Home > Opini Surat Kabar > Gadget dan Masyarakat Informasi: Gadget jadi alat bukan Memperalat

Gadget dan Masyarakat Informasi: Gadget jadi alat bukan Memperalat

Ini artikel saya ttg gadget dan dampaknya di masyarakat. Apa benar kita sekarang ini disebut masyarakat informasi?

http://m.timesindonesia.co.id/read/152096/20170717/073456/gadget-jadi-alat-bukan-memperalat/#!

Gadget dan Informasi

Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat

Home / Opini / Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat
Dibaca: 14.92k Kali
Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat Rachmat Kriyantono, PhD

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beberapa media, termasuk TIMES Indonesia, memberitakan pemblokiran yang dilakukan Kemenkominfo terhadap telegram serta wacana kemungkinan pemblokiran media sosial. Beberapa negara, di luar Indonesia, telah melarang warganya mengakses facebook dan lain-lain media sosial.

Hal ini mendorong kembali munculnya pertanyaan tentang penggunaan gadget (handphone, smartphone atau tablet) di tengah-tengah masyarakat sebagai sarana akses internet.

Survei terbaru Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) menemukan bahwa 132 juta dari 256 juta orang Indonesia sudah ber-internet ria. Jumlahnya mengalami kenaikan 51.8 persen dibanding survei tahun 2014.

Ditemukan juga bahwa 67.2 juta orang mengakses melalui gadget dan komputer, 63.1 juta orang mengakses dari gadget, dan 2.2 juta orang mengakses hanya dari komputer.

Meski penetrasi internet ini mayoritas masih berada di Pulau Jawa, yakni sekitar 86,3 juta orang (65 persen), tetapi, sudah cukup menunjukkan dampak dari booming gadget di Indonesia karena mayoritas penduduk berada di Pulau Jawa.

Sebagian dari kita menyebut masyarakat Indonesia telah masuk era masyarakat informasi, seperti yang ditulis Johan Naisbitt di buku Megatrends, yaitu produksi merupakan hasil interaksi antarmanusia akibat perkembangan inovasi teknologi komunikasi. Hal ini merupakan perkembangan dari era masyarakat industri, yakni produksi dihasilkan oleh interaksi antara manusia dengan alam yang terolah.

Tetapi, saya menganggap perkembangan teknologi komunikasi yang canggih dan masyarakat melek teknologi saja bukan jaminan bahwa masyarakat itu disebut masyarakat informasi.

Saya berpendapat bahwa suatu masyarakat baru dapat disebut masyarakat informasi bila ditandai oleh kebudayaan informasi, yaitu masyarakat “memiliki kesadaran informasi yang tinggi, mengandalkan informasi dalam segala bidang kehidupan sehingga mampu mengolah dan memanfaatkan informasi secara efektif dan efisien serta meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja.”

Di sinilah terjadi paradoks masyarakat informasi. Di satu sisi, booming-nya gadget dan akses internet, menunjukkan penetrasi teknologi komunikasi yang semakin canggih dan membantu segala aspek kehidupan.

Pergerakan manusia semakin cepat dan meluas karena gadget memudahkan kita berkomunikasi dengan kolega yang berjauhan tempat tinggalnya, memudahkan dalam mencari informasi, bertransaksi online, dan meningkatkan sendi perekonomian.

Handphone dan aneka gadget telah mendarah daging dan menjadi teman yang kita sapa saat bangun tidur serta teman terakhir saat menjelang tidur lagi.

Di sisi lain, alih-alih membawa masyarakat kita menuju masyarakat berkualitas, teknologi canggih ini cenderung mereduksi kualitas masyarakat, akibat kurang bijak dalam penggunaannya.

Jika kita tidak dapat mengelola penggunaan gadget, membuat kita kecanduan dan berdampak negatif. Sifat kecanduan ini tampak dari data bahwa orang Indonesia rata-rata mengecek ponselnya lebih dari 80 kali setiap hari.

Karenanya, saya menyebut masyarakat kita hanya dalam taraf sudah masuk era masyarakat teknologi, yakni masyarakat pengguna (user atau konsumen) teknologi, tetapi, belum dapat disebut masyarakat informasi.

