Archive

Archive for February, 2019

ISLAM ITU AGAMA NTERAKSI

Oleh: Rachmat “CakRK” Kriyantono

Persaudaraan adalah inti Islam yg bermakna Salam. Hanya melalui interaksi sosial yg harmoni, “salam” ini dpt terasa. 2/3 ajaran Quran adalah hablumminannas (ibadah muamalah) dan 1/3 adalah hablumminallah. Bahkan Islam adalah sumber teori multikulturalisme, yakni QS 49:13, yg biasa kita kutip di undangan2 nikah: “kita diciptakan dr pria dan perempuan, bersuku, berbangsa, unt saling mengenal. Hanya taqwa yg menjadi standar kemuliaan”. Nabi SAW pun mengajarkan “waddin al-mu’amalah” (agama adalah interaksi). Tujuannta adalah tercipta assabieh (masy harmoni). Krn itu, 2/3 ajaran berisi perintah/larangan unt tercapai harmoni.

Dg demikian, Islam pun bersifat humanis. Hal ini wajar krn Islam adalah addin yg jd pedoman manusia shg sesuai fitrah manusia itu sendiri.

Waddin al mu’malah ini br bs tercipta jika dlm beragama, kita tdk meninggalkan budaya. Budaya adalah hasil akal budi. Dg budaya, manusia menjadi humanis….dg budaya, kita bs mengeksplorasi sifat humanis nya Islam…… Bnyk contoh dari Nabi SAW yg menunjukkan beliau mencintai budaya dlm dakwah. Beliau tdk frontal tp menyesuaikan dg kebiasaan masy. Jika dakwah diartikan sbg keg komunikasi mk scr teori beliau menerapkan prinsip homofili, yakni beliau sbg komunikator mencoba mencari persamaan, bukan perbedaan, dlm berdakwah. Homofili ini dilakukan dg menyesuaikan dg frame of reference dan field of experience masyarakatnya. Tentu, scr tdk frontal beliau pun mengubah budaya2 yg berlawanan dg syariat.

Strategi Nabi SAW ini lah yg diterapkan para aulia’, wali songo, habaib, kyai, saat menyebarkan Islam di Indonesia.

Jd, org2 yg perilakunya mengesankan Islam yg keras, intoleran, kasar, menakutkan, adalah org2 yg tdk memahami esensi ajaran Nabi SAW ini. Mereka mencoba mencerabut kehumanisan yg terkandung Islam……

Categories: Uncategorized Tags:

