Home > Uncategorized > MAAF-MEMAAFKAN ITU adalah KE-INDONESIA-AN KITA

MAAF-MEMAAFKAN ITU adalah KE-INDONESIA-AN KITA

KASUS PUISI: LUNTURNYA BUDAYA MAAF SBG KE-INDONESIA-AN KITA
Bpk pemimpin Wakil Rakyat kita ini blm bs mencerminkan budaya bangsa, yakni bangsa yg berbudaya maaf-memaafkan dan budaya ewuh-pakewuh. Kata “maaf” sebenarnya nggak bs lepas dari perilaku kita. Misalnya, saat kirim WA, sms, atau bertelepon, sering kita dahului dg kata “maaf sebelumnya….”, Dalam berpidato pun, kita sering mulai dan akhiri dg kata “maaf jika kurang berkenan atas sambutan kami…” dll (Padahal kita tdk bersalah atau blm tentu kita bersalah). Sy pernah dikritik oleh CEO sebuah perusahaan multinasional di bidang PR dan marketing communication di Jakarta. Saat mendampingi studi banding mhs S2, saya meberi kata sambutan. Saya membukanya dg omong: “Sebelumnya saya minta maaf mungkin ada perilaku kami yang kurang berkenan di mata perusahaan…”. Saya dikritik krn sambutan saya ini tdk sesuai jika disampaikan saat itu (Dalam hati, inilah kita, yg nggak pernah lepas dari kata maaf, dan saya akan tetap “be what I am to be”). Dalam sholat pun, sering kita bersalaman setelah salam sholat berjamaah atau budaya mudik setiap puasa & lebaran. Itu semua sbg bentuk budaya saling menghormati dan antisipasi unt tdk menyakiti org lain sbg cara menjaga budaya kebersamaan. Kebersamaan ini biasa terwujud dlm simbol2 gotong royong, mangan gak mangan sing penting ngumpul, teposliro, sambung roso, ewuh pakewuh, guyub rukun.
Bpk Wakil Rakyat ini juga jauh dari sifat ewuh pakewuh, yakni dg membuat puisi sindiran yg terkait dg peristiwa doa yg dilakukan oleh ulama sepuh. termasuk dg kata-kata yang jauh dari ewuh pakewuh dan lebih bersifat low context culture. Dalam berpidato pun, konsep high context culture yg menyimbolkan penghormatan ini terekspresikan dlm kata “kami” bukan “saya/aku” saat pidato, meskipun, pidato itu bersifat pribadi, tdk mewakili kelompok.
Ekspresi seni tdk bisa dilepas dari konteks budaya tempat seni itu diekspresikan. Termasuk juga hrs mempertimbangkan posisi sosial si pembuat seni. Tentu seorang wakil rakyat hrs mempertimbangkan jati diri sbg wakil rakyat ketika membuat karya seni. Krn, aada hak-hak dia yg direduksi krn menjabat jabatan publik dan dia hrs mengikuti hak-hak publik.
Kita punya cara berdemokrasi sendiri, yakni demokrasi ke-Indonesia-an yg berdasarkan nilai-nilai agamis. Demokrasi kita adalah demokrasi high context culture, bukan low context culture ala Amerika. Sifat demokrasi ini yg mestinya mendasari cara2 ekspresi diri.
Okelah, dia beralasan puisinya bukan unt Mbah Maimoen tersebut , tetapi, berdasarkan kearifan lokal kita, tdk bersalahpun kita biasa minta maaf, sbg cara menjaga harmoni. Apalagi sdh jelas-jelas bnyk orang merasa tersakiti, termasuk para santri, kyai, PB NU, dan keluarga Mbah Maimoen. Sbg Wakil rakyat dia hrs punya empati sosial terhadap perasaan rakyat. Minta maaf tdk akan menurunkan derajat seseorang bahkan bs mengangkat derajatnya di mata Allah.
Kasus ini menjadi pembelajaran ttg perlunya menjaga budaya bangsa yg luhur ini, budaya maaf. Untungnya, sy berharap tetap berlanjut, para kyai, santri dan PB NU, masih bersifat sabar, dg tetap meminta bpk wakil rakyat tsb unt minta maaf lgs kpd Mbah Yai. Smoga tdk sampai bikin aksi jutaan umat yg memenuhi Jkt. Jika sdh minta maaf, sy kira bs dianggap selesai. Krn memberi maaf adalah perilaku orang yg sabar. Tdk perlu dipolisasi menjadi aksi-aksi umat. Cukup sekali kasus Ahok, yg menyita energi bangsa. Jargon bela kyai sy kira hal biasa,sbg bentuk rasa cinta, sebatas untuk menuntut maaf.
Menuntut maaf ini perlu unt memberikan pembelajaran etika, adab, dan kesadaran budaya bagi org yg jg pemimpin wakil rakyat ini. Tentu diperlukan sifat sabar, tawadu’, dan tidak merasa benar sendiri untuk bisa minta maaf dan memaafkan.
Mari kita jaga ke-Indonesia-an kita yg saling maaf-memaafkan ini. Salam. CakRK
Categories: Uncategorized Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*