Penggunaan gadget yang menjamur ini belum dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat agar berdaya saing dengan bangsa lain. Teknologi belum digunakan optimal untuk birokrasi, seperti pengurusan surat-menyurat, kearsipan atau pelayanan publik lainnya.

Budaya langsung bertemu masih mewarnai birokrasi pelayanan publik, yaitu masyarakat masih harus datang langsung ke kantor pelayanan publik meski sekadar menyerahkan foto kopi akta lahir (yang sebetulnya dapat discan dan diemail).

Mahasiswa banyak yang berinternet, tetapi, lebih banyak untuk main game atau hiburan lainnya, seperti facebook, Whatsapp, atau instagram. Hal ini diperkuat data bahwa pengguna facebook sangat besar, yakni 88 juta orang dan 94% di antaranya mengakses facebook dari gadget mobile.

Belum banyak mahasiswa yang menggunakan internet untuk eksplorasi jurnal-jurnal ilmiah untuk memperkaya pengetahuannya atau untuk referensi membuat skripsi, tesis atau disertasi.

Internet mendorong peningkatan budaya copy-paste untuk tugas-tugas pelajar, mulai dari siswa SD hingga mahasiswa.

Dari observasi di kelas selama saya mengajar, saya menemukan perubahan perilaku mahasiswa. Sebelum handphone banyak beredar (sekitar 1990-an), mahasiswa biasanya membaca, mengobrol, coret-menyoret di kertas atau termenung sendiri saat menunggu dosen datang di kelas.

Saat handphone menjamur (akhir 1999an-sekarang), mahasiswa menggunakan handphone (sms, telepon, game atau internet), mengobrol atau termenung saat menunggu dosen datang di kelas. Jadi, kebiasaan membaca digeser oleh penggunaan handphone.

Gadget membuat penurunan kualitas interaksi tatap muka langsung, masyarakat menjadi antisosial (isolasi diri) karena asyik bermain gadget, dan kohesi sosial pun berubah menjadi kohesi di dunia maya. Misalnya, sekelompok orang setuju membuat acara kemah bersama. Setelah tenda didirikan, semua orang masuk, dan tidak berapa lama, masing-masing sibuk dan terbuai bermain gadget.

Budaya cangkruk dan arisan berubah menjadi main gadget rame-rame atau diganti cangkruk virtual dan arisan virtual. Budaya senyum, sapa, salam pun menurun. Pelajar memilih berasyik ria pencet tombol dan geser layar sehingga melupakan guru dan dosen yang lewat di depannya.

Gadget membuat kita banyak melakukan tindakan komunikasi, tetapi, tindakan komunikasi tersebut belum tentu bermanfaat. Internet yang makin mudah diakses lewat gadget berpotensi mengancam nilai-nilai kebajikan agama.

Tidak sedikit interaksi melalui media sosial berisi hujatan, caci maki, fitnah, adu domba, menghina, dan olok-mengolok sesama, yang semuanya dilarang agama. Bahkan melalui gadget, orang lebih mudah mengakses kampanye kekerasan, pembullyan, persekusi, dan terorisme. Sifat persaudaraan anak bangsa pun tereduksi dan perbedaan serta permusuhan berpotensi melebar bagaikan jurang yang menganga.

Gadget juga membuat munculnya deteritorialisasi budaya menuju keseragaman budaya, yaitu budaya sudah tidak mungkin lagi dilokalisasi berdasarkan wilayah tertentu. Budaya Amerika tidak hanya terjadi di Amerika Serikat tapi juga diadopsi oleh masyarakat kita, seperti cara berpakaian (rok mini, banyak gadis yang bercelana pendek keluar rumah), cara berperilaku (seperti seks bebas) atau cara bermusik (musik rock, jazz, reggae, rapp, conutry).

Adler & Rodman (2006) mengatakan: “More communication is not always better… One key to successful communication, then, is to share an adequate amount of information in a skillful manner.” Menggunakan teknologi komunikasi dengan bijak dan untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing kita merupakan wujud dari ‘skillful manner’ tersebut.

Situasi ini mestinya membuat kita berpikir tentang dampak negatif gadget, selain kita akui dampak positifnya. Gadget hanyalah alat, bukan kita yang diperalat olehnya.(*)

* Penulis adalah Rachmat Kriyantono, PhD,  Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi
FISIP Universitas Brawijaya

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*