MAAF-MEMAAFKAN ITU adalah KE-INDONESIA-AN KITA

KASUS PUISI: LUNTURNYA BUDAYA MAAF SBG KE-INDONESIA-AN KITA
Bpk pemimpin Wakil Rakyat kita ini blm bs mencerminkan budaya bangsa, yakni bangsa yg berbudaya maaf-memaafkan dan budaya ewuh-pakewuh. Kata “maaf” sebenarnya nggak bs lepas dari perilaku kita. Misalnya, saat kirim WA, sms, atau bertelepon, sering kita dahului dg kata “maaf sebelumnya….”, Dalam berpidato pun, kita sering mulai dan akhiri dg kata “maaf jika kurang berkenan atas sambutan kami…” dll (Padahal kita tdk bersalah atau blm tentu kita bersalah). Sy pernah dikritik oleh CEO sebuah perusahaan multinasional di bidang PR dan marketing communication di Jakarta. Saat mendampingi studi banding mhs S2, saya meberi kata sambutan. Saya membukanya dg omong: “Sebelumnya saya minta maaf mungkin ada perilaku kami yang kurang berkenan di mata perusahaan…”. Saya dikritik krn sambutan saya ini tdk sesuai jika disampaikan saat itu (Dalam hati, inilah kita, yg nggak pernah lepas dari kata maaf, dan saya akan tetap “be what I am to be”). Dalam sholat pun, sering kita bersalaman setelah salam sholat berjamaah atau budaya mudik setiap puasa & lebaran. Itu semua sbg bentuk budaya saling menghormati dan antisipasi unt tdk menyakiti org lain sbg cara menjaga budaya kebersamaan. Kebersamaan ini biasa terwujud dlm simbol2 gotong royong, mangan gak mangan sing penting ngumpul, teposliro, sambung roso, ewuh pakewuh, guyub rukun.
Bpk Wakil Rakyat ini juga jauh dari sifat ewuh pakewuh, yakni dg membuat puisi sindiran yg terkait dg peristiwa doa yg dilakukan oleh ulama sepuh. termasuk dg kata-kata yang jauh dari ewuh pakewuh dan lebih bersifat low context culture. Dalam berpidato pun, konsep high context culture yg menyimbolkan penghormatan ini terekspresikan dlm kata “kami” bukan “saya/aku” saat pidato, meskipun, pidato itu bersifat pribadi, tdk mewakili kelompok.
Ekspresi seni tdk bisa dilepas dari konteks budaya tempat seni itu diekspresikan. Termasuk juga hrs mempertimbangkan posisi sosial si pembuat seni. Tentu seorang wakil rakyat hrs mempertimbangkan jati diri sbg wakil rakyat ketika membuat karya seni. Krn, aada hak-hak dia yg direduksi krn menjabat jabatan publik dan dia hrs mengikuti hak-hak publik.
Kita punya cara berdemokrasi sendiri, yakni demokrasi ke-Indonesia-an yg berdasarkan nilai-nilai agamis. Demokrasi kita adalah demokrasi high context culture, bukan low context culture ala Amerika. Sifat demokrasi ini yg mestinya mendasari cara2 ekspresi diri.
Okelah, dia beralasan puisinya bukan unt Mbah Maimoen tersebut , tetapi, berdasarkan kearifan lokal kita, tdk bersalahpun kita biasa minta maaf, sbg cara menjaga harmoni. Apalagi sdh jelas-jelas bnyk orang merasa tersakiti, termasuk para santri, kyai, PB NU, dan keluarga Mbah Maimoen. Sbg Wakil rakyat dia hrs punya empati sosial terhadap perasaan rakyat. Minta maaf tdk akan menurunkan derajat seseorang bahkan bs mengangkat derajatnya di mata Allah.
Kasus ini menjadi pembelajaran ttg perlunya menjaga budaya bangsa yg luhur ini, budaya maaf. Untungnya, sy berharap tetap berlanjut, para kyai, santri dan PB NU, masih bersifat sabar, dg tetap meminta bpk wakil rakyat tsb unt minta maaf lgs kpd Mbah Yai. Smoga tdk sampai bikin aksi jutaan umat yg memenuhi Jkt. Jika sdh minta maaf, sy kira bs dianggap selesai. Krn memberi maaf adalah perilaku orang yg sabar. Tdk perlu dipolisasi menjadi aksi-aksi umat. Cukup sekali kasus Ahok, yg menyita energi bangsa. Jargon bela kyai sy kira hal biasa,sbg bentuk rasa cinta, sebatas untuk menuntut maaf.
Menuntut maaf ini perlu unt memberikan pembelajaran etika, adab, dan kesadaran budaya bagi org yg jg pemimpin wakil rakyat ini. Tentu diperlukan sifat sabar, tawadu’, dan tidak merasa benar sendiri untuk bisa minta maaf dan memaafkan.
Mari kita jaga ke-Indonesia-an kita yg saling maaf-memaafkan ini. Salam. CakRK
Categories: Uncategorized Tags:

AGAMA ITU ILMIAH, TAUHID ADALAH GRAND-THEORY ILMU PENGETAHUAN

Agama itu bersifat ilmiah dan karenanya menjadi grand-theory semua ilmu pengetahuan manusia. Dalam Islam, grand-theory ini adalah tauhid. Dalam ilmu komunikasi, misalnya, komunikasi tauhid adalah grand-theory ilmu komunikasi. Disebut ilmiah bermakna bahwa semua kriteria kebenaran ilmu, seperti Teori korespondensi (Bertrand Russell, John Locke, David Hume) dengan konsep empirismenya; Koherensi (Aristoteles, Descartes, Spinoza) dengan konsep rasionalismenya; Metafisik (Guba & Lincoln) & Pragmatisme (Charles Pierce, John Dewey), sdh dikandung Al-Qur’an, bahkan sebelum para pakar itu memahaminya.

Contoh:

