Home > Buku, Pengantar Ilmu Komunikasi > DOMINASI BARAT DALAM KAJIAN ILMU KOMUNIKASI (SALAH KITA?)

DOMINASI BARAT DALAM KAJIAN ILMU KOMUNIKASI (SALAH KITA?)

Dunia barat saat ini menjadi pusat episentrum kajian komunikasi yang berdampak pada penggunaan kacamata tunggal dalam memahami fenomena komunikasi di Indonesia, bahkan juga negara-negara di Asia lainnya. Teori-teori Barat sebenarnya belum tentu dapat sesuai dengan kondisi empiris masyarakat Indonesia atau Asia. “There was a tendency to extrapolate theoretically from such relatively unrepresentative nations as Britain and the United States.” (Wang, 2011, h.1). Saat ini, masih menurut Wang (2011), masih banyak akademisi menggunakan pendekatan universalist, yakni menganggap pandangan-pandangan Amerika dan Eropa masih diterima secara taken for granted.

Dominasi perspektif barat ini disebabkan:

  1. Ketertinggalan pendidikan di Indonesia akibat praktik imperialisme. Imperialisme ini memengaruhi pola pikir dan budaya yang tidak kondusif terhadap upaya pengembangan ilmu. Misalnya, kebebasan berpendapat yang sangat penting bagi kajian ilmiah dikekang selama ratusan tahun oleh imperialis;
  2.  Sistem politik kekuasaan otoriter yang juga membelenggu kebebasan akademik sampai era orde baru. Demi tujuan pelanggengan kekuasaan, penguasa membatasi pemikiran-pemikiran yang dianggap mengganggu stabilitas negara (baca: stabilitas kekuasaan). “stabilitas negara” bisa hanya sebatas jargon menutupi motif pelanggengan kekuasaan;
  3.  Penguasaan teknologi komunikasi dan bahasa Inggris oleh negara barat sebagai alat vital diseminasi kajian keilmuan. Ilmu komunikasi berkembang di negara barat, kemudian kerena mereka juga menguasai teknologi maka lebih memudahkan penyebaran ilmu ini ke negara lain. Negara barat lebih mudah menanamkan ideologi mereka melalui teknologi komunikasi yang mereka kuasai;
  4. Banyaknya sarjana Indonesia yang melanjutkan studi ke negara barat, seperti Australia, Amerika, Inggris atau Jerman sehingga membuat penggunaan perspektif negara barat makin besar. Hal ini, mengadopsi pernyataan Alwi Dahlan, membuat kita beranggapan bahwa ilmu komunikasi itu dilahirkan oleh pakar dari ilmuwan Barat.
  5. Kondisi yang disebut pada poin d di atas diperkuat dengan budaya akademik yang belum bangkit untuk berkembang, seperti belum banyaknya publikasi ilmiah, baik nasional maupun internasional sehingga sulitnya ditemukan referensi khas Indonesia. Termasuk belum tingginya rasa bangga terhadap karya anak bangsa di antara ilmuwan sendiri.
  6. Orientasi pasar lebih perspektif barat dan kurangnya kreativitas mengelola pesan yang berbasis kearifan lokal terkait budaya populer. Misalnya, produk budaya populer di televisi kita.
  7. Sistem birokrasi yang tidak berpihak, khususnya penyediaan infrastruktur sistem. Misalnya, lebih mudah dan murah mengedit atau mendubbing iklan visual dari luar negeri daripada memproduksi di dalam negeri.
  8. Ada upaya Barat untuk mengerdilkan kemampuan pemikiran Asia, termasuk Indonesia. Pemikiran filsafat, seperti Serat Jaka Lodang dan Serat Kalatida karya Ronggowarsito, Serat Joyoboyo, pemikiran Soekarno hingga karya arsitektur candi Borobudur, tidak dianggap karya pemikiran besar bangsa Indonesia, melainkan dianggap mitos, ramalan, klenik, dan hanya karya puisi atau langgam.
  9. Pingin baca lengkap? Tunggu penerbitan Buku saya: “Pengantar Lengkap Komunikasi: Filsafat, Etika & Perspektif Islam”, InsyaaAllah terbit Agustus 2018.
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*