Home > Serial Publics Relations > PUBLIC RELATIONS: HUBUNGAN PAKAIAN & OTAK

PUBLIC RELATIONS: HUBUNGAN PAKAIAN & OTAK

APA HUBUNGAN PAKAIAN DAN OTAK? Perspektif Public Relations,Budaya, dan Agama Islam

Oleh: Rachmat Kriyantono, Ph.D

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, UB Malang

Download PDF: APA HUBUNGAN PAKAIAN DAN OTAK

 

Pernah mahasiswa saya mengeluh, “kuliah kok aneh-aneh, mesti pakai baju rapi dan bersepatu, nggak boleh pakai yang mini dan ketat”. Lalu dia menambahkan, “apa hubungannya dengan kepandaian seseorang?; apa ada hubungan antara baju rapi, mini, ketat dengan otak?” Hal ini membuat saya teringat waktu saat saya masih kuliah S1. Di kampus tertempel gambar “sandal dicoret” di pintu depan fakultas. Beberapa dosen melarang mahasiswa yang menggunakan kaos oblong (tidak berkerah) dan mahasiswa yang memakai sandal untuk masuk ruang kuliah. Sempat beberapa kali mahasiswa melakukan unjuk rasa menentang aturan itu. Tapi, “kuasa dosen” seakan-akan menjadi representasi “kuasa Tuhan” di kelas. Dalam realita, banyak mahasiswa yang menuruti aturan itu –memakai kemeja atau kaos berkerah dan bersepatu. Meski pun terkadang masih jauh untuk dibilang rapi (definisi rapi pun bersifat relatif), memang pakai sepatu, tapi bagian belakangnya diinjak tumit, memakai kemeja dimasukkan di celana jean yang bolong dan lainnya.

Di tulisan ini, saya berusaha memahami sikap dosen atau pun mahasiswa. Mahasiswa merasa punya a right to chose (maklum anak muda), tapi dosen, seperti yang saya sebutkan, punya “kuasa dosen”, yaitu “wakil masyarakat” mendiseminasikan nilai-nilai kebajikan. Sebenarnya, kedua hal ini bisa sejalan. Perkuliahan adalah proses transfer ilmu, yang bisa berjalan baik bila kedua pihak terjadi komunikasi dua arah dan terjadi kontak yang seimbang dalam konteks transfer ilmu. Situasi ini dimungkinkan bila si dosen menyampaikan alasan-alsan di balik aturan-aturan yang dilakukannya secara logis akademik, bukan karena ego “kuasa dosen”. Terjadilah dialog yang resiprokal.

Kembali kepada keluhan mahasiswa saya di atas, saya ingin menyampaikan tiga perspektif untuk mencoba memahami aturan itu. Perspektif ini saya mulai dengan menjawab pertanyaan si mahasiswa: “apakah ada hubungan antara baju rapi, mini, ketat dengan otak?” Jawaban saya: “Tidak ada hubungannya”, karena itu “jangan dihubung-hubungkan.” Dari perspektif budaya, Saya melihat bahwa hal ini terjadi lebih karena cultural contextual. Faktor budaya kita. Di budaya barat, Australia misalnya, lebih “santai, easy-going”. Mahasiswa dan bahkan dosen, apalagi di musim panas, boleh-boleh saja pakai kaos oblong, celana pendek dan bersandal. Pertanyaannya, apakah perlu budaya kita dihilangkan? Klo perlu, sudah siapkah sikap mental masyarakat kita? Apa urgensinya dihilangkan? Apakah budaya kita bersifat negatif? Budaya muncul dan dipertahankan karena dianggap sesuai untuk dapat memudahkan kehidupan. Lha, di sini terjadi cultural lag, terjadi perbedaan referensi budaya antara mahasiswa dan dosen. Dosen dengan referensi budaya mainstream di masyarakat, sedangkan mahasiswa dengan referensi budaya alternatif (bisa bersumber dari mana pun, misalnya dari budaya barat)

Budaya, jelas, memengaruhi segala aspek kehidupan, termasuk penjelasan dan aplikasi teoritis. Dalam perspektif teoritis, budaya masyarakat kita masih cenderung menganggap penampilan fisik sebagai hal yang penting. Budaya Jawa, misalnya, bilang “ajine rogo soko busono” (badan dihargai karena baju yang dikenakan). Juga perlu diingat, budaya mencakup sekaligus merepresentasikan belief values, moral values masyarakat yang keduanya tercermin dalam bentuk nyata, yaitu agama. Karena itu, bicara budaya sangat terkait dengan agama. Di tulisan ini, ada beberapa perspektif yang saya tawarkan,:

1.      Komunikasi bersifat kontekstual. Artinya, perilaku komunikasi sangat dipengaruhi oleh dimensi-dimensi waktu, fisik, sosiologis, dan psikologi. Berpakaian adalah berkomunikasi. Pakaian adalah seperangkat symbol yang mengandung makna bagi orang lain. Misalnya, dimensi waktu: pakaian musim panas tentu beda dengan musim dingin; dimensi fisik: pakaian di ruang kuliah tentu berbeda dengan di tempat tidur; dimensi sosiologis: berpakaian di depan bos (apalagi sedang wawancara pekerjaan) tentu berbeda dengan di depan teman sekampung; dimensi psikologis: berpakaian di saat melayat tentu berbeda saat pesta ulang tahun. Makna symbol tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis2 dimensinya. Berpakaian hitam-hitam saat melayat disimbolkan turut berduka. Tapi, apa makna dari symbol pakaian merah-merah menyala? Tentu beda.