Apakah hari Kiamat itu ilmiah? Hari Kiamat adalah ilmiah karena mengandung semua teori kebenaran ilmu tersebut. Fenomena Hari Kiamat bukan hanya kebenaran metafisik, tetapi juga mengandung kebenaran korespondensi, konsistensi, dan pragmatis. Muslim mempercayai dua jenis kiamat, yakni kiamat besar (kubro) dan kiamat kecil (sughro). Kiamat kecil, yakni meninggal dunia (QS Al-Hijr, 15: 5, 99; An-Nahl: 70) atau Tidak ada makhluk yang hidup abadi karena setiap bernyawa akan merasakan mati (QS Al-Anbiya’, 21: 34-35; Al-‘Ankabut, 29:57) dan manusia diciptakan dan dimatikan (QS Al-Hajj, 22: 5-6), bencana alam atau musibah, seperti musnahnya umat-umat terdahulu, yaitu kaum Nuh, ‘Ad, Samud dan lainnya (QS Ibrahim, 14:9; Al-Furqan, 25: 35-40; Asy-Syu’ara’, 10-190) adalah berkorespondensi (bukti nyata) dengan ayat-ayat tentang kiamat dan memiliki konsistensi antar ayat-ayat tentang kebenaran kiamat (antara lain, QS 14:21: manusia dikumpulkan di hadapan Allah di Padang Mahsyar; QS 15: 85: Kiamat pasti datang; QS An-Nahl, 16: 1: ketetapan Allah, yakni tentang Hari Kiamat, pasti datang; QS An-Nahl: 27-34; QS Al-Isra’ 17: 13-15 dan Al-Kahf: 49 tentang dibukanya catatan-catatan perilaku manusia secara terbuka di hari Kiamat untuk dihitung; QS Al-hajj, 22: 1-17: bercerita tentang bukti-bukti kebenaran hari Kiamat; QS Al-Qiyamah, 75: 1-40: bercerita tentang kejadian yang akan dialami manusia di Hari Kiamat; QS Al-Qari’ah, 101: 1-11 tentang proses terjadinya kiamat; QS Al-‘Ankabut, 29:5 tentang kiamat adalah waktu pertemuan dengan Allah dan waktunya pasti datang); Dari bumi Kami ciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu untuk dikuburkan dan darinya Kami akan membangkitkan kamu pada kali yang lain (QS Thaha: 55). Jadi, meskipun kiamat besar belum terjadi, tetapi, kebenaran korespondensi dan konsistensi sudah terbukti. Semuanya juga mengandung kebenaran pragmatis, yakni bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kiamat mengandung manfaat bagi manusia untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan dan selalu beribadah kepadaNya dengan baik untuk mensyukuri anugerahNya (Baca QS Al-Maidah: 48). Berlomba-lomba dalam kebajikan ini juga konsisten dengan isi QS Thaha: 15, yakni Allah merahasiakan hari kiamat yang pasti datang agar manusia dibalas sesuai dengan usaha yang telah dilakukan (berbuat baik atau buruk).

Agama itu ilmiah….
dan Kitab Suci (Al-Qur’an) itu bukan fiksi

Wallahu ‘a’lam bishowab
Rachmat Kriyantono, PhD

Konsep “Berpikir” dalam perspektif Agama dan Ilmu

Agama telah mengajarkan manusia untuk berpikir, menggunakan akal pikirannya. Islam misalnya, sdh mengajarkan manusia berpikir, bahkan jd ayat pertama, iqra. Beberapa ayat lain pun Allah menyuruh manusia unt memahami, berpikir, menggunakan akalnya, agar bs paham KuasaNya. Contoh: terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (Al-Jasiyah, 45:3-5); Nah batasan berpikir dlm Islam: (1)  cara berpikir at cara iqra’ nya hrs bismirobbikalladzi khalaq, hrs sesuai fitrah Tuhan yg suci. Fitrah Tuhan itu terkandung pd semua ayat Quran, termasuk ayat ttg berpikir itu sendiri. Fitrah Tuhan yg suci ini adalah Haq…bukan fiksi. Manusia sbg makhluk berpikir adalah fitrah Tuhan. Agar fitrah ini berjalan baik mk manusia jg diberi fitrah lain, yakni makhluk beragama (homo religious). Hanya dg inilah maka iqra bismirobbikalladzi khalaq dpt dilakukan….. Jd, yg seharusnya adalah bukan aku berpikir maka aku ada” (kata Rene Descartes), tapi, “aku berpikir yg bismirobbi mk aku ada”…. Bahkan mengacu QS 2:30-34 bs jg “aku ada mk aku berpikir/iqra”, kedua pernyataan dari saya ini berdasar kenyataan bahwa innate idea, yg dibawa-besarkan Descartes, sebenarnya ide2 pemberian Tuhan, bukan tiba2 ada. Tuhan memberi meski hanya sedikit (QS 17), shg rasionalitas manusia tetap hrs di bawah rasionalitas ketuhanan. (2). Manusia hanya bisa berpikir ttg makhluk Allah, tdk bs berpikir ttg dzat Allah ((QS 3:190-191). Allah tidak memerintahkan manusia berpikir tentang dzat dirinya. Hal ini bisa dimaklumi karena (i) Allah adalah sang pencipta segalanya (khaliq), yang berbeda dengan segala sesuatu dan tidak ada yang serupa dengan Dia. Tidak ada satu konsep pun yang bisa digunakan rasio manusia untuk bisa menggambarkan dzat Allah ini. Manusia hanya diberikan penjelasan tentang dzat Allah, antara lain di QS 112:1-4 (Allah itu Esa, tempat meminta, tidak beranak dan diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan Dia); (ii) Sebagai makhluk, manusia tidak akan mampu berpikir tentang sang penciptanya karena jangkauan pikiran manusia terbatas. Segala upaya menggambarkan dzat Allah akan jatuh pada penjelasan spekulatif yang tidak jelas dan bisa menyesatkan. Pemikiran tokoh rasionalisme Spinoza yang meyakini bahwa “God exists only philosophically” (Calhoun, 2002 dikutip di Endraswara, 2012, h.59), yang bermakna hanya akal pikiran kita yang dapat menjangkau keberadaan-Nya, telah menjauhkan diri kita untuk mengamati secara langsung alam semesta sebagai sarana menemukan keagungan-Nya. “Berpikir” juga diajarkan dalam kitab suci yang lain. Al-kitab misalnya, mengajarkan di Lukas 12:54.

