Home > Opini Surat Kabar > Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada

Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada

http://malang.timesindonesia.co.id/read/18992/2/20170714/090221/abah-anton-dan-branding-religiusitas-dalam-pilkada/

Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada

Home / Opini / Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada
Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada Rachmat Kriyantono, PhD

TIMESINDONESIA, MALANG – Saat berkendaraan di beberapa sudut Kota Malang, pandangan kita dapat menangkap baliho besar berisi foto Walikota Malang, Moch. Anton, dengan kopyah putih, baju muslim warna putih, dan berkalung sarung di pundak, mengajak masyarakat menyukseskan gerakan sholat berjama’ah di awal waktu.

Gerakan ini pun dilegalitaskan melalui surat edaran walikota. Menarik disimak ketika pemasangan baliho gerakan ini dilakukan di saat-saat mendekati pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Malang. Baliho-baliho di sudut kota ini adalah pesan simbolik, dan setiap simbol merepresentasikan makna tertentu dari motif si pembuatnya.

Karenanya, sesuatu yang wajar ketika muncul pertanyaan tentang motif gerakan ini. Tulisan ini berisi pandangan saya bahwa gerakan ini tidak lepas dari strategi komunikasi politik walikota yang biasa dipanggil Abah Anton ini menghadapi pilkada tahun depan.

Tampak bahwa Abah Anton ingin mengajak masyarakat Kota Malang untuk mengadopsi nilai-nilai perilaku bermasyarakat yang terkandung dalam sholat berjamaah. Abah Anton pasti menyadari bahwa mayoritas masyarakat Kota Malang beragama Islam (Muslim).

Data sensus terakhir (2010), penduduk Muslim di Kota Malang berjumlah 729,416 jiwa atau hampir 90% dari total populasi. Agar program pemerintahan dapat efektif meningkatkan kesejahteraan maka pesan-pesan program pembangunan harus diarahkan untuk perubahan perilaku masyarakat menuju kondisi lebih baik.

Sebagai komunikator, Abah Anton berusaha menyesuaikan pesan-pesan programnya sesuai dengan karakteristik target sasarannya yang mayoritas Muslim ini.

Dalam komunikasi politik, pemilihan key-message sangat diperlukan dalam upaya membranding seorang figur komunikator politik. Branding ini diperlukan sebagai positioning atau unique selling point bagi komunikator politik untuk membuat diferensiasi dengan pesaingnya.

Gerakan sholat berjama’ah yang di awal waktu ini tampaknya menjadi key-message bahwa Abah Anton adalah figur pelayan publik yang baik dan figur pencipta harmoni keguyuban dalam masyarakat, seperti yang tercermin dalam kearifan lokal gotong royong.

Melalui kampanye besar-besaran, salah satunya melalui baliho, pesan ini dapat tertancap di benak masyarakat sehingga menjadi merk-nya Abah Anton.

Mengapa sholat berjama’ah, bukan sholat sendirian, yang dipilih? Mengapa harus berjama’ah yang di awal waktu? Pertama, membidik nilai-nilai keagamaan mayoritas masyarakat merupakan prinsip dasar keefektivitasan pesan-pesan komunikasi, yakni homofili.

Prinsip ini berpotensi merangsang interaksi bersama akibat kesamaan identitas dan kepentingan antara komunikator dan masyarakat sehingga muncul ketersambungan hati (sambung rasa) antara Abah Anton dan warga masyarakatnya.

Kedua, ketersambungan kepentingan ini tampak dari kandungan nilai dalam sholat berjama’ah di awal waktu yang dapat menjadi dasar tata kelola pelayanan publik dan harmoni keguyuban berinteraksi warga Kota Malang.

Kandungan nilai sholat berjama’ah di awal waktu ingin dijadikan branding Abah Anton, antara lain membranding dirinya sebagai figur yang berniat baik dalam berdemokrasi dan pelayanan publik.