2.       We can’t not communicate. Apa pun yang kita lakukan, kita kenakan, kita omongkan, kita tidak lakukan, kita diam, bahkan ketika tidur pun berpotensi menimbulkan makna bagi orang lain, sengaja atau tidak kita sengaja, disadari atau tidak kita sadari. Kita adalah makhluk bersimbol. Bahkan ada yang menyebut hewan bersimbol (animal symbolicum), karena Simbol lah yang membedakan kita dengan hewan. Simbol dibentuk dan dimaknai oleh pikiran. Dalam perspekstif ini, mahasiswa yang berpakaian rapi mengandung makna berbeda dengan yang berpakain seadanya (kaos oblong). Secara umum, budaya kita menganggap pakaian rapi sebagai symbol “kesungguhan diri, menghormati orang lain bahkan juga status sosial”.

3.       You are PR on your self. Everybody is a PR. Dalam perspektif Public Relations (PR), dikenal dua macam pendekatan: PR sebagai metode dan PR sebagai teknik komunikasi. PR sebagai metode berarti kegiatan mengkomunikasikan perusahaan/individu dilakukan secara terorganisasi dan terstruktur. Sedangkan PR sebagai teknik komunikasi, berarti kegiatan mengomunikasikan perusahaan/individu dilakukan oleh individu-individu di dalam perusahaan/individu-individu itu sendiri. Jadi, setiap orang adalah PR bagi dirinya sendiri. Orang berpakaian rapi mem-PR-kan bahwa dia “sungguh-sungguh, mempunyai konsep diri yang positif dan menghargai orang”. Siapa diri anda, di-PR-kan dari simbol cara berpakaian anda. Dalam konteks organisasi, PR adalah living presentation bagi organisasi. PR juga menjadi orang yang bertanggung jawab menjaga good morals and manners dalam suatu organisasi. Karena itu, PR harus menjadi teladan dalam berbagai aspek, seperti kinerja, perilaku, termasuk dalam cara menghargai dan menempatkan diri.

4.       Teori Hallo Effect. Teori komunikasi ini (berasal dari rumpun psikologi) berasumsi bahwa orang cenderung melihat perilaku orang lain berdasarkan simbol-simbol tertentu yang melekat pada orang lain tersebut. Ada semacam primary effect of behavior. Contoh: di sebuah masjid, seseorang kehilangan sandal. Di situ ada dua orang, yang satu memakai jas, berdasi dan bersepatu, yang lainnya berpakaian lusuh tak bersepatu. Mana kira-kira yang dituduh?

5.  Ajaran Agama Islam jelas mewajibkan umatnya untuk menjaga, menghargai atau menghormati diri sendiri, keluarga dan orang lain melalui cara berperilaku dan berpakaian. Laki-laki dan perempuan mempunyai auratnya masing-masing. Selain berfungsi menjaga & menghargai diri, aurat juga berfungsi sosial untuk menjaga keteraturan sosial, misalnya, mencegah kejahatan seksualitas. Artinya, melindungi manusia dari insting hewani manusia itu sendiri. Ingat, manusia adalah “animal symbolicum” atau “social animal”. Hanya dengan “bersimbol”, manusia bisa beda dengan hewan. Agama dan budaya adalah simbol-simbol yang diciptakan untuk menjaga sifat kemanusiaan kita sendiri (ingat surat At Tin: “Manusia diciptakan sebaik-baiknya penciptaan, tapi, akan bisa menjadi serendah-rendahnya penciptaan jika dia tidak mematuhi ajaran Tuhannya –atau bisa saya katakan: jika manusia itu tidak mematuhi simbol-simbol yang diciptakan Tuhannya). 

Masyarakat kita adalah masyarakat agamis. Patut disyukuri. Artinya, kita punya simbol yang bisa mengatur insting kehewanan itu. Agama itu kemudian dimanifestasikan dalam kehidupan dalam bentuk budaya, salah satunya untuk memudahkan aplikasinya. Budaya adalah kharakter bangsa. Mainstream budaya kita tidak bisa lepas dari nilai agama. Selama budaya itu dianggap baik dan membantu memudahkan kehidupan, maka nilai-nilai budaya itu masih dipertahankan. Jadi, pertanyaannya: “Apakah nilai-nilai budaya kita itu perlu diubah? Penting nggak diubah? Siapkah masyarakat kita akan perubahan itu? Apakah budaya itu bertentangan dengan sistem nilai dan belief kita?” Jadi, mainstream budaya kita adalah “ajine rogo soko busono” maka mahasiswa mesti berpakaian rapi. rapi diartikan dg kemeja, kaos berkerah dan bersepatu.

Tentu, perkembangan teknologi komunikasi membuat munculnya fenomena deteritorialisasi budaya. Eskalasi interaksi antarbudaya semakin meninggi. Tidak ada lagi batasan budaya. Budaya Amerika atau western tidak hanya ada di Amerika, budaya K-Pop pun bukan hanya ada di Korea. Kita bisa menemukan cara berpakaian ala Amerika di Surabaya, Jakarta atau Malang dan yang melakukan pun bukan Michael, Hillary atau Pamela, tapi Wartini, Sulastri atau Sujiono, orang Jawa. Pertanyaannya, apakah adopsi budaya ini sesuai dengan nilai-nilai luhur dan agama kita?

Perlu dipikirkan bahwa memakai kemeja, kaos berkerah dan bersepatu itu gampang kok. Rapi tidak harus mewah bukan?  Apa untungnya pakai baju mini dan ketat? Apa enaknya jika aurat kita terlihat orang lain

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*