Jadi, kitab suci itu riil dan empiris, bukan fiksi atau fiktif. Tetapi, konsep empiris ini berbeda dg empirisme filsafat Barat. Jika cara berpikir versi Islam di atas (no 1 dan 2) ini kita lakukan maka kita semakin dekat kpd Nya. Agama dan ilmu adalah kesatuan, tdk boleh dipisah krn keduanya fitrah manusia. Wallahu a’lam bisshowab. CakRK.

Tunggu terbitnya buku saya Pengantar Lengkap Komunikasi: Filsafat, etika & perspektif Islam.

Ilmuwan Indonesia ilmuwan agamis

Oleh: Rachmat Kriyantono, PhD

Di tulisan ini, saya sampaikan tentang pentingnya pemahaman tentang keterkaitan ilmu dan agama. Hanya saja, saya sampaikan secara khusus dalam perspektif Islam, agama yang saya lebih memahaminya daripada agama yang lain. Bagi yang ingin mengaji dari perspektif agama selain Islam, silakan mempelajarinya sesuai dengan agamanya masing-masing. Tetapi, intinya, saya ingin sampaikan bahwa agama adalah basis teoritis atau grand theory segala ilmu yang dipelajari manusia.

Islam memiliki bnyk filsuf/ilmuwan yg memadukan akal, tasawuf dan nilai2 agama, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, ar-Razi, al-Kindi, ibnu Rusyd, al-Gozali, dll. Tdk sedikit yg dijadikan panutan bangsa Eropa. Bahkan, pemikiran ibnu Sina dan ibnu Rusyd, menurut Amstrong (2006), telah mendorong munculnya Renaissance di Eropa. Ibnu Sina pun dsb Avecena dan ibnu Rusyd dsb Averose. Ibnu Sina adalah penemu sistem peredaran darah sebelum dunia meng-klaim sbg temuan William Harvey (as-Sirjani, 2011). Sebelum Durkheim menemukan social cohessive, ibnu Khaldun menemukan Assabieh. Konsep assabieh ini yg sesuai ajaran Nabi SAW bahwa adin al mu’malah, agama adalah interaksi. Mestinya Khaldun dsb bpk sosiologi, bukan Durkheim (Ritzer & Godman, 2009). Semua Pemikir Islam tsb telah aplikasikan perintah Qur’an: “iqra bismirobbikalladzi khalaq” (bacalah/pelajarilah dg tetap atas nama Tuhanmu).
Pemikir muslim tsb yg mesti dijunjung dan dijadikan panutan muslim. Bukan menjunjung org yg memisahkan rasionalitasnya dg radionalitas Tuhan. Ilmu adalah agamis dan agama adalah ilmiah. Yg terjadi malah membela mati-matian filsuf yg pemikirannya acap kali menjauh dari prinsip ketuhanan, sekuler, yg bahkan berucap kitab suci adalah fiksi, serta sering bersikap solipsistik (kecongkaan intelektual, menganggap lbh pintar dr yg lain). Tdk sedikit yg memperlakukannya bagai ulama agama yg ucapannya diamini dg takbir. Apakah hanya krn ucapannya mendukung kepentingan politikmu?

Benar kata ibnu Rusyd: “agama bs membuat kejelekan menjadi “kebaikan”. Itu hanya terjadi, jika agama yg suci dijadikan pembungkus kepentingan duniawi. Mari, kita panuti ilmuwan yg “bismirobbikalladzi khalaq” dlm ber-“iqra” menghasilkan ilmu. Krn kata Nabi SAW: “tiada berilmu org yg tdk bermoral/ber-adab”, dan dasar segala moral adalah moral ketuhanan. “Ilmu berawal dari adab yg membawa pd amal” (Kamaludin, 2015). CakRK.

Baca jg di buku saya: Pengantar Lengkap Komunikasi: Filsafat dan Etika ilmu serta Perspektif Islam.