Hanyalah amalan-amalan tergantung pada niat-niat. Dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan” (HR Bukhari dan Muslim);

Figur yang menjaga interaksi menjalin silaturahim secara langsung dan memberikan pelayanan publik tanpa memandang status sosial dan aliran; Dalam sholat, kaya-miskin, tua-muda, atau orang berbeda suku berbaris rapat, berdempetan dan siapapun dapat berada di barisan depan; Figur yang berdisiplin waktu dalam pelayanan publik. Islam mengajarkan menghargai waktu (QS. Al-Ashr: 1-3). Sholat yang dilakukan tepat waktu lebih diutamakan.

Sesungguhnya sholat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman” (QS. 4: 103);

Figur yang mengajarkan untuk taat dan mendukung seorang pemimpin (imam). Program-program pemimpin dilaksanakan bersama, baik oleh aparat pelayan publik maupun oleh rakyat.

Abah Anton menyimbolkan dirinya sebagai pemimpin yang siap diingatkan jika salah, dengan cara dan kalimat baik-baik seperti yang diajarkan sholat berjama’ah. Tidak perlu teriak-teriak atau dengan paksa mendekati pemimpin untuk menggesernya; Jika pemimpin salah yang bisa membatalkan sholat (baca: membahayakan kepentingan masyarakat), dia akan sukarela mundur tanpa perlu disuruh mundur.

Penggantinya adalah otomatis orang yang paling dekat jaraknya dengan dia, yakni wakil walikota, tanpa perlu rame-rame.

Nilai yang lain, yakni sebagai figur yang mengajarkan memilih pemimpin berdasarkan kemampuannya lebih dulu. Sebagai incumbent, mudah bagi dia untuk mengampanyekan keberhasilan kepemimpinannya.

Jika pemimpin terpilih dalam proses demokrasi, dia mengajak  masyarakat dan pelayan publik (makmun) untuk langsung siap-siap mengikuti kebijakannya.

Tidak ada ada lagi protes-memprotes selama atau sesudah pemilihan; Figur yang menghargai perbedaan pendapat. Dalam sholat, mungkin ada imam yang baca doa qunut, jamaah pun ada yang qunut, tetapi, ada yang tidak baca.

Ada imam yang tidak baca qunut, tapi dengan memberi kesempatan jamaah yang ingin baca qunut. Cara takbir pun bermacam-macam. Berbeda dengan satu tujuan yakni membangun ibadah (kota) yang barokah. Namun tetap terdapat aturan-aturan (rukun sholat) yang harus sama dan tidak boleh dilanggar, di tengah perbedaan itu; Berdemokrasi dengan tetap memberi salam, yakni berdoa dan memberikan kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan antar-umat.

Strategi yang dilakukan Abah Anton ini memiliki peluang yang terbuka untuk mendapat respon positif masyarakat. Setidaknya, Abah Anton sebagai brand akan lebih tertancap dalam benak masyarakat jauh sebelum pesaing-pesaingnya muncul dalam kontestasi pilkada 2018.

Strategi ini saya sebut sebagai “branding religiousitas”, yakni menggunakan nilai-nilai, pernik-pernik atau atribut-atribut agama sebagai key-message pembrandingan.

Manusia, menurut Amstrong (2003) adalah “spiritual animals…homo sapiens is also homo religious.” Agama seringkali menjadi “alat mujarab” menggerakkan perilaku orang karena manusia adalah human religious sehingga agama adalah kebutuhan jiwa dalam bentuk kepercayaan terkait hubungan diri dengan sang pencipta.

Saat ini terjadi perang informasi bertubi-tubi dan tanpa batas melalui teknologi internet sehingga membuat overloaded-rationality sehingga memunculkan kebosanan rasionalitas. Dalam konteks inilah, Abah Anton mencoba menggali peluang dengan menggunakan agama dan kepercayaan sebagai key-message brandingnya.

Strategi ini makin meneguhkan branding Abah Anom selama ini melalui program-program religinya kepada masyarakat, seperti program wisata religi. Kita tunggu hasilnya di pilkada Kota Malang 2018.

*Penulis adalah Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi FISIP-Universitas Brawijaya

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*