya, hanya dg mengadopsi kearifan lokal bangsa kita, ajaran Islam bisa diterima dg damai dan hanya dlm 50 thn bisa tersebar di seluruh Jawa. Para ulama, Habib & Kyai saat itu, tampaknya memegang formula berdakwah Nabi SAW, yakni “Tdk Frontal”, yakni dg menyesuaikan perlahan-lahan budaya setempat. Budaya yg tdk sesuai syariat dihapus dg tdk frontal, bahkan, diadopsi dg penyesuaian syariat. Seperti teori, para ulama, Habib & Kyai menerapkan “komunikasi efektif jika sesuai dg frame of reference & Field of Experiences masyarakat Jawa..Amalan-amalan yg scr syariat jg ada dalilnya. Kebiasaan yg turun-temurun ini mengajarkan rasa kebersamaan, saling menerima, menghormati, ngumpul bareng, senyum, sapa, guyonan, guyub, serta saling memberi… Budaya bersifat humanis, agama bersifat humanis. Perpaduan keduanya membuat jiwa humanis makin terasah dlm diri kita. Budaya adalah pewarna komunikasi agar indah & humanis, komunikasi bikin budaya hidup berkembang, dan komunikasi adalah lem perekat interaksi. “Waddin al-muamalah”, kata Nabi SAW, “agama adalah interaksi”…………

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*